Warta

Ahli Waris H. Dardjat Sentil Manajemen RSHD, Ungkit Status Kepemilikan Lahan

KLIKSAMARINDA – Kinerja dan pengelolaan Rumah Sakit Haji Darjad (RSHD) disorot serius para ahli waris H. Dardjat. Terlebih, dua gedung RSHD saat ini, diyakini masih berdiri di atas lahan milik lima anak H. Dardjat. Yakni (almh) Hj. Siti Zaenab, (alm) H. Muhammad Mas’ud, (alm) H. Asmuriansyah, H. Achmadsyah, dan (alm) H. Ardisnayah.

Dalam press conference di Midtown Hotel –Kota Samarinda– Senin 21 April 2025 lalu, Muhammad Erwin Ardiansyah Dardjat –juru bicara keluarga dan salah satu ahli waris H. Dardjat– mengungkapkan fakta legalitas lahan yang digunakan RSHD.

Dia menjelaskan, sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) atas lahan yang digunakan RSHD masih tercatat atas nama lima orang ahli waris H. Darjad. Hal ini menunjukkan, secara hukum, lahan tersebut masih menjadi milik keluarga besar mendiang H. Dardjat.

“Sampai sekarang, sertifikat HGB-nya masih atas nama ahli waris Haji Dardjad, berlima. Mengenai apakah pernah ada perjanjian sewa atas lahan tersebut, setahu saya tidak pernah ada. Lahan itu dikonversi menjadi saham sebesar 75 persen di PT Medical Etam (ME),” ucaopnya, kepada awak media.

endari para ahli waris memiliki porsi saham mayoritas, Muhammad Erwin Ardiansyah Dardjat menyatakan, mereka belum pernah menerima pembagian hasil atau dividen dari RSHD. Bahkan, sebelumnya, para ahli waris yang bernaung di PT Dardjat Bina Keluarga (DBK), tidak dilibatkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di PT ME pada 2023 lalu.

“Biasanya kalau punya saham, ya ada pembagian dividen. Tapi sampai sekarang belum pernah ada. Dan belum ada juga RUPS tahunan, itu saja yang dapat saya sampaikan terkait lahan statusnya adalah Hak Guna Bangunan atas nama ahli waris Haji Darjad, berlima,” tegasnya.

Muhammad Erwin Ardiansyah Darjad mengakui, perjalanan RSHD hingga saat ini memang tidak berjalan mulus. Terlebih, setelah para pemegang saham di PT DBK wafat dan hanya menyisakan anak keempat H. Dardjat –H. Achmadsyah. Puncak kekisruhan ini pun terjadi pada 2023 lalu. Terutama saat kasus tunggakan gaji dan resign massal karyawan RSHD terjadi.

PT DBK yang hendak berbenah, sempat melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Sayang, hubungan antar ahli waris di PT DBK mengalami pasang-surut. “Tahun 2023 kami mencoba untuk melakukan RUPS, tetapi ada (keluarga, Red.) di PT DBK ada yang tidak cocok,” ujarnya.

Di tahun yang sama, RUPS justru juga dilaksanakan PT ME untuk merubah Anggaran Dasar perusahaan. Dalam RUPS itu, PT DBK tidak dilibatkan lantaran dianggap telah kedaluarsa atau tidak aktif. Makanya, dia mengatakan, kepengurusan PT ME dan susunan manajemen di RSHD saat ini, terbentuk tanpa melibatkan PT DBK. “Jadi manajemen saat ini adalah hasil RUPS tanpa PT DBK. Karena kami waktu itu belum mengurus peralihan, dianggap tidak aktif, tidak punya hak suara,” ungkapnya.

Akibat kisruh ini pula, keluarga besar H. Dardjat pun terdampak. Muhammad Erwin Ardiansyah Darjad menyebut, nama baik H. Dardjat yang selama ini dikenal sebagai tokoh masyarakat positif, jadi ikut terseret. “Walaupun kami sebagai pemegang saham, tapi selama ini kami tidak pernah terlibat dan tidak pernah dilibatkan dalam hal apapun tentang pengelolaan Rumah Sakit Haji Darjad. Jadi itu (polemic, Red.) merupakan tanggung jawab dari manajemen (RSHD, Red.),” urainya.

Sementara itu, KLIKSAMARINDA bukan tanpa upaya untuk melakukan wawancara langsung kepada manajemen RSHD. Sejak Senin 17 Maret 2025, media ini mencoba melakukan konfirmasi melalui call center dan datang langsung ke RSHD. Namun tak mendapat respon.

Bahkan, untuk kesekian kalinya, KLIKSAMARINDA kembali melakukan konfirmasi melalui call center RSHD, Selasa 22 April 2025, sekira pukul 15.24 Wita. Melalui salah satu petugas Front Office (FO), Rizka Adnaya, media ini sempat menjelaskan maksud konfirmasi kepada manajemen RSHD mengenai pelbagai masalah yang kini jadi atensi publik.

Tak hanya sampai disitu, KLIKSAMARINDA juga menyampaikan telah mengikuti prosedur yang diminta untuk janji temu kepada manajemen RSHD. Sayangnya, upaya tersebut tak membuahkan hasil. “Kalau untuk ngomong langsung ke manajemen kayaknya agak ulit,” aku Rizka Adnaya. (fai/dwi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *