Teror Ketua BEM UGM, KIKA Sebut Kebebasan Akademik Sedang Diserang

KLIKSAMARINDA – Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) menilai teror terhadap Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, sebagai alarm keras bagi dunia kampus. Kritik dibalas intimidasi, suara dibungkam pakai teror—ini bukan demokrasi, tapi degradasi.
Dalam pernyataan resminya, Selasa 17 Februari 2026, Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik mengecam keras intimidasi yang dialami Tiyo usai menyuarakan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Teror itu tak hanya menyasar Tiyo, tapi juga merembet ke keluarga.
Menurut KIKA, pola ini jelas: kritik dilawan tekanan.
“KIKA mengutuk keras atas tindakan teror dan serangan terhadap kebebasan akademik ini,” tulis KIKA, Selasa 17 Februari 2026. Sikap ini menjelaskan kondisi kebebasan akademik yang diuji, kali ini bukan cuma wacana basi.
Pernyataan itu bukan sekadar teks—tapi sikap. KIKA bahkan menggelar diskusi media terbuka via Zoom, termasuk Tiyo Ardianto sebagai narasumber serta akademisi lintas kampus. Antara lain Masduki (KIKA/UII), Dhia Al Uyun (KIKA/Universitas Brawijaya), Muhammad Ridha (KIKA/UIN Alauddin), Rosnida Sari (KIKA/Universitas Jember), dan Herdiansyah Hamzah (KIKA/Universitas Mulawarman).
Teror yang dialami Tiyo bukan isapan jempol. Ia mengaku menerima ancaman penculikan dari nomor tak dikenal, hingga mengalami penguntitan dan pemotretan oleh dua pria dewasa bertubuh tegap pada 9–11 Februari 2026. Meski begitu, Tiyo menegaskan tidak akan mundur. “Kami tidak takut bersuara,” katanya.
Kasus ini bermula dari kritik tajam BEM UGM terhadap tragedi kematian siswa SD di Ngada, NTT, yang diduga bunuh diri karena tak mampu membeli alat tulis. Tragedi itu terjadi justru di tengah euforia pencapaian program MBG.
Dalam orasinya di Bundaran UGM, 13 Februari 2026, Tiyo menyebut MBG sebagai singkatan dari “Maling Berkedok Gizi”, menyentil ironi anggaran triliunan rupiah di tengah realitas pahit pendidikan dasar. Video orasi Tiyo ini viral di media sosial.
BEM UGM kemudian mengirim surat resmi kepada UNICEF, meminta penguatan perlindungan anak dan peninjauan prioritas anggaran pendidikan. Surat itu juga menyinggung Presiden Prabowo Subianto, dengan kritik keras soal arah kebijakan yang dinilai abai pada nilai kemanusiaan.
Melalui surat itu, Tiyo menyampaikan pesan kepada UNICEF, “Help us to tell Prabowo how stupid he is as a president (Bantu kami beri tahu Prabowo Subianto betapa bodohnya dia sebagai presiden).”
Pernyataan Tiyo yang viral, termasuk frasa kontroversial dalam orasinya, memicu pro dan kontra. Namun bagi KIKA, substansinya jelas: mahasiswa menjalankan fungsi kontrol sosial. Ketika kritik dibalas teror, yang terancam bukan satu orang, tapi ekosistem kebebasan akademik itu sendiri.
KIKA menegaskan, kampus seharusnya jadi ruang aman bagi pikiran kritis, bukan ladang takut. Jika mahasiswa dibungkam hari ini, demokrasi bisa ambruk esok hari. Suara kampus bukan musuh negara, ia justru alarmnya. (*)




