Ekbis

Informasi seputar ekonomi dan bisnis tingkat lokal regional nasional

[Samarinda]

[Kalimantan Timur]

[Nasional]

  • Harga Kebutuhan Pangan di Samarinda Yang Naik Jelang Iduladha

    Perayaan hari besar keagamaan di Indonesia lumrah mengalami sebuah fenomena, yaitu kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Tak terkecuali jelang perayaan Iduladha. Harga sejumlah bahan pangan pengisi dapur rumah tangga mengalami kenaikan harga. Di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltimv, pun demikian. Sejumlah harga bahan pangan mengalami kenaikan H-4 Iduladha 2019, Rabu 8 Agustus.

    Harga komoditi pangan jenis sayuran, seperti cabai merah dan cabai rawit mengalami kenaikan dalam tiga hari terakhir. Cabai merah dari yang sebelumnya Rp30 ribu-Rp35 ribu per kilogram, kini dijual dengan harga Rp90 ribu-Rp100 ribu per kilogram. Harga cabai rawit juga mengalami kenaikan sekitar Rp20 ribu-Rp25 ribu per kilogram. Dalam dua hari terakhir, terjadi kenaikan harga cabai rawit mencapai Rp60 ribu-Rp80 ribu per kilogram. Sementara cabai keriting mengalami kenaikan dengan harga Rp80 ribu per kilogram.

    Tak hanya cabai, bahan pangan lainnya seperti ayam potong juga mengalami kenaikan harga hingga Rp50 ribu per ekor. Padahal harga ayam potong biasanya seharga Rp35 ribu per ekor. Namun, meski banyak produk sayuran mengalami kenaikan, namun untuk penjualan bawang merah dan bawang putih masih stabil. Harga bawang merah dan bawang putih masih dijual dengan harga Rp25 ribu per kilogram.

    Menurut pengakuan Haji Arifin, pedagang cabai di los sayuran Pasar Segiri juga merasa kaget dengan kenaikan harga cabai itu. Arifin menyatakan, “Kaget, biasanya Rp18 ribu-Rp20 ribu. Nah, ini langsung Rp90 ribu-Rp80 ribu. Ini terus naik besok ini karena dari sananya bilang orangnya Rp85 ribu. Bisa-bisa Rp100 ribu ini cocoknya.”

    Kenaikan harga cabai dalam 3 hari terakhir langsung berdampak kepada para pelaku usaha makanan. Para pedagang makanan mengaku terpaksa mengurangi pembelian cabai agar bisa tetap berjualan. Bagi Amat, misal, seorang pedagang nasi di Samarinda terpaksa mengurangi pemakaian cabai dalam sambal yang menjadi pelengkap warung makannya.

    Alasan Amat, harga cabai naik. Dalam sehari, biasanya Amat mampu membuat sambal dari satu kilogra, cabai. Karena harga cabai naik, takaran cabai pun berkurang. Amat memprediksi, harga cabai akan terus naik beberapa hari ke depan. Apalagi, jika stok komoditinya terus menipis.

    “Dikurang-kurangi penggunaan cabainya. Kalau lombok kecil itu biasanya sampai satu kilo sehari. Sekarang ya dikurangi gara-gara naik. Kemarin Rp60 ribu per kilo, sekarang sudah Rp80 ribu per kilo,” ujar Amat.

    Namun, stok komoditi cabai justru bertambah di Pasar Segiri. Para pedagang mengaku cabai kiriman baru saja tiba dari Sulawesi Selatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Samarinda. Untuk cabai merah dan cabai rawit di Pasar Segiri Samarinda, stoknya masih cukup banyak. Namun, tetap terjadi kenaikan harga.

    Pedagang cabai di los sayuran Pasar Segiri Samarinda justru memastikan jika harga jual cabai akan naik hingga Iduladha. Pedagang mengaku, akibat kenaikan harga cabai, pembelian cabai menurun sehingga cabai yang dijualnya masih menumpuk.

    Penumpukan stok cabai milik pedagang di Pasar Segiri pun terjadi dalam 3 hari belakangan. Akibatnya, para pedagang terpaksa memisahkan cabai yang kondisinya kurang baik dari tumpukan cabai yang didagangkannya. Syahrudin salah satunya, yang terpaksa menyortir cabai yang mulai rusak sehingga masih layak dijual.

    “Ya kebetulan kurang pembeli juga. Tapi dari sananya itu. Dari petikan panas, makanya banyak yang busuk,” ujar Syahrudin.

    Pedagang cabai pasrah di tengah menumpuknya stok cabai yang ada di los dagangan. Akibat kenaikan harga cabai yang mendadak ini, para pedagang cabai terancam mengalami kerugian karena cabai banyak yang tak terjual akibat mengalami busuk. (Jie)

  • Ada 13 Negara Tanam Modal di Kaltim, Mengapa Investor British Virgin Islands yang Paling Banyak?

    INVESTOR asal British Virgin Islands –sebuah negara di kawasan Karibia, sebelah timur Jamaika– merupakan negara yang paling banyak menanamkan modalnya di Kalimantan Timur. Selama triwulan I-2019 saja nilainya mencapai 86,99 juta dolar AS.

    Sejatinya, sampai akhir triwulan I-2019, ada 13 negara asal penanaman modal yang masuk ke Benua Etam. “Investor asal British Virgin Islands merupakan yang paling besar berinvestasi,” ujar Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltim, Abdullah Sani, seperti dikutip dari Antara.

    Investor asal British Virgin Islands menanamkan modalnya pada 14 proyek. Nilainya 86,99 juta dolar AS, setara dengan Rp 1,3 triliun atau mencapai 62,80 persen dari investasi yang masuk ke Kaltim –yang totalnya senilai 138,52 juta dolar AS, setara dengan Rp 2,08 triliun.

    Di urutan kedua adalah investor asal Singapura. Dana yang diinvestasikan sendiri untuk 53 proyek. Nilainya 26,6 juta dolar AS –setara dengan Rp 398,95 miliar. Negeri Singa sendiri menyumbang 19,20 persen dari total investasi pada triwulan pertama 2019 Kaltim.

    Sedangkan investor dari Malaysia berada di peringkat ketiga yang menginvestasikan dananya untuk 36 proyek senilai 10,79 juta dolar AS –setara dengan Rp 161,81 miliar atau dengan andil 7,79 persen.

    “Investor dari negara lain yang menginvestasikan dananya ke Kaltim di periode ini adalah Inggris senilai 4,28 juta dolar AS untuk 9 proyek, Korea Selatan 3,93 juta dolar untuk 6 proyek, Belanda 1,25 juta dolar untuk 6 proyek, dan beberapa negara lainnya,” ucap Sani.

    Sedangkan dilihat dari lapangan usaha yang diminati para investor asing tersebut, lanjutnya, maka yang paling besar mengarahkan ke subsektor listrik, gas dan air dengan nilai 79,3 juta dolar AS untuk 4 proyek.

    Lapangan usaha kedua yang mampu menarik minat investor asing adalah pertambangan dengan nilai 24,34 juta dolar AS untuk 24 proyek. Lapangan usaha ini mampu menyerap 1.575 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan 14 tenaga kerja asing (TKA).

    “Lapangan usaha ketiga yang mampu memikat investor adalah subsektor tanaman pangan dan perkebunan dengan nilai 20,24 juta dolar. Subsektor usaha dengan 38 proyek ini mampu menyerap 466 TKI dan 1 TKA,” tukas Sani. (*)

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker