Ragam

Andeskaraya Berdikari Perusahaan di Samarinda dengan Konsep Unik Kembangkan SDM (Bag-2)

KLIKSAMARINDA – Konsep lowongan pekerjaan nyeleneh hanyalah satu dari sekian konsep yang menjadi kultur di PT Andeskaraya Berdikari INC. Lebih dari itu, banyak hal-hal unik lain yang jadi kebijakan. Pengakuan itu sendiri datang dari direksi hingga karyawan.

Chyta Harini Dewi, misalnya. Perempuan 32 tahun itu mengaku, mulai bergabung di PT Andeskaraya Berdikari INC saat COVID-19. Menempati posisi sebagai direktur, Chyta –sapaannya– semula melihat kebijakan internal cukup normal laiknya perusahaan lain. Namun, selepas pandemi, kebijakan baru yang nyeleneh diterapkan untuk membentuk kultur dan karakter perusahaan. Salah satu yang paling terlihat ketika proses interview calon karyawan.

“Saya dulu interview-nya dua kali dan cukup serius. Mungkin karena berkaitan dengan teknis perusahaan waktu itu, ya. Saya langsung diwawancara pak Uza. Tapi makin ke sini, memang makin ke sana,” akunya, tertawa. “Meski ada dua kali interview, kami kadang bertanya hal-hal di luar pekerjaan. Tapi itu sebenarnya berkaitan dengan penilaian kami terhadap calon karyawan,” imbuh Chyta.

Perempuan berhijab ini mencontohkan, salah satu pertanyaan yang diajukan kepada calon karyawan adalah seputar keluarga mereka. Sepintas, pertanyaan ini tidak bermutu dan tidak ada hubungannya dengan lowongan pekerjaan yang mereka pilih. Seperti Urban Regional Planner, Civil Engineer, Geodetic Engineer, Drafter CAD/GIS, dan surveyor. Tapi ternyata, jawaban mereka cukup menentukan bagi Andeskaraya Berdikari INC untuk mengetahui seberapa peka calon karyawan dengan lingkungan sekitar mereka. “Kalau dia (calon karyawan, Red.) tidak peka dengan lingkungan terdekatnya, pasti nanti juga tidak peka dengan lingkungan kerja,” ucap Chyta. “Misalnya kami tanya, ayah ibunya lahir tanggal berapa, saudaranya hobi apa. Pokoknya begitu-begitu,” timpalnya, tertawa.

Ia juga memberikan contoh lain untuk menguji status calon karyawan apakah masih bekerja di tempat lain atau tidak. Caranya, dengan mengubah jadwal interview secara mendadak di hari yang sama. Di luar itu, cara ini juga menguji respon dan kesiapan calon karyawan dalam konteks kebutuhan darurat. “Kalau ada 5 calon karyawan, kami coba sampaikan informasi itu bersamaan dan melihat mana yang lebih responsif,” ungkapnya.

Di balik itu, kebijakan tak biasa juga berlaku dalam etos kerja Andeskaraya Berdikari INC. Ia menjelaskan, setiap pekerjaan pasti memiliki batas waktu. Terutama dengan pemerintah. Namun di luar kontrak tertulis, perusahaan punya kebijakan plus; mendampingi hingga selesai. “Misalnya nih kontrak kerja kami cuma 3 bulan sudah selesai. Tapi ternyata ada tambahan dan tanpa budgeting. Seperti ikut mendampingi ketika ada kunjungan, ikut hadir dalam pertemuan untuk menjelaskan secara teknis rencana pekerjaan. Meski secara bisnis rugi, kami tetap laksanakan itu. Intinya kami harus menyelesaikan pekerjaan dan membantu klien,” ulas Chyta.

Lain Chyta, lain pula Muhammad Alfirisi. Pemuda 28 tahun ini hanya berselang dua pekan setelah Chyta bergabung di Andeskaraya Berdikari INC. Ia mengaku, saat pertama kali bergabung, sempat mengalami culture shock. Sebab, kebijakan internal untuk mengembangkan karyawan ke level maksimal, dilakukan dengan cara-cara nyeleneh namun efektif. Salah satunya ketika ia diminta untuk melakukan persentasi kepada karyawan lain di sana.

“Jujur aja, dulu saya enggak bisa ngomong. Tapi karena treatment ini, saya jadi bisa bicara di depan orang banyak. Bahkan kepala dinas,” urai tenaga ahli Andeskaraya Berdikari INC ini.

Alfa –sapaannya– mengingat, untuk urusan melatih kemampuan bicara sekaligus pengembangan diri, perusahaan ini mewajibkan tiga hal setiap bulan. Pertama, membaca buku. Kedua, menonton film –bisa pula podcast di Youtube. Ketiga, mengikuti pelatihan. Tiga pilihan ini, wajib dibuat persentasi. Khusus untuk tugas terakhir –mengikuti pelatihan– persentasi dilakukan agar ilmunya bisa di-share kepada karyawan lain.

“Ini, kan bagian dari pengembangan diri, ya. Metodenya aja yang berbeda. Tiap bulan kita bebas pilih. Mau baca buku, nonton film, atau ikut pelatihan. Semuanya wajib dipersentasikan agar kami tidak sekadar melaksanakan kebijakan perusahaan,” ungkapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *