Perempuan Pesisir Mulai Dobrak Ketimpangan Peran di Keluarga dan Desa
KLIKSAMARINDA – Ketimpangan pembagian peran antara perempuan dan laki-laki masih menjadi tantangan bagi perempuan di wilayah pesisir Delta Mahakam. Dalam kehidupan sehari-hari, urusan domestik masih kerap dibebankan kepada perempuan, sementara ruang bagi mereka untuk terlibat dalam pengambilan keputusan di masyarakat juga terbatas.
Kondisi tersebut salah satunya terlihat dari pengalaman perempuan yang mengikuti Sekolah Lapang Perempuan selama 10 bulan. Praktisi pemberdayaan masyarakat Yayasan Bumi Samarinda, Jamiah (30), mengatakan pembelajaran mengenai gender membuat sejumlah peserta mulai memahami ketimpangan yang sebelumnya dianggap sebagai hal biasa.
Salah satunya Ibu Rimah. Menurut Jamiah, Rimah mampu menangkap konsep gender dengan cepat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia bahkan turut membantu menyederhanakan pemahaman mengenai gender kepada peserta lainnya.
“Yang menarik adalah ada salah satu Ibu, aku sebut dia itu Ibu Rimah. Jadi, Ibu Rimah ini dia dengan cepat menangkap bagaimana konsep-konsep gender ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Jamiah.
Pemahaman tersebut kemudian diterapkan Rimah dalam kehidupan rumah tangganya. Sebelumnya, urusan domestik lebih banyak dibebankan kepadanya sebagai istri. Kondisi itu membuat perempuan menanggung beban ganda dalam keluarga.
Setelah mulai memahami relasi gender, Rimah membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan suaminya. Pembagian urusan domestik kemudian mulai dilakukan bersama, sehingga pekerjaan rumah tidak lagi sepenuhnya menjadi tanggung jawab perempuan.
“Hal itu kemudian disadari dan sekarang Ibu Rimah jadi punya kemampuan untuk berkomunikasi secara terbuka dengan suami, sehingga beban atau urusan domestik itu tidak lagi dibebankan kepada si perempuan saja, tapi laki-laki sebenarnya juga ikut membersamai dalam konsep kerja sama,” ujarnya.
Perubahan tidak berhenti di lingkungan keluarga. Sebelum mengikuti kegiatan tersebut, Rimah disebut tidak terlibat dalam komunitas maupun kelompok di desanya. Setelahnya, kemampuan komunikasi dan kepemimpinannya berkembang hingga ia dipercaya bergabung dalam PKK desa dan menjadi sekretaris RT.
Jamiah mengatakan perubahan serupa mulai muncul pada peserta lain, meski berlangsung secara bertahap. Salah satunya terlihat dari peserta yang sebelumnya harus meminta izin kepada suaminya setiap kali hendak mengikuti kegiatan.
Seiring waktu, suami peserta tersebut mulai memberikan kepercayaan. Menurut Jamiah, keterbukaan dalam berkomunikasi menjadi salah satu proses yang membantu perempuan mendapatkan ruang lebih besar dalam menentukan aktivitasnya.
“Ada beberapa peserta yang awalnya bahkan harus kujemput dan aku yang coba mintakan izin. Tapi seiring berjalannya waktu, suami para peserta mulai memberikan kepercayaan,” tuturnya.
Selain dalam keluarga, keberanian perempuan juga mulai terlihat dalam forum masyarakat. Rimah bersama sejumlah perempuan lainnya mulai menyuarakan kebutuhan desa, termasuk gagasan penyediaan bak sampah permanen.
Gagasan tersebut tidak hanya disampaikan oleh peserta Sekolah Lapang Perempuan, tetapi juga mulai dibawa kepada ibu-ibu lain di desa. Menurut Jamiah, hal itu menunjukkan perempuan mulai berani mengambil posisi dalam pembicaraan mengenai kebutuhan lingkungan tempat tinggal mereka.
“Beliau dan beberapa rekan di Sekolah Perempuan itu punya ide tentang bak sampah, bagaimana desa itu punya bak sampah permanen. Nah, itu disuarakan dan Ibu Rimah mengajak sebenarnya bukan cuma peserta Sekolah Perempuan tapi juga ibu-ibu yang ada di desa,” pungkasnya. (*)



