Kanada Luncurkan Program Pemberdayaan Perempuan untuk Melindungi Segitiga Terumbu Karang Dunia
Jakarta – Didanai oleh Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada, sebuah program pemberdayaan perempuan pesisir diluncurkan untuk memperkuat peran perempuan dalam melindungi Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), salah satu kawasan laut terpenting di dunia. Program yang diinisiasi oleh The Nature Conservancy (TNC) ini diluncurkan di Jakarta, Selasa 14 April 2026, bekerja sama dengan Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF).
Program tersebut akan dilaksanakan di empat negara, yaitu Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon, dengan dukungan berbagai mitra lokal, termasuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) di Indonesia dan World Wide Fund for Nature (WWF) di Filipina. Di Indonesia, program dilaksanakan di dua wilayah strategis di Segitiga Terumbu Karang dunia, yakni Bentang Alam Kepala Burung di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya, dan Kepulauan Teon, Nila, dan Serua di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Kedua kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi, namun semakin terancam oleh dampak perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam.
Kepala Biro Perencanaan yang sekaligus menjabat sebagai Plt. Sekretaris Jenderal, Kementerian Kelautan dan Perikanan selaku Focal Point Women Leader Forum dari National Coordinating Committee CTI-CFF Indonesia Andy Artha Donny Oktopura, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kanada dan para mitra, internasional maupun nasional. Menurutnya, program ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia untuk memperkuat pengelolaan laut yang berkelanjutan dan inklusif. “Pelibatan perempuan dan masyarakat pesisir sebagai aktor utama akan memperkuat efektivitas konservasi sekaligus meningkatkan ketahanan sosial dan ekonomi komunitas lokal,” ujar Andy.
Dalam sambutannya, Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton, menyampaikan bahwa program ini dilaksanakan dengan tiga pilar utama. Pertama, peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kepemimpinan perempuan agar dapat berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya alam. Kedua, perluasan akses terhadap mekanisme pendanaan yang memungkinkan partisipasi setara perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam dan solusi perubahan iklim. Ketiga, penguatan keterlibatan perempuan dalam tata kelola serta advokasi kebijakan.
Melalui pendekatan ini, perempuan diharapkan dapat mengambil peran kepemimpinan dalam melindungi ekosistem laut dan pesisir, sekaligus memperkuat ketangguhan komunitas mereka. “Kanada meyakini bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam,” kata Dutton.
Sementara itu Direktur Eksekutif Sekretariat Regional CTI-CFF, Dr. Frank Keith Griffin, menyampaikan bahwa inisiatif ini mencerminkan komitmen bersama negara anggota CTI-CFF dan para mitra untuk mendorong konservasi laut yang inklusif dan berbasis masyarakat. Menurutnya, pemberdayaan perempuan bukan hanya soal keadilan, tetapi juga merupakan pendekatan strategis untuk memperkuat ketangguhan ekosistem pesisir dan komunitas yang bergantung padanya. “Melalui kolaborasi ini, kami menegaskan kembali pentingnya kepemimpinan lokal, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama regional dalam menjaga Segitiga Terumbu Karang bagi generasi mendatang,” sebut Frank.
Frank juga menambahkan, melalui perannya sebagai platform koordinasi regional, CTI-CFF mendukung pelaksanaan program ini dengan memfasilitasi kolaborasi antarnegara anggota dan mitra, serta mendorong penerapan pendekatan pengelolaan laut dan pesisir yang responsif gender. Program ini juga terhubung erat dengan Women Leaders’ Forum (WLF) CTI-CFF sebagai wadah regional untuk memperkuat kepemimpinan dan partisipasi perempuan dalam konservasi. Melalui keterhubungan ini, program dapat berkontribusi sekaligus memperoleh manfaat dari upaya pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan di kawasan Segitiga Terumbu Karang.
Kepemimpinan Perempuan untuk Laut Berkelanjutan
Segitiga Terumbu Karang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Kawasan ini mencakup sekitar 76 persen spesies terumbu karang dan 37 persen spesies ikan karang dunia.Terumbu karang dan habitat pesisir di kawasan ini menjadi sumber pangan, mata pencaharian, sekaligus identitas budaya bagi jutaan masyarakat. Namun, perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan terus mengancam kelestariannya.
Direktur Program TNC Asia Pasifik, Kathryn Michie, menekankan bahwa partisipasi perempuan sangat penting dalam menghadapi tantangan tersebut. “Perempuan memiliki peran vital dalam pengelolaan sumber daya alam dan sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim. Namun, mereka kerap tidak dilibatkan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Program ini memberikan kesempatan bagi kami untuk mendukung perempuan agar dapat mengambil peran kepemimpinan yang lebih besar dalam konservasi dan adaptasi perubahan iklim,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa YKAN bersama pemerintah dan masyarakat lokal telah bekerja di Bentang Laut Kepala Burung sejak tahun 2002. Salah satu pendekatan utama yang dilakukan adalah mendukung kearifan tradisional dan praktik lokal, seperti sasi, dalam perlindungan dan pengelolaan sumber daya laut. “Di tiga kampung di Raja Ampat, kami mendukung kelompok perempuan untuk memimpin praktik sasi. Kami juga akan melakukan pendampingan kepada kelompok perempuan di Kepulauan Teon, Nila, dan Serua. Dukungan dari Pemerintah Kanada memungkinkan kami untuk semakin memperkuat peran aktif perempuan dalam memimpin aksi perlindungan dan pengelolaan laut yang lebih adil dan berkelanjutan,” jelas Herlina.
Silpa Botot, perempuan asal Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Raja Ampat, Papua Barat Daya, yang hadir di Jakarta, menyampaikan harapannya atas dukungan Pemerintah Kanada. Menurutnya, dukungan tersebut sangat penting untuk menjaga kelestarian alam yang merupakan warisan leluhur mereka. “Terima kasih sudah membantu perempuan di Misool. Semoga ke depan upaya kami bisa lebih baik dan lebih maju, serta tidak berhenti sampai di sini. Kami masih ingin terus belajar agar alam tetap terjaga hingga anak cucu,” ujar Silpa Botot, yang juga merupakan anggota kelompok perempuan Joom Jak Sasi. Kelompok ini, sejak tahun 2022 dipercaya untuk mengelola sumber daya alam di wilayah mereka melalui sistem sasi.
Peluncuran program dihadiri oleh perwakilan pemerintah dari enam negara anggota Segitiga Terumbu Karang, staf program, mitra pelaksana, serta para pemimpin perempuan dari berbagai komunitas di Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Inisiatif ini ditargetkan menjangkau sekitar 11.000 orang dan berkontribusi pada perlindungan sekitar 65.000 hektare ekosistem penting di seluruh kawasan Segitiga Terumbu Karang. (*)




