Layar Tancep di Samarinda Bakal Sajikan Empat Film Alternatif Membaca Kehidupan Lewat Sinema
KLIKSAMARINDA – Warga Kota Tepian Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) bakal berkesempatan menikmati sajian film-film alternatif lewat program Layar Tancep bertajuk “Yang Terjadi di Antara Kita” yang digelar Sabtu, 26 Juli 2025, pukul 19.30 WITA.
Bertempat di Lapangan Bulutangkis PB Gunawan Amal, Jalan Lambung Mangkurat, Gang Tanjung RT 31, Layar Tancep ini menjadi ruang apresiasi sinema sekaligus refleksi sosial di ruang-ruang hidup warga.
Layar Tancep merupakan kolaborasi antara Muara/Org dan Sindikatsinema dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP. Di Samarinda, program ini dikurasi oleh Anggy Rusidi, desainer grafis dan penulis asal Bukittinggi, Sumatera Barat, yang telah lama aktif dalam gerakan seni dan film independen.
Empat film diputar dalam sesi ini:
1. Maq Rambut (2023) karya Alya Maolani,
2. Ngerenbes (Antara Aku, Kau dan Bekas Galian Mu) (2023) karya Gelar Soemantri & Tria Manyun,
3. Wayah Sirep (2022) karya Anggraeni Widhi Asih,
4. I Know The Way to Find Your Place (2025) karya Ragil Dwi Putra.
Keempat film ini mengangkat isu seputar ruang dan interaksi manusia, mulai dari sungai di Lombok Utara, gang sempit di Jakarta Selatan, hingga rumah yang penuh kehilangan. Mereka mengajak penonton untuk membaca ruang bukan sebagai latar pasif, tapi sebagai entitas yang memiliki daya: menciptakan kenyamanan, ketakutan, bahkan resistensi.
Ketua Yayasan Muara Kreasi Merdeka, Robby Ocktavian, menjelaskan bahwa program ini menjadi wadah ekspresi anak muda Samarinda, khususnya melalui medium audio-visual. Pihaknya ingin memfasilitasi karya-karya yang merepresentasikan realitas sosial melalui cara yang peka, kreatif, dan reflektif.
“Melalui program ini, kami akan melakukan penayangan film komunitas yang sudah dikurasi dan disesuaikan dengan kondisi kota Samarinda,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis 24 Juli 2025.
Sementara kurator Anggy Rusidi menyebut bahwa ruang dalam film bisa menjadi subjek yang berbicara melalui cahaya, suara, dan gestur. Ia mengajak penonton untuk menyelami bagaimana tubuh manusia, kekuasaan, dan relasi sosial terjalin erat dengan ruang.
Dengan durasi film yang bervariasi, dari 8 hingga 42 menit, penonton diajak menafsir ulang hubungan antara tempat dan identitas, serta cara ruang bisa menjadi cermin dari dinamika sosial di sekitarnya. Layar Tancep bukan sekadar pemutaran film, tapi juga sebuah undangan untuk berpikir ulang tentang ruang yang kita tinggali. (dwi)



