Warta

Mahakam Ulu dan YKAN Teken MoU Jaga Hutan Lewat Pembangunan Berkelanjutan

KLIKSAMARINDAPemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Pemkab Mahulu), Kalimantan Timur (Kaltim), resmi menjalin kerja sama strategis dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Kesepakatan ini ditandatangani di Jakarta pada Rabu 18 Juni 2025 dan berlaku selama lima tahun ke depan.

Kemitraan ini bertujuan memperkuat komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Fokus utamanya adalah menjaga kelestarian hutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Mahulu merupakan kabupaten termuda di Kalimantan Timur. Kabupaten ini terbentuk tahun 2013 dan terletak di hulu Sungai Mahakam.

Sekitar 86 persen wilayah Mahulu masih tertutup hutan alami. Luasan tersebut mencakup Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas, dan Hutan Produksi.

Bupati Mahulu, Bonifasius Belawan Geh, menegaskan komitmennya. Ia menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan menjadi pijakan utama kebijakan daerah.

“Kabupaten kami memiliki hutan hujan terluas di Kalimantan Timur,” kata Bupati. “Kemitraan ini penting demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

YKAN telah aktif di Kalimantan Timur sejak tahun 2002. Mereka menjalankan program konservasi, tata guna lahan, dan pengembangan ekonomi berbasis alam.

Salah satu program utama YKAN adalah SEGAR (2020–2024), yang didukung oleh USAID. Program ini telah diterapkan di Mahulu dan beberapa wilayah lain di Kaltim.

Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, mengapresiasi langkah Pemkab Mahulu. Ia menilai langkah tersebut sebagai keputusan visioner dalam menghadapi krisis iklim.

“Dalam 30 tahun terakhir, 30 persen hutan Kalimantan telah berubah fungsi,” ujarnya. “Mahulu menjadi contoh baik dalam menjaga kekayaan alam,” lanjut Herlina.

YKAN menerapkan pendekatan SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan). Metode ini melibatkan warga sebagai pelaku utama pelestarian hutan.

Di Mahulu, SIGAP diterapkan di lima kampung. Lokasinya meliputi Long Melaham, Batu Majang, Long Bagun Ilir, Long Bagun Ulu, dan Batoq Keloq.

Pendekatan ini terbukti mampu mendorong masyarakat menjaga hutan secara mandiri. Kolaborasi lintas sektor pun menjadi kunci keberhasilan.

Mahulu memiliki potensi ekologis yang sangat tinggi. Sebagian besar wilayahnya masih alami dan menjadi habitat keanekaragaman hayati.

Dengan kerja sama ini, pembangunan dan pelestarian bisa berjalan beriringan. Harapannya, Mahulu tetap hijau dan rakyatnya makin sejahtera. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *