News

BKSDA Kaltim Evakuasi Induk dan Bayi Orangutan di Muara Wahau Kutim

KLIKSAMARINDATim WRU Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim mengevakuasi dua individu orangutan, Rabu 31 Mei 2023. Evakuasi dua orangutan induk dan bayinya ini berlangsung di daerah jalan poros Sangatta-Simpang Perdau-Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim).

Setelah melakukan pemantauan pada Rabu pagi, Tim WRU BKSDA Kaltim memutuskan untuk melakukan rescue. Tim menangkap ibu dan bayi orangutan ini agar dapat dipindahkan ke hutan yang lebih aman.

Menurut penanggung jawab Tim Medis WRU BKSDA Kaltim, drh. Fajar, induk orangutan betina diperkirakan berusia 13-15 tahun. Sementara bayinya diperkirakan berusia 1 tahun.

“Tepat pada siang hari tim WRU BKSDA Kaltim dan CAN Indonesia berhasil menangkap Orangutan ini dan memindahkannya ke kandang angkut untuk berikutnya dibawa ke Hutan Lindung Merok yang berada di Kabupaten Berau,” ujar dr. Fajar melalui keterangan tertulis, Jumat 2 Juni 2023.

Selain itu, dr. Fajar juga menyatakan sejak awal pembiusan hingga pemindahan ke dalam kandang angkut, kedua individu Orangutan ini terlihat sangat sehat.

Karena itu, Tim WRU bergegas segera mungkin untuk melepaskan kedua individu orangutan tersebut ke habitatnya.

“Ini agar mengurangi stress yang mungkin terjadi akibat terlalu lama di kandang angkut,” ujar dr. Fajar menambahkan.

Evakuasi dan pelepasliaran kedua individu orangutan ke habitatnya di Hutan Lindung Merok yang berada di Kabupaten Berau dilakukan bersama-sama oleh Seksi Konservasi Wilayah I Berau, KPH Berau Tengah, dan Conservation Action Network (CAN) Indonesia, dan Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong.

orangutan
Pelepasliaran induk dan bayi individu orangutan oleh BKSDA Kaltim di Hutan Lindung Merok Berau, 31 Mei 2023. (Foto: CAN Indonesia)

Sebelumnya, pada Selasa, 30 Mei 2023, Tim WRU BKSDA Kaltim mendapat laporan bahwa adanya Orangutan dewasa di jalan poros Sangatta-Simpang Perdau-Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim).

Masyarakat yang melaporkan juga menyatakan bahwa Orangutan ini sudah beberapa kali masuk ke pemukiman masyarakat. Orangutan tersebut terutama memakan buah di kebun sekitar rumah.

Warga menemukan banyak sarang lama dan baru di lokasi tersebut yang mengindikasikan bahwa Orangutan yang dimaksudkan sudah cukup lama berada di sekitar kawasan ini.

Menurut dr. Fajar, pihaknya berharap dengan pelepasliaran Orangutan dan anakya di Hutan Lindung Merok dapat memberi kesempatan hidup dengan aman dan nyaman di habitatnya.

“Upaya penyelamatan satwa seperti ini sangat memerlukan dukungan semua pihak, baik itu lembaga pemerintah, LSM maupun masyarakat agar satwa liar, khususnya yang dilindungi termasuk Orangutan, dapat terus lestari di alam. (*)

Back to top button
DMCA.com Protection Status