Terowongan Samarinda Dinilai Belum Layak Operasi, DPRD Tanggapi Munculnya Pekerjaan Tambahan Akibat Longsor
Kliksamarinda.com – Proyek terowongan Samarinda yang digadang-gadang menjadi ikon baru infrastruktur Kota Samarinda kembali menjadi perhatian publik. Meski progres pembangunan terus menunjukkan perkembangan, proyek bernilai ratusan miliar rupiah itu hingga kini belum dapat difungsikan.
Alasannya masih membutuhkan sejumlah pekerjaan tambahan, terutama terkait penanganan potensi longsor di area sekitar terowongan.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Arif Kurniawan, menilai persoalan yang muncul menjadi pelajaran penting mengenai perlunya perencanaan yang matang dan komprehensif sejak tahap awal pembangunan.
Menurutnya, kondisi fisik terowongan saat ini memang jauh lebih baik dibanding beberapa bulan lalu. Namun, masih terdapat sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum proyek tersebut dinyatakan layak digunakan masyarakat.
“Belum rapi, belum selesai semuanya. Makanya belum keluar surat kelayakannya,” ujarnya belum lama ini.
Ia mengungkapkan dirinya sempat mempertanyakan kepada pihak pelaksana proyek mengenai munculnya pekerjaan tambahan yang membutuhkan anggaran tidak sedikit dan menilai potensi risiko, termasuk kondisi geologi di kawasan terowongan, seharusnya sudah teridentifikasi sejak tahap perencanaan.
“Saya pernah tanyakan, kenapa potensi yang di atas itu tidak terdeteksi sejak awal sehingga harus ada tambahan pekerjaan lagi. Ini yang menjadi catatan,” katanya.
Salah satu persoalan utama yang muncul adalah potensi longsor di area atas terowongan. Kondisi tersebut baru teridentifikasi setelah proyek berjalan, sehingga pemerintah harus melakukan pekerjaan tambahan berupa penguatan struktur dan pengamanan lereng di sekitar mulut terowongan.
“Di atas itu ternyata ada potensi longsor yang tidak terdeteksi. Ketika longsor, supaya aman dan tidak menutup akses terowongan, akhirnya perlu dibuat tambahan pekerjaan lagi,” jelasnya.
Selain pengamanan lereng, DPRD juga mendorong pemerintah untuk menuntaskan sistem drainase pendukung di sekitar kawasan terowongan. Langkah itu dinilai penting guna mencegah munculnya persoalan baru ketika terowongan mulai beroperasi.
Meski mendukung penyelesaian proyek, Arif mengingatkan agar pemerintah memastikan tidak ada lagi pekerjaan tambahan yang terus bermunculan setelah proyek dinyatakan selesai. Menurutnya, proyek strategis harus memiliki batas pekerjaan yang jelas agar tidak terus menyedot anggaran baru.
“Jangan sampai sudah dikasih tambahan untuk penutupnya, nanti ada lagi tambahan lampunya, nanti ada lagi tambahan yang lain. Itu yang harus dipastikan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh pekerjaan pendukung semestinya dirancang sebagai satu kesatuan sejak awal, bukan dilakukan secara bertahap setelah masalah muncul di lapangan.
“Harus komprehensif. Jangan setelah selesai muncul lagi kebutuhan baru. Karena pada akhirnya yang digunakan adalah uang rakyat dan harus bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia menilai kebutuhan pekerjaan tambahan yang terus muncul di terowongan Samarinda menjadi indikasi bahwa sejumlah potensi risiko belum teridentifikasi secara optimal dalam proses perencanaan. Karena itu, ia berharap proyek terowongan Samarinda dapat menjadi bahan evaluasi untuk pembangunan infrastruktur besar di masa mendatang.
“Ini harus jadi pelajaran. Perencanaannya harus komprehensif, transparan, dan harus bisa dipertanggungjawabkan karena itu uang rakyat,” pungkasnya. (Adv)
Penulis: Harpiah AM



