Culinary

Sajian informasi kuliner warisan budaya bangsa khas dari Kalimantan

  • Kisah Susan dan Gerobak Takjil Ramadan di Selerong Kukar yang Diminati Warga

    Kliksamarinda.com – Sore menjelang berbuka di Desa Selerong Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim) menyajikan suasana berbeda. Di antara lalu lalang kendaraan dan warga yang pulang dari aktivitas harian, sebuah gerobak sederhana perlahan menyusuri jalan protokol desa. Di balik gerobak itu berdiri seorang perempuan bernama Susan bersama adiknya, Hafis.

    Gerobak itu bukan sekadar tempat menjajakan makanan. Ia kini menjadi simbol kecil perputaran ekonomi warga di Desa Selerong.

    Setiap sore di bulan Ramadan, Susan dan Hafis mendorong gerobak penuh aneka takjil dan makanan siap santap. Dengan sapaan ramah dan teriakan khas untuk menarik perhatian warga, mereka menawarkan berbagai hidangan berbuka, mulai dari kudapan manis hingga makanan gurih.

    Tak butuh waktu lama bagi warga untuk mengenali gerobak itu.

    Kini, kehadiran Susan justru dinanti. Banyak warga sengaja menunggu di titik-titik tertentu tempat gerobaknya biasa berhenti. Sebab di sana, mereka tak hanya menemukan takjil untuk berbuka, tetapi juga ragam makanan rumahan dari para warga yang menitipkan dagangan mereka.

    Menariknya, semua ini bermula dari hal sederhana.

    Susan mengaku awalnya hanya mencoba peruntungan. Sehari-hari ia bekerja sebagai pedagang sayur keliling. Suatu hari, seorang rekannya mengajaknya membawa beberapa titipan takjil untuk dijual di sela aktivitasnya berkeliling.

    Siapa sangka, percobaan kecil itu justru mendapat sambutan besar dari warga sekitar.

    Dagangan yang dibawa Susan ternyata cepat habis. Kabar tentang gerobak takjilnya pun menyebar dari mulut ke mulut. Dalam waktu singkat, banyak warga Desa Selerong yang ingin menitipkan makanan untuk dijual melalui gerobaknya.

    Jika sebelumnya Susan berjualan sendirian, kini ia dibantu oleh sang adik untuk memenuhi permintaan warga yang terus meningkat.

    Gerobaknya pun berubah. Tak lagi hanya berisi beberapa jenis kue, tetapi penuh dengan berbagai menu berbuka. Mulai dari takjil segar hingga lauk siap santap untuk berbuka dan sahur.

    Susan menjelaskan bahwa ia membantu menjualkan makanan warga dengan mengambil sedikit upah dari setiap item yang terjual.

    “Banyak. Beberapa macam ini. Satu, dua, tiga, ini beda-beda orangnya, ya bantu masyarakat. Kita ambil upah, kan lima ratus (rupiah) jadi kita ikut seribu aja atau delapan ratus rupiah, satu biji per item,” kata Susan, Selasa 10 Maret 2026.

    Sistem sederhana itu justru memberi manfaat bagi banyak orang.

    Salah satunya dirasakan oleh Nita, warga yang kerap menitipkan makanan seperti soto dan sayuran siap santap. Ia mengaku terbantu karena tidak harus berkeliling menjajakan dagangan sendiri.

    “Di sini juga biasanya kalau ngirim banyak. Biasanya saya bikin soto, bikin timun selama bulan Ramadan. Jadi selama ini baru saya titip di sini, tidak kuat keliling,” kata Nita.

    Fenomena gerobak Susan menunjukkan inisiatif kecil bisa memberi dampak besar. Satu gerobak sederhana mampu menjadi ruang kolaborasi bagi warga desa untuk saling membantu menggerakkan ekonomi.

    Kisah Susan dan gerobak takjil di Selerong Kukar ini memberikan inspirasi, dari sekadar coba-coba di pinggir jalan, kini gerobak itu menjadi titik pertemuan warga. Tempat berbagi rezeki, sekaligus bukti bahwa semangat dan kepercayaan diri bisa membuka jalan keberkahan, terutama di bulan suci Ramadan. (*)

    Penulis: Suriyatman

  • Kopi Nipah Marang Kayu, Minuman Unik dari Pesisir Berpadu dalam Cangkir

    KLIKSAMARINDA – Kopi nipah namanya, hadir dari sebuah inovasi unik yang kini menarik perhatian para pecinta minuman khas nan penuh sensasi.

    Kopi Nipah dari pesisir Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) ini hadir dari buah pohon nipah yang selama ini tumbuh subur di sepanjang bibir pantai.

    Buah pohon nipah ini ternyata dapat diolah menjadi kopi nikmat dengan cita rasa khas dan ramah bagi penderita asam lambung.

    Adalah Bashori, warga Desa Sebuntal, yang pertama kali mengubah buah nipah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti minuman kopi.

    Berawal dari keisengan, kini usahanya justru menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya.

    Setiap hari, pria tiga anak ini memanen buah nipah menggunakan gerobak dorong.

    Ia lalu mengolahnya di rumah menjadi kopi nipah yang harum menggoda.

    Proses pembuatannya cukup panjang. Buah nipah yang keras terlebih dahulu dipecah menggunakan palu.

    Lalu biji buah nipah dipisahkan dan dipotong dengan alat sederhana.

    Bersama sang istri, Bashori kemudian mengeringkan biji nipah untuk mengurangi kadar air dan menonjolkan aroma alaminya.

    Setelah kering, biji-biji tersebut disangrai selama empat jam hingga berwarna kecokelatan dan beraroma kuat.

    Hasil proses itu lalu digiling menjadi bubuk kopi siap seduh.

    Kopi nipah memiliki rasa yang unik — sedikit manis, beraroma rempah, dan tidak menimbulkan rasa asam di lambung.

    Bahkan, penjualannya kini telah bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMD) Sebuntal untuk memperluas pemasaran.

    “Banyak pelanggan bilang rasanya unik, padahal tidak dicampur rempah apa pun. Ini murni dari buah nipah,” ujar Bashori.

    “Karena tanpa apapun sudah menciptakan rasa yang unik,” imbuh Bashori.

    Salah satu penikmatnya, Hepi Syahrizal Hasyim, mengaku kini bisa menikmati kopi kembali tanpa khawatir asam lambung kambuh.

    “Rasanya khas, ada aroma nipah yang lembut dan tidak asam. Nikmat sekali,” tuturnya.

    “Jadi dia punya testur rasa aroma tersendiri, berbeda dengan kopi-kopi yang lain yang saya rasa. Ini memang nikmat,” tambah Hasyim

    Kopi nipah kini menjadi kebanggaan baru warga pesisir Kutai Kartanegara, sekaligus bukti bahwa kekayaan alam lokal bisa menghadirkan inovasi bernilai tinggi — dari alam, oleh warga, dan untuk kesejahteraan bersama. (Suriyatman)

  • POLNES Hadirkan Pelatihan Barista dan Mocktail di Desa Wisata Sangkuliman

    KLIKSAMARINDA – Desa Wisata Sangkuliman terus memperkaya daya tariknya melalui program pendampingan kuliner. Setelah sukses dengan olahan ikan lokal dan kuliner ringan berbasis madu kelulut, kali ini masyarakat diperkenalkan dengan seni meracik kopi (barista) dan pembuatan mocktail non-alkohol sebagai bagian dari peningkatan kualitas layanan wisata.

    Kegiatan ini diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Samarinda (POLNES) melalui ketua tim pendamping Fauzan, serta menghadirkan narasumber I Wayan Sudarmayasa, dosen sekaligus sebagai Koordinator Prodi D3 Pariwisata Perhotelan Jurusan Pariwisata POLNES. Beliau merupakan barista tersertifikasi dengan pengalaman panjang di bidang peracikan kopi dan minuman.

    Belajar Kopi dan Mocktail dari Ahlinya

    Dalam pelatihan ini, para anggota Pokdarwis BMT Desa Wisata Sangkuliman mendapatkan pembekalan lengkap mengenai dunia kopi, mulai dari jenis kopi (Arabica, Robusta, Liberica, Excelsa), proses pascapanen, tingkat pemanggangan biji kopi (light, medium, dark roast), hingga metode penyeduhan manual dan mesin espresso.

    Tidak berhenti di kopi, peserta juga dikenalkan dengan seni meracik mocktail non-alkohol, sebuah minuman segar berbasis buah dan sirup alami yang kini banyak digemari wisatawan. Dengan kombinasi warna, rasa, dan kreativitas, mocktail menjadi sajian alternatif yang memperkaya variasi minuman di Desa Wisata Sangkuliman, sekaligus mempertegas identitas desa wisata ramah keluarga.

    Kopi dan Minuman Segar untuk Hospitality Desa Wisata

    Tujuan utama kegiatan ini adalah menyiapkan masyarakat agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. Melalui keterampilan barista dan mocktail, Sangkuliman diharapkan dapat menghadirkan pengalaman seperti di kafe modern, tetapi dengan nuansa khas pedesaan.

    “Meracik kopi dan mocktail bukan sekadar soal rasa, tapi bagaimana menciptakan pengalaman hangat dan berkesan bagi wisatawan. Kehangatan kopi dan kesegaran mocktail adalah bagian dari hospitality desa wisata,” ujar I Wayan Sudarmayasa.

    Dampak Ekonomi: Dari Kedai Kopi hingga Paket Wisata

    Selain meningkatkan kualitas layanan, pelatihan ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan keterampilan barista dan mocktail, warga dapat mengembangkan usaha kedai kopi sederhana di desa, menjual kopi bubuk lokal sebagai oleh-oleh khas, atau bahkan menawarkan paket wisata kopi yang menampilkan pengalaman lengkap dari penyeduhan hingga menikmati kopi di tepi Danau Semayang.

    Potensi ini diyakini akan menambah sumber pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat branding Desa Wisata Sangkuliman sebagai destinasi kuliner dan hospitality.

    Ketua Tim Pendamping, Fauzan, menegaskan: “Kami ingin Sangkuliman tidak hanya dikenal karena pesona alamnya, tetapi juga karena kualitas layanannya. Kopi dan mocktail bisa menjadi identitas baru desa wisata yang berdaya saing dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.”

    Menuju Desa Wisata Mandiri dan Berkelanjutan

    Dengan adanya pelatihan barista dan mocktail ini, Desa Wisata Sangkuliman tidak hanya meningkatkan keterampilan warga, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi tren wisata yang semakin menuntut variasi layanan dan kualitas produk. Sinergi antara perguruan tinggi, Pokdarwis, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan desa wisata mandiri, kreatif, dan berkelanjutan. (*)