Dari Tangan Perempuan, Meronce di Gang Kutai Samarinda Bertahan (2-Habis)
Kepingan yang dikerjakan para pengrajin di Gang Kutai, Jalan M. Said, Kota Samarinda, sebenarnya masih memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan konsumen.

HASIL cucuk manik dikumpulkan penadah. Kemudian diteruskan kepada pembuat tas. Kepingan tersebut dipasang menjadi bagian dari tas yang kemudian dipasarkan di toko-toko suvenir.
Produk yang telah menjadi tas itu dapat dijual dengan harga sekitar Rp350 ribu. Dengan begitu, kepingan yang dibuat satu per satu oleh pengrajin menjadi bagian dari produk dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi setelah melewati rantai produksi berikutnya.
Jangkauan pemasaran cucuk manik juga diyakini tidak hanya berada di Samarinda. Iin Parlina, salah satu pengerajin di sana, mengingat pernah ada tetangga mereka yang memiliki kerabat dengan toko di Malaysia. Hasil cucuk manik dari para pengrajin kemudian dikirim untuk dipasarkan di sana.
“Dulu ada tetangga yang keluarganya di Malaysia dan punya toko. Jadi biasa ada produk seperti tas, dompet, dan tempat tisu yang dijual di sana,” katanya kepada KLIKSAMARINDA.
Mereka tidak mengetahui secara pasti seberapa luas produk tersebut kini beredar. Namun, cerita itu menunjukkan bahwa hasil kerja tangan dari Gang Kutai pernah memiliki jalur pasar hingga ke luar Indonesia.
Generasi yang Bertahan
Di tengah perubahan tersebut, baik Fatmawati, Iin Parlina maupun Emah tetap melanjutkan pekerjaan yang telah mereka kenal selama bertahun-tahun. Rentang waktu tersebut membuat keduanya melihat bagaimana cucuk manik berubah dari masa ke masa.
Dulu, kata Emah, hampir seluruh bagian Gang Kutai dipenuhi perempuan yang meronce. Kini, dari generasi lama disebut hanya tersisa sekitar ia dan Fatmawati serta Iin Parlina.
Emah akui ada anak muda yang melanjutkan cucuk manik. Generasi muda yang mulai mengikuti keterampilan tersebut pun tidak banyak. “Hanya sekitar satu atau dua orang yang disebut mulai meneruskan,” aku Emah.
Perubahan itu membuat keberlangsungan cucuk manik tidak hanya bergantung pada kemampuan pengrajin yang masih ada, tetapi juga pada kemauan generasi berikutnya untuk mempelajarinya. Sebab, cucuk manik membutuhkan ketelitian dan waktu. Setiap keping harus dikerjakan satu per satu sebelum akhirnya dapat dipasangkan dengan kepingan lain yang memiliki motif dan warna sama.
Meski menghadapi perubahan, Emah, Fatmawati dan Iin Parlina masih memiliki harapan agar keterampilan tersebut tidak berhenti pada generasi mereka.
Bagi ketiganya, cucuk manik bukan hanya soal penghasilan. Ada keterampilan yang diwariskan dari orang-orang terdahulu dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Gang Kutai. Namun lebih jauh dari itu, ketiganya berharap ada angin segar untuk pasar penjualan cucuk manik. Sebab kata Fatmawati, mundurnya para pengrajin salah satunya disebabkan menurunnya jumlah penadah.
“Kami harap pasarnya cucuk manik bisa banyak dan penadah juga banyak lagi seperti dulu. Kalau banyak, orang-orang jadi minat untuk belajar lagi,” tandas Emah. (*)



