Revitalisasi Masjid Raya Darussalam Samarinda Tuntas, Ikon Sejarah Kini Lebih Representatif

KLIKSAMARINDA – Masjid Raya Darussalam di Kecamatan Samarinda Kota kini kembali berdiri megah setelah menjalani revitalisasi sejak 2024. Proyek revitalisai rumah ibadah bersejarah tersebut menelan anggaran sekitar Rp24,69 miliar selama dua tahun dan resmi dituntaskan pada Februari 2026.
Wali Kota Samarinda Andi Harun meresmikan hasil revitalisasi Masjid Raya Darussalam pada Jumat 13 Februari 2026. Peresmian ini menandai babak baru fungsi dan peran masjid sebagai pusat ibadah sekaligus aktivitas sosial keagamaan di Samarinda.
Bangunan Masjid Raya Darussalam kini tampil lebih kokoh, luas, dan representatif. Revitalisasi mencakup penguatan struktur, pembaruan fasilitas, serta penataan kawasan agar lebih nyaman bagi jamaah.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid diharapkan menjadi pusat kajian keilmuan dan kegiatan pemberdayaan umat.
“Kita bersyukur renovasi Masjid Raya selesai dengan kualitas yang sangat bagus. Kita berharap masjid ini menjadi pusat ibadah, pusat kajian, dan kegiatan sosial masyarakat,” ujar Andi Harun saat peresmian.
Menurutnya, letak masjid yang strategis di kawasan pusat aktivitas ekonomi menjadikannya memiliki nilai historis sekaligus simbol identitas kota.
“Pemerintah berharap kemakmuran masjid berjalan seiring dengan penguatan persatuan warga,”ucapnya.
Ia menekankan pentingnya peran rumah ibadah sebagai perekat sosial di tengah dinamika perkotaan.
Masjid Raya Darussalam memiliki jejak sejarah panjang. Pada awalnya, rumah ibadah ini bernama Masjid Jami’ yang mulai dibangun pada 1920 dengan ukuran sekitar 25 x 25 meter.
Bangunan awal menggunakan material kayu ulin dan atap sirap, tanpa halaman luas, dengan sisi bangunan menghadap langsung ke jalan dan Sungai Mahakam.
Renovasi besar Masjid Raya Darussalam pertama kali berlangsung pada periode 1952–1955 karena kapasitas masjid lama tidak lagi mampu menampung jamaah, terutama saat Salat Jumat. Tokoh-tokoh masyarakat dan ulama setempat memprakarsai pembangunan ulang agar masjid lebih representatif.
Panitia pembangunan kemudian dibentuk di bawah arahan APT Pranoto. Desain masjid dirancang arsitek Dinas PU Kalimantan Timur bernama Van Der Vyl.
Peletakan batu pertama dilakukan pada 9 November 1953 oleh Kepala Daerah Istimewa Kutai saat itu, dengan anggaran sekitar Rp2,5 juta.
Keunikan masjid ini terletak pada posisinya di tengah kawasan perdagangan dan pelabuhan. Pada masa awal, sempat muncul keraguan karena rumah ibadah berdiri di area yang ramai dan bising.
Namun seiring waktu, justru lokasi tersebut membuat masjid berperan sebagai “oase rohani” bagi masyarakat dan pekerja di pusat kota.
Pemerintah kota menegaskan komitmen menjadikan Masjid Raya Darussalam Samarinda sebagai rumah ibadah yang nyaman, indah, dan fungsional di atas lahan sekitar 15.000 meter persegi. Dengan material berkualitas dan dukungan teknologi konstruksi modern, masjid diharapkan menjadi jantung kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat kota. (*)




