DPRD Samarinda

Novan Ungkap Turunnya Kemampuan Matematika dan Bahasa Asing, Minta Pemerintah Pusat Evaluasi Sistem Pendidikan

Kliksamarinda.com – Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, mengungkap penurunan capaian siswa pada dua mata pelajaran penting, yakni matematika dan bahasa asing. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi Kementerian Pendidikan, terutama di tengah tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ia mengatakan, penurunan kemampuan siswa pada kedua mata pelajaran itu tidak bisa hanya dilihat dari sisi statistik nasional semata. Pemerintah pusat perlu menelusuri akar persoalan yang menyebabkan menurunnya kompetensi peserta didik.

“Kalau secara nasional terjadi penurunan pada dua mata pelajaran tersebut, tentu harus menjadi bahan review bagi Kementerian Pendidikan. Apa sebenarnya kendalanya? Jangan hanya melihat angka statistiknya saja, tetapi harus dicari penyebabnya,” ujarnya.

Ia menilai matematika dan kemampuan berbahasa merupakan keterampilan dasar yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, penurunan capaian siswa pada bidang tersebut perlu mendapat perhatian khusus.

“Berhitung dan berbahasa adalah kemampuan mendasar yang sangat dibutuhkan dalam keseharian. Kalau terjadi penurunan, berarti ada sesuatu yang harus segera diperbaiki,” katanya.

Menurut Novan, persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh kurikulum. Ia menilai materi matematika maupun bahasa asing merupakan pelajaran dasar yang telah diajarkan secara konsisten selama puluhan tahun.

“Saya tidak melihat ini murni persoalan kurikulum matematika dan bahasa asing itu pelajaran mendasar. Dari dulu substansinya tidak banyak berubah. Yang perlu dicari adalah faktor lain yang menyebabkan penurunan kualitas pembelajaran,” tegasnya.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah ketersediaan tenaga pendidik. Novan mengungkapkan bahwa Kota Samarinda saat ini masih menghadapi kekurangan ratusan guru akibat keterbatasan rekrutmen tenaga honorer dan belum optimalnya pemenuhan kebutuhan guru dari jalur aparatur sipil negara.

“Kota Samarinda saat ini kekurangan lebih dari 500 guru bahkan hingga Desember nanti diperkirakan kekurangan itu bisa mencapai lebih dari 700 orang. Sementara penambahan dari jalur CPNS hanya sekitar 260 orang,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, ia menjelaskan dengan memaksa sekolah mengandalkan guru lepas yang dibiayai melalui dana BOS daerah maupun BOS nasional. Namun, keterbatasan anggaran berdampak pada kesejahteraan dan pengembangan kompetensi tenaga pendidik.

“Sekolah akhirnya hanya bisa menggunakan guru lepas yang dibiayai melalui BOSDA maupun BOS. Persoalannya, kompetensi mereka belum tentu sesuai kebutuhan karena kesejahteraannya juga masih jauh dari ideal,” jelasnya.

Karena itu, ia meminta pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan tenaga pendidik di daerah dan menilai berbagai regulasi yang ada saat ini justru menjadi kendala bagi pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan guru.

“Hari ini daerah terus terkendala regulasi dari pemerintah pusat. Sementara kebutuhan guru sangat mendesak. Karena itu, pemerintah pusat harus hadir memberikan solusi agar kualitas pendidikan bisa terus ditingkatkan,” pungkasnya. (Adv)

Penulis: Harpiah AM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *