Festival Hudoq 2024 di Samarinda, Ritual Sakral Suku Dayak Bahau dalam Menyambut Musim Tanam Padi
KLIKSAMARINDA – Gemuruh suara gong dan dentuman gendang menggema di Lamin Adat Amin Ayaaq Syahrie Jaang, Jalan Batu Cermin, Sempaja Utara, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), pada Sabtu, 26 Oktober 2024.
Puluhan penari dengan topeng kayu besar dan balutan daun pisang serta daun kelapa menari dengan gerakan yang khas, menandai dimulainya Festival Hudoq yang akan berlangsung selama dua minggu ke depan.
Tari Hudoq, warisan budaya Suku Dayak Bahau yang kental dengan unsur mistis dan nilai estetika tinggi, kembali digelar dalam sebuah festival yang tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal tetapi juga wisatawan mancanegara.
Festival ini merupakan manifestasi dari ritual adat yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
“Festival Hudoq bisa dikatakan sebagai upacara adat yang mencerminkan rasa syukur dan terima kasih kami kepada alam dan Ame Tinge (Tuhan Yang Maha Esa),” jelas Arnoldus Jansen Kuleh, Ketua Sanggar Seni Apo Lagaan, saat ditemui di sela-sela acara.
Dalam tradisi Suku Dayak Bahau, Festival Hudoq terbagi menjadi tiga rangkaian utama: Hudoq Tahari, Hudoq Kawit, dan Hudoq Pakoq.
Hudoq Tahari, yang akan berlangsung selama tujuh hari ke depan, merupakan ritual syukuran atas selesainya kegiatan menanam padi atau manugal.
Para penari mengenakan topeng kayu dan berselimut daun-daun yang dikenal dengan sebutan “hudoq”, yang secara harfiah berarti “menjelma”.
Keunikan tari Hudoq terletak pada kostum para penarinya yang terbuat dari susunan daun pisang dan daun kelapa, dilengkapi dengan topeng kayu bergambar wajah yang menyeramkan namun sarat makna.
Setiap gerakan dalam tarian ini memiliki filosofi mendalam, melambangkan penghormatan kepada roh leluhur dan permohonan perlindungan bagi tanaman padi dari hama perusak.
“Mereka sekarang ini datang dari langit, turun ke dunia ini membawa kabar baik, membawa kesehatan, dan kemakmuran,” tambah Arnoldus, menjelaskan makna spiritual di balik tarian tersebut.
Jayanti, seorang warga Samarinda yang telah mengikuti Festival Hudoq selama beberapa tahun, mengungkapkan kekagumannya.
“Ini suatu kegiatan budaya yang luar biasa. Saya sudah mengikuti Hudoq Tahari, Hudoq Kawit, dan Hudoq Ponggoh selama beberapa tahun, dan setiap tahunnya selalu memberikan pengalaman yang berbeda,” ujarnya antusias.
Yang menarik, Festival Hudoq tidak hanya melibatkan orang dewasa tetapi juga anak-anak yang mengenakan kostum mini lengkap dengan topeng khasnya.

Hal ini menunjukkan upaya pelestarian budaya yang dilakukan secara lintas generasi.
Para penari bergerak dengan formasi yang dinamis, mengkombinasikan gerakan ke kiri, kanan, dan maju ke depan, menciptakan harmoni yang memukau para penonton.
Tarian ini tidak hanya dipentaskan di halaman Lamin, tetapi juga di dalam ruangan adat tersebut sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur.
Setiap detail dalam Festival Hudoq memiliki makna tersendiri, dari pemilihan kostum hingga urutan gerak tarian, mencerminkan kearifan lokal yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Festival Hudoq merupakan bukti nyata bahwa tradisi Suku Dayak masih terjaga dengan baik di tengah arus modernisasi.
Ritual ini bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan medium komunikasi dengan roh leluhur, pengungkapan rasa syukur, dan pengikat solidaritas masyarakat.
Melalui Festival Hudoq 2024 di Samarinda ini, Suku Dayak Bahau kembali menunjukkan kepada dunia bahwa warisan budaya Indonesia, khususnya Kalimantan, masih hidup dan berkembang.
Festival ini menjadi pengingat pentingnya melestarikan kearifan lokal di tengah pesatnya perkembangan zaman. (Suriyatman)




