DPRD Samarinda

Samarinda Didorong Tinggalkan Pola “Buang dan Timbun” Sampah, PLTSa Dinilai Jadi Solusi Masa Depan

Kliksamarinda.com – Persoalan sampah di Kota Samarinda tidak lagi bisa diselesaikan dengan pola lama yang hanya berfokus pada pengangkutan dan penimbunan. Di tengah meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi, DPRD Kota Samarinda menilai sudah saatnya daerah ini beralih menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari, menegaskan bahwa tekanan terhadap fasilitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terus meningkat setiap tahun. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa sistem pengelolaan sampah yang selama ini diterapkan tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan kota yang terus berkembang.

Menurutnya, perlu ada perubahan kebijakan secara mendasar agar penanganan sampah tidak hanya berorientasi pada pembuangan akhir, melainkan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

“Kalau pola yang digunakan masih sebatas mengangkut lalu menimbun, persoalan ini akan terus berulang. Kota sebesar Samarinda membutuhkan sistem pengolahan yang mampu mengurangi beban TPA sekaligus memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat,” ujarnya pada Jum’at, 29 Mei 2025.

Salah satu solusi yang dinilai layak dipercepat adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Teknologi tersebut dipandang mampu mengubah timbunan sampah menjadi sumber energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap lahan pembuangan akhir.

Ia menilai keberadaan PLTSa dapat menjadi langkah strategis dalam transformasi pengelolaan limbah perkotaan.

“Selain mengurangi volume sampah, fasilitas tersebut berpotensi mendukung kebutuhan energi dan meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan di Samarinda,” tuturnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh kehadiran teknologi. Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Celni menerangkan bahwa kebiasaan mencampur sampah organik dan anorganik masih menjadi salah satu kendala terbesar yang menghambat proses pengolahan sampah secara optimal.

“Pengelolaan sampah tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengurangi sampah harus tumbuh menjadi budaya bersama. Di situlah sebenarnya titik awal penyelesaian masalah ini,” tegasnya.

Selain mendorong edukasi masyarakat, Celni juga meminta organisasi perangkat daerah terkait melakukan evaluasi terhadap kebutuhan sumber daya manusia di sektor kebersihan.

“Pelayanan pengangkutan dan pengelolaan sampah yang optimal hanya dapat tercapai apabila didukung tenaga kerja yang memadai,” katanya.

Menurutnya, sistem pengelolaan sampah harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari proses pengumpulan, pemilahan, pengangkutan hingga pengolahan akhir. Tanpa pembenahan di seluruh rantai pengelolaan, investasi infrastruktur dan teknologi dikhawatirkan tidak akan memberikan hasil maksimal.

“Kalau Samarinda ingin menjadi kota yang bersih dan berkelanjutan, maka pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh. Infrastruktur diperkuat, teknologi disiapkan, dan partisipasi masyarakat juga harus dibangun secara serius,” katanya.

Celni menegaskan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern seperti PLTSa tidak boleh hanya dipandang sebagai proyek fisik semata.

“Yang lebih penting adalah memastikan sistem tersebut mampu beroperasi secara berkelanjutan dan tidak menjadi beban baru bagi keuangan daerah di masa mendatang,” tuturnya. (Adv)

Penulis: Harpiah AM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *