KLIKSAMARINDA | Beda Nasib Media Massa di Tengah Wabah Corona
Ragam

Beda Nasib Media Massa di Tengah Wabah Corona

ilustrasi
Ilustrasi

KLIKSAMARINDA – Hampir seluruh media massa di dunia kehilangan pendapatannya sejak pandemi Covid-19 mulai mewabah. Kondisi ini disebabkan banyak pemasang iklan yang mengalami masa resesi akibat hal yang sama.

Meskipun mengalami penurunan pendapatan, namun selama masa pandemi terjadi peningkatan konsumsi media di berbagai belahan dunia, khususnya televisi dan berita online.

Hal tersebut diungkapkan oleh Advisor Communication & External Affairs Division PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Kristanto Hartadi, saat pelaksanaan Forum Diskusi Berkala Online melalui tajuk “Kiat Media Bertahan Di Era Pandemi” dengan mengacu pada penelitian Reuters Digital News Report 2020, Kamis 16 Juli 2020 lalu.

“Praktis hanya televisi yang dinilai masih mampu bersaing dengan media berbasis internet,” sebut Kristanto Hartadi, dalam diskusi tersebut.

Kris– sapaan akrabnya memaparkan, dari 80 ribu responden di 40 negara yang disurvei, diketahui bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap pemberitaan merosot ke angka 42 persen.

Selain itu, lebih dari 56 persen responden dari 40 negara tersebut tidak mampu membedakan antara fakta dan hoax yang ada di internet.

“Saat ini, media pemberitaan bukan lagi sumber informasi masyarakat. Karena mereka mendapat fakta alternatif dari media sosial dan berbagai platform yang potensial, meski kebenarannya masih patut dipertanyakan,” ujar Kris.

Walau pendapatan dari pemasang iklan merosot tajam, sahut Kris, masih ada beberapa cara yang dapat diadopsi oleh perusahaan media untuk bertahan di era pandemi seperti sekarang. Salah satunya yakni mengubah model bisnisnya agar tidak terpaku pada pendapatan iklan.

“Bisa melalui peningkatan langganan versi online,” ujar Kris lagi.

Tetapi ada berbagai langkah yang harus dilakukan sebelum menerapkan sistem berlangganan versi daring. Diantaranya yaitu memiliki konten yang berkualitas, kenyamanan, merasa independen, dan menyumbangkan nilai kepada masyarakat dengan merawat demokrasi.

“Semua hal tersebut harus dilakukan guna mendorong publik mau membayar konten media yang ditawarkan,” kata Kris.

Jika tidak ingin menerapkan sistem langganan versi online, Pria yang mengawali karirnya sebagai reporter selama puluhan tahun ini membeberkan, saat ini Google juga tengah melakukan penjajakan dan pembicaraan dengan para penerbit di tiga negara yakni Australia, Brazil dan Jerman.

Berdasarkan hasil penjajakan, Google akhirnya bersedia untuk membayar konten yang memiliki kualitas tinggi di Google News. Kebijakan itu akan diluncurkan pada medio akhir 2020.

“Langkah ini merupakan tanggapan atas kesulitan yang dialami banyak penerbit akibat pandemi Covid-19. Semoga ini bisa membantu kita semua guna bertahan di era pandemi saat ini,” pungkasnya. (*)

DMCA.com Protection Status