PR Kaltim di Usia 69 Tahun, Cerita Gudang Desa yang Berubah jadi Ruang Kelas
KLIKSAMARINDA – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) baru saja usai. Panggung megah, baliho besar, dan angka fantastis Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) senilai Rp21 triliun menjadi simbol kematangan sebuah provinsi kaya sumber daya.
Namun jauh dari sorotan seremoni HUT Kaltim, ada cerita sunyi dari desa bernama Selerong, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Cerita tentang sekolah tanpa gedung. Tentang ruang kelas di gudang desa. Tentang guru yang mengajar lintas sekolah, lintas mata pelajaran, bahkan lintas harapan.
Di Desa Selerong, dua sekolah menengah kejuruan berdiri tanpa benar-benar “berdiri”. SMK Negeri 1 Sebulu (filial) dan SMK Negeri 3 Sebulu menjalankan kegiatan belajar mengajar di bangunan yang jauh dari kata ideal. Sebuah gedung bulu tangkis desa disulap menjadi ruang kelas. Gudang desa yang sebelumnya menyimpan peralatan kini menjadi tempat papan tulis digantung dan bangku disusun untuk kegiatan pembelajaran.
Setiap pagi, ratusan anak datang membawa mimpi yang sama seperti pelajar lain di Kalimantan Timur. Jumlahnya tidak sedikit.
Sekitar 233 siswa dari desa-desa sekitar Selerong belajar di tempat ini. Beberapa bahkan datang dari kecamatan lain, seperti Muara Kaman.
Mereka menempuh jarak, menantang cuaca, dan menerima kenyataan bahwa sekolah mereka bukanlah bangunan permanen.
Malik Ewin, salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut, menyebut kondisi ini sudah berlangsung lama. Saat ditemui di sela aktivitas mengajar, Malik bercerita dengan nada tenang, meski realitas yang disampaikan terasa getir.
“Awalnya sekolah ini filial dari SMK Negeri 1 Sebulu. Tapi beberapa tahun lalu, Pemprov Kaltim membentuk SMK Negeri 3 di sini,” ujarnya Senin 12 Januari 2026.
Secara administratif, sekolah baru sudah lahir. Namun secara fisik, gedungnya belum pernah benar-benar ada. Ironisnya, hingga kini belum ada penempatan guru khusus untuk SMK Negeri 3 Sebulu. Seluruh proses belajar mengajar masih ditopang oleh guru-guru dari SMK Negeri 1 Sebulu.
“Selama dua tahun ini kami menerima siswa SMK Negeri 3, tapi yang mengajar tetap guru SMK Negeri 1,” kata Malik.
Keterbatasan guru membuat satu orang pengajar harus merangkap banyak mata pelajaran. Malik sendiri mengajar pertanian sekaligus pendidikan agama.
Guru lain bahkan ada yang mengampu hingga lima mata pelajaran, terutama untuk bidang eksakta seperti matematika dan IPA.
Memang berat, tapi itu tantangannya. Tetapi dirinya senang karena bisa belajar lagi, dan yang paling penting bisa membantu anak-anak di sini menyelesaikan sekolahnya.
“Jumlahnya tidak banyak jadi kami yang mengajar disini harus mengajar mata pelajaran lebih dari satu, seperti saya mengajar pertanian dan juga mengajar Agama,” tutur Malik
Namun semangat guru-guru ini tak selalu cukup untuk menjawab semua persoalan. Kapasitas sekolah yang terbatas membuat banyak anak desa sekitar belum tertampung. Sebagian terpaksa bersekolah lebih jauh. Ada pula yang harus mengikuti pembelajaran daring dari desa masing-masing.
“Ada anak-anak di beberapa desa yang terpaksa belajar di desanya dengan cara online dan itu pun tergantung dengan kekuatan internet di desanya. Jadi kalau ada gangguan mereka tidak bisa bersekolah,” jelas Malik.
Harapan sebenarnya sudah disiapkan dari bawah. Pemerintah Desa Selerong telah menyediakan lahan seluas dua hektare untuk pembangunan sekolah. Lahan itu menunggu. Anak-anak menunggu. Guru-guru pun menunggu.
Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur untuk membangun gedung sekolah tersebut.
“Kami berharap agar pemerintah bisa segera membangun sekolah tersebut, sehingga masa depan anak anak didesa Selerong dan desa desa sekitar bisa lebih baik lagi,” kata Malik.
Ironisnya, di tengah segala keterbatasan, prestasi justru tumbuh. Malik mengungkapkan, siswa-siswi SMK Negeri 1 Sebulu (filial) dan SMK Negeri 3 Sebulu telah menorehkan berbagai prestasi akademik dan non-akademik di tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara.
“Anak anak disini memiliki potensi yang cukup baik di bidang akademik dan non akademik, dan ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan atas lomba lomba yang diikuti oleh siswa dan siswi SMK di Selerong,” katanya.
Fakta di lapangan itu akan menjadi PR Pemprov Kaltim di usia ke-69. Kalimantan Timur mungkin sudah matang secara angka dan anggaran. Namun cerita dari Selerong menjadi tanda pembangunan belum sepenuhnya merata.
Di balik APBD triliunan rupiah, masih ada ruang kelas di gudang desa. Masih ada guru yang mengajar dengan keterbatasan. Dan masih ada anak-anak yang menggantungkan masa depan pada kesabaran dan harapan.
Perayaan HUT Kaltim boleh usai. Tapi pekerjaan rumah bernama pendidikan masih menunggu untuk benar-benar diselesaikan. (*)
Penulis: Suriyatman




