Warta

Menag Buka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Malang

Malang – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membuka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026. Pembukaan berlangsung di Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo, Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis 1 Oktober 2026, malam.

Pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara 2026 ini bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober dan diikuti ribuan pramuka santri dari berbagai daerah di Indonesia.

Menag menegaskan bahwa PPSN bukan sekadar kegiatan berkemah. Di balik berbagai aktivitas dan keterampilan yang dijalani peserta, ada proses pembentukan karakter yang penting bagi calon pemimpin masa depan.

Menurut Menag, banyak nilai kepramukaan yang sejalan dengan keteladanan Rasulullah Muhammad SAW. Nilai itu mencakup olahraga, keterampilan, seni, kemampuan berbahasa, hidup sederhana, hingga kemampuan berdialog dan menyelesaikan persoalan secara bijak.

“Seandainya Rasulullah hidup bersama kita sekarang, pasti beliau akan bangga menyaksikan anak-anak kepramukaan kita,” ujarnya.

Santri yang Kuat dan Berdaya Saing

Menag mengajak para peserta menjadi santri yang qowiyyul amin.

“Menjadi santri harus menjadi santri yang qowiyyul amin,” tegasnya.

Istilah yang bersumber dari QS. Al-Qashash ayat 26 itu menggambarkan pribadi yang kuat (al-qawiy) sekaligus dapat dipercaya (al-amin).

Menag menyebut Rasulullah sebagai sosok yang kuat dan menyukai aktivitas fisik.

Ia mencontohkan sejumlah olahraga dan keterampilan dalam tradisi Islam, seperti memanah, berenang, berkuda, serta kemampuan menghadapi medan yang sulit.

Nilai tersebut, kata Menag, juga menjadi bagian dari pendidikan kepramukaan. Santri tidak hanya dituntut berpengetahuan, tetapi juga berani, tangguh, dan terampil menghadapi berbagai situasi.

“Kebesaran bukan jaminan kemenangan, kekecilan bukan pertanda kekalahan. Orang bisa badannya kecil tetapi jiwanya sangat besar,” katanya.

Menag juga menekankan pentingnya menghargai prestasi. Ia mengisahkan Rasulullah yang memberi apresiasi kepada anak muda yang menghasilkan karya dan bermanfaat bagi masyarakat.

Budaya menghargai orang berprestasi, menurutnya, perlu terus ditanamkan agar generasi muda terdorong berkarya dan memberikan kontribusi terbaik bagi lingkungannya.

Hidup Sederhana dan Moderat

Menag mengingatkan peserta untuk membiasakan hidup sederhana. Kehidupan di perkemahan, seperti tidur di tenda dan beraktivitas dengan fasilitas terbatas, merupakan latihan membangun kemandirian.

Ia mengaitkannya dengan kehidupan Rasulullah yang tetap sederhana meski berkedudukan sebagai pemimpin umat.

“Kalau orang tidak pernah dilatih dalam kepramukaan, bagaimana bisa menjadi pribadi seperti Nabi. Kalian dilatih seperti ini, duduk, berlatih seperti ini, mungkin tidurnya di kemah,” ujarnya.

Menag juga menekankan kemampuan berdiplomasi dan menjaga suasana tetap kondusif. Ia mengisahkan peristiwa Fathu Makkah, ketika Rasulullah menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan ketegangan dengan pendekatan yang menenangkan.

“Seorang kader pramuka jangan suka membuat gaduh. Bikin situasi itu menjadi adem, menjadi gampang, menjadi mudah, menjadi solusi,” katanya.

Ia meminta pramuka santri bersikap moderat dan mampu menengahi setiap persoalan, bukan menjadi provokator. Persoalan kecil, menurutnya, tidak semestinya dibesar-besarkan.

“Jangan membesar-besarkan masalah. Jangan mengharimaukan kucing, dan jangan membuayakan cicak. Moderator mencari cara-cara yang moderat, bukan provokator yang memperkeruh masalah,” tegasnya.

Proaktif dan Siap Memimpin Bangsa

Menag juga mengajak santri berani berpikir berbeda, tidak mudah menyerah, dan bersikap proaktif. Keberanian mencoba dan keyakinan bahwa sesuatu dapat dilakukan, menurutnya, merupakan bagian penting pendidikan karakter.

“Besok Anda akan dilatih: ‘Bisa, harus bisa,'” ujarnya.

Santri dan pramuka, lanjut Menag, harus menjadi generasi yang mampu mendahului zamannya, mengambil peran, dan menawarkan solusi, bukan sekadar menyalahkan keadaan.

“Seorang kader pramuka, kader santri, tidak boleh reaktif, tapi harus proaktif,” katanya.

Karakter tersebut penting karena santri dipersiapkan menjadi bagian dari generasi yang akan memimpin Indonesia yang beragam masyarakat, budaya, dan latar belakangnya.

“Yang paling siap menjadi pemimpin bangsa yang sangat plural adalah santri,” pungkas Menag.

Tiga Pesan Gubernur Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang turut hadir menyampaikan tiga pesan kepada peserta. Pertama, Pancasila sebagai pengikat kebinekaan. Menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika tidak cukup hanya menjadi semboyan.

“Bhinneka Tunggal Ika harus diikat dengan Pancasila,” ujarnya.

Karena itu, pembukaan PPSN yang bertepatan dengan 1 Oktober dinilainya bermakna penting. Ia berharap pramuka santri tumbuh dengan karakter keindonesiaan yang kuat sekaligus fondasi keagamaan yang kokoh.

“Santri Pramuka harus menjadi pagar betis penjaga NKRI,” pesannya.

Kedua, Khofifah mendorong santri bercita-cita tinggi dan melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Ia mendoakan agar kelak di antara peserta ada yang menjadi dokter, profesor, ilmuwan, maupun profesional yang ilmunya bermanfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, peluang santri di bidang sains dan teknologi kini makin terbuka, termasuk melalui program sains, teknologi, rekayasa, matematika, hingga kedokteran di perguruan tinggi keagamaan Islam.

Ketiga, kepedulian terhadap lingkungan. Khofifah mengapresiasi rencana penanaman pohon sejumlah peserta PPSN VI.

Ia menyebut gerakan ini sebagai “sedekah oksigen”, yang manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

PPSN VI 2026 berlangsung hingga 6 Oktober 2026. Selama perkemahan, ribuan santri dari berbagai daerah belajar, berlatih, berkompetisi, dan membangun persaudaraan.

Santri diharapkan tidak hanya tumbuh terampil, tetapi juga berkarakter, berani, mampu bekerja sama, dan siap menjadi pemimpin masa depan.

Pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI 2026 turut dihadiri jajaran pimpinan Kementerian Agama, pimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, unsur Forkopimda, Wakil Bupati Malang, serta pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II dan An-Nur I. (*)

Tinggalkan Balasan