Warta

Sangkulirang-Mangkalihat Simpan Cadangan Karbon 275,57 Gigaton

Kliksamarinda.com – Upaya menjadikan Bentang Alam Sangkulirang-Mangkalihat di Provinsi Kalimantan Timur sebagai Geopark Nasional memasuki tahapan penting. Tim Verifikasi Geopark Nasional dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan verifikasi lapangan pada 6–10 Juli 2026, untuk menilai kesiapan kawasan yang diusulkan sebagai Geopark Nasional tersebut.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa verifikasi lapangan ini menjadi tahap krusial karena hasilnya akan menjadi salah satu pertimbangan penting pemerintah dalam menetapkan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional. “Selain menilai kekayaan geologi, tim verifikasi juga akan meninjau aspek pengelolaan kawasan, konservasi keanekaragaman hayati, pelibatan masyarakat, serta pengembangan ekonomi lokal yang menjadi syarat utama dalam pengelolaan geopark berkelanjutan,” ujar Sri saat menyambut tim verifikasi di Samarinda, 6 Juli 2026.

Sangkulirang-Mangkalihat merupakan salah satu bentang alam karst penting di dunia yang terhampar di dua kabupaten yaitu Kutai Timur dan Berau. Taman bumi seluas 1,8 juta hektare ini menyimpan kekayaan geologi yang unik sekaligus menjadi habitat berbagai spesies penting serta ruang hidup masyarakat yang menyimpan warisan budaya bernilai tinggi. Keunggulan tersebut menjadikan Sangkulirang-Mangkalihat memenuhi tiga pilar utama geopark, yakni geologi, keanekaragaman hayati, dan kebudayaan.

Beberapa keunikannya yaitu koleksi batuan purba dari zaman kapur serta jejak endapan delta sungai purba yang terbentuk pada periode sekitar 141 juta hingga 5 juta tahun lalu. Kemudian bentang alam karst yang beragam, serta sejumlah gua yang menyimpan lukisan dinding purba (gambar cadas), sebagai bukti wilayah ini telah menjadi pusat kehidupan manusia sejak masa prasejarah.

Selain itu Sri menambahkan, bentang alam Sangkulirang-Mangkalihat juga berfungsi sebagai benteng iklim global. Berdasarkan penelitian, kawasan ini diperkirakan menyimpan cadangan karbon hingga 275,57 gigaton karbon (Gt-C), baik dari ekosistem hutan maupun yang terbesar dari formasi batu gamping. “Dengan cadangan karbon tersebut, emisi Provinsi Kalimantan Timur mampu ditekan hingga 16,04 persen dan emisi nasional sebesar 0,74 persen setiap tahun,” sebut Sri.

Perjalanan Panjang dan Pelibatan Masyarakat Lokal

Proses pengusulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dimulai secara resmi pada 2019. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menginisiasi pengusulan tersebut melalui inventarisasi keragaman geologi sebagai langkah awal penyusunan dokumen geopark.

Upaya tersebut membuahkan hasil pada 2024, ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan Surat Keputusan yang menetapkan kawasan tersebut sebagai Situs Warisan Geologi (Geosite). Penetapan yang mencakup 11 geosite di Kabupaten Kutai Timur dan 15 geosite di Kabupaten Berau ini, menjadi fondasi ilmiah dan hukum dalam proses pengajuan status Geopark Nasional.

Sejalan dengan proses pengusulan tersebut, berbagai upaya konservasi dan pelibatan masyarakat terus dilakukan di wilayah Sangkulirang-Mangkalihat. Pemerintah, YKAN dan mitra lainnya mendorong pendekatan pengelolaan berbasis masyarakat melalui berbagai program penguatan kapasitas desa (kampung), seperti Program SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) dan juga Perhutanan Sosial dengan berbagai skema termasuk Hutan Desa.

Melalui program tersebut, masyarakat didorong untuk menyusun rencana pengelolaan sumber daya alam secara partisipatif, mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan, memperkuat kelembagaan desa, serta menjaga kawasan hutan, karst, dan keanekaragaman hayati yang menjadi bagian penting dari bentang alam Sangkulirang-Mangkalihat.

Manajer Senior YKAN, Niel Makinuddin, mengatakan bahwa keberhasilan geopark tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan para pihak dalam menjaga dan mengelolanya secara berkelanjutan. “Di sejumlah kampung, masyarakat kini menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan, gua prasejarah, sumber air, hingga destinasi wisata alam yang berada di dalam bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat. Kami melihat antusiasme dan komitmen masyarakat di kawasan ini sangat besar untuk menjaga warisan alam yang mereka miliki,” ujar Niel.

Niel mengungkapkan jika Sangkulirang-Mangkalihat berhasil mendapatkan status sebagai Geopark Nasional, maka kawasan ini juga berpeluang mendapat pengakuan internasional sebagai UNESCO Global Geopark. “Kami berharap status Geopark Nasional dapat semakin memperkuat upaya pelestarian kawasan sekaligus membuka manfaat yang lebih besar bagi masyarakat lokal,” tutup Niel. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda@gmail.com