Warta

Perempuan Pesisir Sadari Dampak Sampah, Ini Kata Yayasan Bumi Samarinda

KLIKSAMARINDA – Persoalan sampah di wilayah pesisir Delta Mahakam tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mulai dirasakan dalam kehidupan masyarakat yang bergantung pada hasil perairan. Di tengah kondisi tersebut, perempuan pesisir perlahan mulai memahami kaitan antara kebiasaan membuang sampah, kerusakan ekosistem, hingga pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga.

Praktisi pemberdayaan masyarakat Yayasan Bumi Samarinda, Jamiah (30), mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas bersama perempuan, ibu-ibu, dan anak muda dalam Sekolah Lapang Perempuan selama 10 bulan terakhir.

Menurutnya, sebagian masyarakat sebenarnya telah mengetahui bahwa sampah menjadi persoalan di desa pesisir. Namun, kebiasaan membuang sampah ke laut masih dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, terutama karena keterbatasan fasilitas tempat sampah.

Masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa sampah yang dibuang ke laut dapat terbawa arus, tersangkut di kawasan mangrove, hingga masuk ke rantai makanan.

“Kesadaran semacam itu yang awalnya mereka kira biasa saja, hal-hal yang wajar. Tapi sebenarnya itu enggak wajar karena itu merusak ekosistem kita,” kata Jamiah.

Jamiah menjelaskan, sampah yang masuk ke perairan dapat berdampak terhadap ekosistem laut. Sampah yang terurai juga berpotensi menjadi mikroplastik dan masuk ke tubuh ikan yang kemudian dikonsumsi masyarakat.

Dampak persoalan tersebut mulai lebih mudah dipahami ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sejumlah suami peserta bekerja sebagai nelayan, sementara beberapa perempuan yang mengikuti kegiatan juga berprofesi sebagai nelayan.

Menurut Jamiah, para peserta mulai melihat bahwa kondisi perairan turut memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Dalam beberapa kondisi, nelayan bahkan lebih banyak mendapatkan sampah dibandingkan ikan ketika melaut.

“Ketika mereka melaut itu mereka lebih banyak mendapatkan sampah dibandingkan dengan ikannya. Nah, itu kan sebenarnya langsung berdampak ke pendapatan mereka,” ujarnya.

Kesadaran mengenai persoalan lingkungan tersebut kemudian mendorong perempuan untuk mulai menyampaikan kebutuhan mereka di lingkungan tempat tinggal. Salah satu gagasan yang muncul adalah penyediaan tempat sampah, pengelolaan bank sampah, dan pemilahan sampah.

Gagasan tersebut mulai disampaikan dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) di tingkat RT. Meski belum sampai pada tingkat desa, keberanian perempuan menyampaikan persoalan lingkungan dinilai menjadi perubahan penting.

Jamiah mengatakan sebelumnya suara perempuan dalam pembahasan persoalan desa belum banyak terdengar. Namun, setelah mendapatkan ruang untuk berdiskusi dan memahami persoalan di sekitar mereka, peserta mulai berani menyampaikan gagasan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Setelah sesi ini berakhir, para perempuan dari Sekolah Lapang Perempuan ini berani menyampaikan gagasan tentang adanya tempat sampah, adanya pengelolaan bank sampah, pemilahan sampah pada saat gagasan itu disampaikan pada saat Musrenbang di tingkat RT,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan