BPSDM Kaltim Gelar Sharing Session secara Virtual, ASN Dibekali Digital Detox

KLIKSAMARINDA – Mengawali 2026, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar sharing session bertajuk “Digital Pressure di Birokrasi: Strategi Menjaga Kesehatan Mental serta Kinerja ASN dalam Menghadapi Era Transformasi Digital secara virtual, Kamis (15/1/2026) kemarin.
Dalam sambutannya, Kepala BPSDM Kaltim, Nina Dewi, menyampaikan jika transformasi digital merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh birokrasi saat ini.
“Digitalisasi telah membawa berbagai manfaat signifikan. Mulai dari peningkatan efisiensi kerja, transparansi tata kelola pemerintahan, hingga percepatan pelayanan publik kepada masyarakat,” katanya, seperti dikutip KLIKSAMARINDA dari unggahan @beritapemprovkaltim di Instagram.
Namun demikian, Nina Dewi menegaskan, perubahan yang berlangsung begitu cepat juga memunculkan tantangan baru. Khususnya tekanan psikologis yang dikenal sebagai teknostress.
Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut untuk terus adaptif, responsif, dan produktif di tengah derasnya arus teknologi, tanpa mengabaikan kesehatan mental sebagai fondasi utama kinerja yang berkelanjutan.
“ASN harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, namun tetap menjaga keseimbangan mental agar kinerja tetap optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, tema yang kita angkat hari ini menjadi sangat relevan dan strategis,” ujarnya.
Melalui sharing session, BPSDM Kaltim hadir untuk meningkatkan pemahaman ASN mengenai fenomena teknostress dan dampaknya terhadap kondisi psikologis. Terutama di lingkungan kerja. Selain itu, shaing session ini juga membekali peserta dengan pelbagai teknik praktis. Seperti digital detox serta manajemen waktu yang efektif di era digital.
Di lain sisi, tujuan sharing session ini dimaksudkan untuk menjamin keberlangsungan kinerja ASN agar tetap optimal dan produktif. Kendati berada di bawah tekanan transformasi digital yang berlangsung cepat. Sekaligus mendorong terciptanya lingkungan kerja birokrasi yang tidak hanya berorientasi pada capaian kinerja, tetapi juga peduli terhadap kesehatan mental aparatur. (*)




