Warta

Dari Tangan Perempuan, Meronce di Gang Kutai Samarinda Bertahan (1)

Ornamen manik khas Kalimantan mungkin sudah tidak asing menghiasi berbagai produk fesyen. Namun, di balik kepingan kecil yang menjadi bagian dari tas atau dompet itu, ada tangan-tangan yang merangkainya satu per satu.

BUTIRAN manik berwarna hitam, putih, merah, kuning, dan hijau disusun rapat di atas benang. Dengan ketelitian dan kesabaran, manik-manik tersebut dironce hingga membentuk kepingan bermotif.

Di Gang Kutai, Jalan M. Said, Kota Samarinda, pekerjaan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sejumlah perempuan. Mereka menyebutnya cucuk manik atau meronce. Tiga perempuan dengan usia dan pengalaman berbeda masih menekuni cucuk manik di sana. Mereka adalah Emah (72), Fatmawati (55), dan Iin Parlina (51).

Ketiganya memiliki cerita yang berbeda tentang bagaimana mengenal dan bertahan dengan kerajinan tersebut. Emah, misalnya. Perempuan kelahiran Desa Kahala –Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar)– ini telah menekuni cucuk manik lebih dari 10 tahun. Fatmawati lain lagi. Dia telah mengenal cucuk manik sejak kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Sementara Iin, sekira 20 tahun telah menghabiskan waktu dengan manik-manik dan benang.

Di tangan mereka, butiran manik berwarna hitam, putih, merah, kuning, dan hijau disusun satu per satu hingga membentuk kepingan bermotif khas Kalimantan. Kepingan itu kemudian menjadi bagian dari tas maupun dompet yang dipasarkan sebagai produk kerajinan. Namun, pekerjaan yang masih bertahan itu kini tak lagi berada dalam kondisi seperti ketika pertama kali mereka mengenalnya.

Keterampilan yang Diturunkan
Fatmawati dan Iin Parlina telah menekuni cucuk manik selama puluhan tahun. Keduanya mempelajarinya dari orang tua. Bahkan Fatmawati sendiri sudah terampil sejak duduk di bangku kelas 4 SD. “Saya lupa umur pastinya, tapi saya ingat waktu itu saya kelas 4 SD. Diajarin mamak,” kata Fatmawati kepada KLIKSAMARINDA. Dari situ, sudah tak terhitung hasil meronce yang ia buat menjadi produk oleh-oleh khas Benua Etam.

Lain lagi pengakuan Emah. Keterampilan meronce tidak datang secara tiba-tiba. Berbeda seperti Fatmawati dan Iin Parlina yang sudah puluhan tahun meronce, Emah baru menekuninya sekira 10 tahun terakhir. Meski tidak diturunkan dari orang tuanya, di usia yang telah senja Emah belajar dari orang-orang di sekitarnya hingga akhirnya mampu mengerjakan pesanan sendiri. “Belajarnya orang juga. Dulu ada tempat belajarnya. Terus setelah mahir, kita kerjakan pesanan orang,” aku Emah.

Ruang Kreasi yang Dibatasi
Sudah puluhan tahun menekuni cucuk manik membuat Fatmawati, Iin Parlina dan Emah terbiasa mengerjakan berbagai motif. Wajah patung, bunga Dayak, hingga burung pernah menjadi bagian dari hasil karyanya.

Iin Parlina mengatakan, dulu para pengrajin memiliki keleluasaan untuk menentukan sendiri motif yang ingin dibuat. Selain muka patung, bunga atau ornamen Dayak, burung, dan naga, mereka juga bebas menentukan bentuk hiasan pada bagian pinggir atau lace. “Wajah patung, bunga Dayak, kadang juga burung. Tapi sekarang sudah tidak pernah bikin motif burung lagi,” ulasnya.

Kini, para pengrajin lebih banyak mengerjakan motif berdasarkan pesanan penadah. Motif yang dibuat berdasarkan kreativitas sendiri belum tentu dibeli apabila tidak sesuai dengan permintaan.

Akibatnya, tangan pengrajin tidak lagi sepenuhnya bebas menentukan apa yang ingin dibuat. Mereka harus menyesuaikan kreativitas dengan apa yang sedang dibutuhkan pasar.

“Dulu kita bebas bikin motif apa saja, lalu dikumpulin dulu dan bisa puluhan pasang baru disetor ke penadah. Sekarang cuma bisa bikin kalau ada pesanan,” urainya.

Tak Lagi Seramai Dulu
Perubahan tersebut berjalan beriringan dengan menyusutnya rantai perdagangan cucuk manik. Dulu, kata Fatmawati, hampir sepanjang Gang Kutai dipenuhi ibu-ibu yang meronce. Dari ujung hingga bagian belakang gang, aktivitas tersebut menjadi pemandangan sehari-hari.

“Daripada cuma kumpul dan menggosip kan, kami cucuk manik saja. Lumayan ada pemasukan,” jelas Fatmawati.

Penadah yang menampung hasil pekerjaan mereka pun lebih banyak. Ketika pesanan ramai, para pengrajin bisa mengerjakan hingga puluhan pasang kepingan.

Sistem kerjanya juga berbeda. Bahan manik-manik disediakan oleh pihak yang memberikan pekerjaan. Pengrajin tinggal mengerjakan pesanan, kemudian menerima upah berdasarkan jumlah keping yang berhasil diselesaikan.

“Harganya tidak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang kami jualnya Rp50 ribu per keping. Karena sepasang, jadi Rp100 ribu. Terus manik-maniknya masih murah dan disediakan dari penadah. Jadi kami menerima upah,” terangnya.

Upah cucuk manik sendiri, kata Fatmawati, tidak begitu besar. Ia menyebut pernah mencapai sekitar Rp15 ribu per keping. Pun upah tersebut tidak dipotong pembelian manik-manik dan permintaan masih banyak. Bahkan ia menyebut pemasukan dari cucuk manik bisa ditabung hingga membeli emas perhiasan.

Kini, jumlah penadah yang masih aktif disebut tinggal satu. Pengrajin juga harus membeli sendiri manik-manik yang digunakan. Harga bahan tidak seragam karena dipengaruhi warna dan merek.

“Ada yang sekitar Rp19 ribu per pon, sementara jenis lainnya mencapai Rp28 ribu hingga Rp29 ribu per pon. Tapi harga jual hasil cucuk manik itu tetap sama. Jadi ya keuntungan sekarang sangat menurun,” ucapnya.

Butuh Beberapa Warna
Iin Parlina menyatakan, dalam satu keping, setidaknya dibutuhkan beberapa warna. Hitam menjadi salah satu warna yang paling banyak digunakan sebagai dasar, kemudian putih, serta warna lain seperti merah, kuning, atau hijau untuk membentuk motif.

Sementara harga jual kepingan relatif tetap. Dengan harga Rp100 ribu untuk sepasang kepingan hasil meronce, angka tersebut belum menjadi pendapatan bersih pengrajin. Mereka masih harus mengeluarkan biaya untuk membeli manik-manik dan bahan lainnya.

Jika dulu bahan disediakan dan pengrajin menerima upah sekitar Rp15 ribu per keping, kini keuntungan yang tersisa setelah memperhitungkan biaya bahan disebut hanya sekitar Rp5 ribu per keping.

“Kalau dulu has penjualan bisa untuk beli emas, sekarang mah cuma bisa beli ikan untuk makan sehari-hari,” tutup Iin Parlina. (*)

Tinggalkan Balasan