Buku Sarekat Islam Kaltim Dirilis, Apa Kata Pakar Sejarah?
KLIKSAMARINDA – Buku “Sarekat Islam di Kaltim” resmi diluncurkan Kamis (10/9/2026) hari ini. Isinya tak sekadar menceritakan bagaimana elan perjuangan para pendirinya dari Pasar Pagi Samarinda. Tetapi juga sejarah eksisten organisasi ini di istana Kutai hingga Perang Sultan Paser.
Berlangsung di Ruang Ki Hajar Dewantara, Disdikbud Samarinda, peluncuran buku ini dihadiri sejumlah pakar sejarah local sebagai narasumber utama. Di antaranya sejarawan publik sekaligus penulis sejarah Muhammad Sarip, pengajar sejarah di MA Darussalam Internasional M. Ilham Syhaputra, dan Kaprodi Pendidikan Sejarah FKIP Unmul Rizal Izmi Kusuma.
Muhammad Sarip, sejarawan publik sekaligus penulis sejarah, menjelaskan pengerjaan buku “Sarekat Islam di Kaltim” tersebut dilakukan dengan gaya bahasa kekinian. Pasalnya ada gap bahasa yang terjadi saat ini saat sebuah sejarah ditulis dengan bahasa baku.
Makanya dalam proses itu, ia dibantu oleh proofreader sekaligus desainer sampul buku “Sarekat Islam di Kaltim”, Paramitha Putri H. Proofreader sendiri bertugas membaca dan memeriksa dokumen atau naskah untuk menemukan serta memperbaiki kesalahan teknis sebelum teks tersebut dipublikasikan.
“Banyak perubahan pada kata yang dulu dipakai dengan yang sekarang,” katanya, saat mengawali diskusi publik peluncuran buku “Sarekat Islam di Kaltim”.
Di balik itu, Sarip menjelaskan, publik kadung mengenal Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei. Tanggal dan bulan itu dipilih dengan rujukan berdirinya organisasi Budi Utomo pada 1908 dan ditetapkan Presiden Soekarno pada 1959.
Padahal, bagi Sarip, jika hanya berdasarkan berdirinya organisasi, maka Hari Kebangkitan Nasional harusnya jatuh pada 16 Oktober 1905 saat Sarekat Dagang Islam –sebelum menjadi Sarekat Islam– berdiri pertama kali.
“Justru yang lebih dulu ada Sarekat Islam. Meskipun nama awalnya Sarekat Dagang Islam,” jelasnya.
“Dibanding Budi Utomo, Sarekat Islam lebih banyak cabangnya di luar Pulau Jawa. Sementara Budi Utomo terbatas hanya kalangan priyayi Jawa,” timpal Sarip.
Itu sebabnya, Sarekat Islam ada di Kaltim. Di mana organisasi ini pertama kali hadir di Samarinda pada 1913. “Dan saya bisa bilang, Sarekat Islam ini meski lambangnya bulan dan bintang, tapi lebih mirip lilin. Dia menerangi sekitarnya dengan cahaya, tapi dia membakar dirinya sendiri karena banyak menghasilkan cikal bakal tokoh-tokoh penting yang punya nama besar dan menyebar di luar Sarekat Islam,” terang Sarip.
Selain itu, Kaprodi Pendidikan Sejarah FKIP Unmul, Rizal Izmi Kusuma, punya pendapat menarik mengenai buku “Sarekat Islam di Kaltim”. Ia mengatakan sempat berkunjung ke Kantor Sarekat Islam Kaltim di Jalan Panglima Batur melalui Walking Tour bersama pengajar sejarah di MA Darussalam Internasional M. Ilham Syhaputra. Di momen itu, Rizal mengikuti napak tilas perjuangan para cendekiawan lokal yang ada di organisasi tersebut.
“Ketika berbicara mengenai cendekiawan, berarti kita bicara mengenai orang-orang yang memiliki wawasan terbuka dibanding masyarakat umum. Mengingat pada waktu itu pendidikan bukan barang yang murah,” katanya.
Hadirnya Sarekat Islam di Kaltim, menurutnya, merupakan jawaban atas monopoli perdagangan yang dilakukan Belanda. Bahkan dengan memanfaatkan warga Tionghoa.
“Alurnya bagus. Ketika saya membaca buku ini, saya menemukan hal yang unik. Ini bukan gaya tulisannya bang Sarip (sejarawan publik Kaltim, Red.). Saya menemukan kata ‘vibe’ dalam buku sejarah,” akunya.
“Anak zaman kapan yang menulis kata ‘vibe’ dalam buku sejarah?” imbuh Rizal, tertawa.
Meski begitu, ia menekankan, membaca buku “Sarekat Islam di Kaltim” tidak membosankan. Sebab berbeda dengan kebanyakan buku sejarah umum.
Salah satunya adalah pembahasan mengenai culture anak muda di Sarekat Islam. “Ada grup band yang dinaungi Sarekat Islam. Ini menarik karena ank muda juga ternyata dirangkul oleh mereka,” tutupnya. (*)


