Fokus

Sakralnya Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Samarinda, Harmoni Seni, Doa, dan Budaya

KLIKSAMARINDA – Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Samarinda, Minggu, 1 Februari 2026. Siang itu, langit Samarinda seolah ikut menunduk khidmat. Matahari bersinar lembut, angin bergerak perlahan, dan di halaman Vihāra Muladharma, doa-doa tak hanya dilantunkan, tetapi dilebur bersama logam, menjadi rupa, menjadi makna, menjadi warisan.

Agenda Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Samarinda menjadi penanda penting dalam perjalanan spiritual umat Buddha Theravāda Indonesia. Dalam suasana penuh Muditāsākāra, kebahagiaan yang lahir dari keberhasilan dan kebajikan, Vihāra Muladharma, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), menggelar Upacara Pengecoran Kedua Bagian Rupang Buddha Nusantara, sebuah rangkaian sakral dalam menyambut Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia.

Sejak pukul 14.00 WITA, umat Buddha dari berbagai penjuru Pulau Kalimantan, bahkan dari luar pulau, mulai memadati vihara. Langkah-langkah mereka ringan namun pasti, wajah-wajah teduh menyimpan tekad yang sama: menghadirkan kebajikan dalam bentuk yang akan hidup lintas generasi.

Adhitthāna yang Dilebur Bersama Waktu

Tak sekadar hadir, umat datang dengan batin yang disatukan oleh adhitthāna, tekad suci. Di tangan mereka tergenggam logam persembahan, kecil secara ukuran, namun besar dalam niat. Logam-logam itu kelak dilebur, disatukan, dan dibentuk menjadi Rupang Buddha Nusantara, simbol keyakinan, persatuan, dan kesinambungan Dhamma.

Momentum ini bukan sekadar ritual. Ia adalah peristiwa batin. Ketika logam dilebur oleh api, ego dilebur oleh kebajikan, dan perbedaan dilebur oleh keyakinan.

Pengecoran Rupang Buddha Nusantara menjadi wujud nyata bagaimana spiritualitas tidak berhenti di altar, tetapi bergerak, bekerja, dan membentuk peradaban.

Harmoni Budaya dalam Puja Bakti

Prosesi puja bakti berlangsung khidmat. Namun ada satu pemandangan yang membuat siapa pun terdiam sejenak: ragam busana adat dari seluruh Pulau Kalimantan yang dikenakan para petugas persembahan.

Mereka melangkah perlahan menuju altar Buddha, membawa dupa, lilin, bunga, air, dan buah—unsur-unsur sederhana yang sarat makna. Balutan pakaian adat dari berbagai daerah menghadirkan keindahan visual yang menyatu dengan keheningan spiritual.

Di sanalah Nusantara bicara tanpa suara. Budaya tidak berdiri terpisah dari agama, melainkan berjalan beriringan, saling menguatkan, saling menghidupkan.

Keberagaman bukan menjadi jarak, tetapi jembatan. Dan pada siang itu, jembatan itu bernama Rupang Buddha Nusantara.

Dari Tangan Seniman Menuju Sejarah

Di tengah prosesi, satu nama mendapat perhatian khusus: Sugito Sutarmin, atau akrab disapa Mas Gito. Seniman Amertha Art Studio asal Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ini dipercaya mengerjakan Rupang Buddha Nusantara—sebuah amanah besar yang tak hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga kedalaman batin.

Mas Gito bukan sosok asing dalam dunia seni monumental. Ia pula yang mengerjakan patung Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, di Sangasanga, Kutai Kartanegara (Kukar). Namun bagi Mas Gito, Rupang Buddha Nusantara memiliki makna berbeda.

Logam-logam persembahan dari umat diterimanya dengan penuh hormat. Saat dilebur, para Bhikkhu Sangha bersama umat Buddha melantunkan paritta-paritta suci. Getaran doa berpadu dengan panas api, menciptakan suasana yang terasa sakral sekaligus hening.

Di titik itulah seni dan spiritualitas benar-benar menyatu.

Zaman Ikonik dan Rupa yang Menjadi Objek Puja

Pimpinan Dhammadesanā dan pengecoran, Bhikkhu Sri Subhapañño Mahāthera, menyampaikan pesan mendalam yang menautkan sejarah, seni, dan agama.

“Ada satu masa agama itu harus bisa menyatu dengan seni,” ujarnya. “Seni tanpa agama kehilangan arah, agama tanpa seni menjadi kering.”

Beliau menjelaskan bahwa umat manusia kini hidup di zaman ikonik, sebuah era ketika citra, rupa, dan simbol menjadi sarana mendekatkan diri pada nilai-nilai luhur. Dalam sejarah Buddhisme, masa ikonik telah hadir sejak awal Masehi, ketika seni Gandhāra berkembang di bawah pengaruh Yunani-Romawi pada masa Raja Kaniska dari Dinasti Kushan.

Dari sanalah, rupa Buddha mulai diwujudkan dalam bentuk patung—bukan sekadar karya seni, tetapi sebagai objek puja, sarana kontemplasi, dan pengingat kebajikan.

Rupang Buddha Nusantara: Identitas Indonesia

Bhikkhu Sri Subhapañño Mahāthera menegaskan bahwa Buddha Rupang Nusantara bukanlah sesuatu yang asing, namun memiliki kekhasan Indonesia. Prototype-nya diambil dari Candi Sewu, Jawa Tengah, sebuah mahakarya Buddhis Nusantara yang sarat pengaruh budaya lokal.

“Buddha rupang Nusantara adalah produk Indonesia,” tegasnya.

Meski terpengaruh seni Gandhāra dan Mathura dari India, Rupang Buddha Nusantara telah menyerap identitas lokal—jubah yang tipis, tubuh yang tegap, dan ekspresi yang tegas—menjadi cermin perjumpaan budaya global dan lokal yang harmonis.

Kebersamaan yang Menjadi Ladang Kebajikan

Ketua Panitia Pengecoran Kedua Bagian Rupang Buddha Nusantara Wilayah Kalimantan, Thio Nofitarina Sulis, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih mendalam kepada Saṅgha Theravāda Indonesia.

Kepercayaan yang diberikan kepada Vihāra Muladharma, menurutnya, adalah kehormatan sekaligus ladang kebajikan. Kegiatan ini dihadiri oleh 30 bhikkhu, satu samanera, dua atasilani, serta sekitar 700 umat dari berbagai daerah.

Tak hanya dari Kalimantan—Balikpapan, Berau, Bontang, Malinau, Tanjung Selor, Nunukan, Ketapang, Tarakan, Kubu Raya—umat juga datang dari Jakarta, Bali, hingga Medan. Semua berkumpul dalam satu niat, satu kebajikan.

“Kegiatan pengecoran ini telah dihadiri oleh 30 bhiku, satu samanera dan dua atasilani serta didukung oleh kehadiran kurang lebih dari 700 umat yang terdiri dari berbagai umat dari berbagai daerah. Para umat yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah Kalimantan saja, tetapi juga dari pulau Kalimantan seperti dari Jakarta, dari Bali, dan juga dari Medan,” ungkap Thio Nofitarina Sulis.

Ia juga menyampaikan kebanggaan atas kehadiran putra daerah Samarinda yang mengabdikan diri sebagai anggota Saṅgha Theravāda Indonesia: Yang Mulia Titaweri Thera, Yang Mulia Ratana, dan Yang Mulia Jutindrio, teladan hidup bagi generasi muda Buddhis di Kalimantan.

Dari Sumatera, Kalimantan, Menuju Bali

Pengecoran di Samarinda bukanlah awal, dan bukan pula akhir. Sebelumnya, Upacara Pengecoran Perdana telah dilaksanakan di Vihāra Mahāsampatti, Medan, pada Minggu, 18 Januari 2026, sebagai perwakilan Pulau Sumatera.

Selanjutnya, pengecoran ketiga akan digelar di Bali pada 8 Maret 2026, melengkapi rangkaian besar yang menyatukan pulau demi pulau, batin demi batin.

Dan ketika seluruh bagian telah rampung, Rupang Buddha Nusantara akan ditampilkan secara utuh pada puncak perayaan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia, di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Minggu, 13 Desember 2026.

Warisan yang Tak Pernah Usang

Rupang Buddha Nusantara bukan sekadar patung. Ia adalah kisah tentang persatuan, tentang doa yang dilebur menjadi bentuk, tentang seni yang menemukan ruhnya, dan tentang Indonesia yang merawat kebajikan dalam keberagaman.

Di Vihāra Muladharma, siang itu, umat tidak hanya menyaksikan pengecoran logam Rupang Buddha Nusantara. Mereka sedang menyaksikan sejarah—yang suatu hari kelak akan dikenang, dipuja, dan diwariskan. Karena pada akhirnya, yang dilebur bukan hanya logam, tetapi juga waktu, menjadi abadi dalam rupa kebajikan. (*)

seedbacklink

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker