Warta

Cerita Petani Tanah Datar, ECO-STEP Pertamina EP Membuat Hemat Pupuk dan Solar

Kliksamarinda.com – Aktivitas hulu minyak dan gas (migas) Semberah, Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) tak sepenuhnya menyisakan cerita tentang industri. Perlahan, di sana menyelinap sebuah narasi.

Di lahan pertanian desa, petani mulai meninggalkan kebergantungan pada pupuk kimia dan bahan bakar solar. Mereka beralih ke pertanian semi-organik dan energi bersih melalui program Economic and Clean-Environment Sustainable Agriculture (ECO-STEP) dari Pertamina EP Sangatta Field.

Program yang berjalan sejak 2024 itu membawa perubahan pada sisi ekonomi, lingkungan, dan produktivitas petani.

Konsistensi Petani Choirul Munasikin

Salah satu petani yang menerima manfaat program ini adalah Choirul Munasikin. Pria asal Malang, Jawa Timur, itu telah menggarap lahan pertanian di Tanah Datar sejak 1997.

Sebelum menjadi petani mandiri, Choirul terlibat dalam rantai pasok sayuran dari Yogyakarta menuju Pasar Segiri, Samarinda.

Ia lalu memilih menetap dan bertani di Kukar. Berbekal lahan pinjaman milik sang bibi, ia belajar mengolah tanah secara mandiri.

Puluhan tahun berlalu. Cerita kini bersalin. Choirul mampu mengelola lahan seluas tiga hektare.

Tidak hanya menghidupi keluarganya, Choirul juga mempekerjakan sekitar 20 petani lokal. Mereka menerima upah sekitar Rp180 ribu per hari.

Petani yang Mulai Mandiri

Salah satu perubahan besar datang dari pengelolaan pupuk.

Sebelum ECO-STEP berjalan, petani sangat bergantung pada pupuk yang dijual di toko. Harga yang terus naik membuat biaya produksi ikut membengkak.

Kini Choirul mulai memproduksi pupuk cair secara mandiri.

Bahan utamanya berasal dari kotoran ayam yang dibeli dari peternak lokal. Dengan modal sekitar Rp15 ribu untuk satu karung, bahan tersebut kemudian diolah bersama pupuk kandang, sedikit NPK, dan air.

Campuran itu difermentasi menggunakan formula yang dipelajari melalui program ECO-STEP.

Dalam satu musim tanam, pupuk cair tersebut digunakan hingga empat kali. Cara ini membantu memangkas biaya produksi sekaligus meningkatkan margin hasil panen.

Berbekal konsistensi memanfaatkan pupuk organik cair dari kotoran ternak, Choirul Munasikin sukses menyulap pertaniannya menjadi lebih produktif dan minim limbah. Bagi Choirul, pupuk cair ini adalah jawaban atas mahalnya harga pupuk di pasaran, sekaligus langkah nyata untuk menghasilkan panen yang lebih sehat dan aman dikonsumsi masyarakat. (Foto: Suriyatman)

Panel Surya Pangkas Solar

Perubahan lain terjadi pada sistem pengairan.

Sebelumnya, petani mengandalkan genset berbahan bakar solar untuk mengoperasikan pompa air. Penggunaan genset membuat biaya operasional tinggi.

Selain itu, asap pembakaran juga mencemari lingkungan sekitar lahan.

Pertamina EP Sangatta Field kemudian memasang panel surya atau solar cell dengan kapasitas daya mencapai 22.000 kWh.

Energi bersih itu mengoperasikan sebuah mesin pompa untuk menyiram tanaman dan menyalurkan pupuk cair ke lahan.

Kecemasan mesin berhenti karena kehabisan solar tak lagi membayangi petani. Sistem juga menghasilkan lingkungan kerja yang lebih bersih.

Dewi, Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Tanah Datar, menilai teknologi tersebut membantu petani menerapkan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

ECO-STEP Dorong Pertanian Ramah Iklim

Program ini tidak berhenti pada energi surya dan pupuk organik.

ECO-STEP menggunakan konsep closed-loop system. Limbah pertanian seperti jerami, kulit kopi, dan kotoran ternak diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat.

Teknologi bioreaktor anaerobik portabel menghasilkan bio-slurry. Produk tersebut dapat digunakan sebagai pupuk cair kaya mikroba.

Sementara itu, proses pirolisis menghasilkan biochar atau arang hayati.

Biochar berfungsi membantu tanah menahan air. Penggunaannya juga dapat membantu menjaga kelembapan lahan ketika cuaca semakin ekstrem.

Pori-pori biochar menjadi tempat bagi mikroorganisme baik. Kehadiran mikroba tersebut membantu mengaktifkan kembali siklus nutrisi alami di dalam tanah.

Konsep ini juga menjawab persoalan emisi dari sektor pertanian. Penggunaan pupuk nitrogen sintetis secara berlebihan dapat meningkatkan emisi dinitrogen oksida atau N2O.

IoT Bikin Pengairan Lebih Efisien

Modernisasi pertanian Tanah Datar juga menyentuh teknologi digital.

Petani mulai menggunakan sensor kelembapan berbasis Internet of Things (IoT). Sistem tersebut terhubung dengan irigasi tetes atau drip irrigation.

Pompa bertenaga surya mengalirkan air dan nutrisi sesuai kebutuhan tanaman berdasarkan data kelembapan tanah.

Penggunaan air diklaim bisa lebih hemat hingga 40 persen.

Sistem ini juga membantu mengurangi risiko nutrisi terbawa air menuju sungai. Dengan begitu, potensi gangguan ekosistem akibat kelebihan nutrisi atau eutrofikasi dapat ditekan.

Pertanian Jadi Sumber Penghasilan Baru

Dina Tika Umami, CA Officer Lapangan Semberah Pertamina EP, mengatakan ECO-STEP dirancang untuk menjawab sejumlah persoalan masyarakat.

Program tersebut menyasar kemiskinan, keterbatasan keterampilan, kerusakan tanah, hingga dampak perubahan iklim.

Pertamina EP melihat potensi Kelompok Tani Lombok untuk dikembangkan menjadi basis pertanian organik yang mampu membuka lapangan kerja.

Targetnya tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca. Program ini juga berupaya mengatasi persoalan pupuk dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Produksi sayuran semi-organik dari Tanah Datar kini memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar lokal Kaltim.

Kerja bersama petani, penyuluh, akademisi, komunitas, dan perusahaan membuat pertanian di kawasan Semberah berkembang dengan pendekatan baru.

Dari tanah yang sebelumnya menghadapi tekanan biaya dan perubahan iklim, kini muncul model pertanian yang lebih mandiri.

ECO-STEP EP Pertamina bukan sekadar program perusahaan bagi petani di Tanah Datar. Inovasi itu mulai bertransformasi membangun pertanian yang lebih hemat, produktif, dan ramah lingkungan bagi generasi berikutnya. (*)

Penulis: Suriyatman

Tinggalkan Balasan

error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda@gmail.com