Beban Petani Tanah Datar Kukar Bertahan di Musim Kemarau: Hadapi Krisis Air dan Serangan Hama
Kliksamarinda.com – Perhatian kepada petani sebagai sumber penghasil pangan tampaknya masih isapan jempol di Kalimantan Timur (Kaltim). Misalnya bagi petani di Tanah Datar Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang pada pertengahan Agustus 2026 tengah menghadapi krisis kekeringan di lahan pertanian mereka.
Kemarau panjang membuat beban petani Tanah Datar Kukar makin berat. Itu tidak diantisipasi sebelumnya. Air menjadi semahal barang berharga. Untuk menjaga tanaman tetap hidup, petani harus menarik selang hingga ratusan meter dari sumber air ke lahan. Artinya tak ada bantuan dari pihak manapun atau dibiarkan menelan kekeringan sendirian.
Setiap hari mereka menyedot sisa air tanah menggunakan mesin pompa. Upaya itu menjadi pilihan terakhir agar tanaman tidak mati sebelum masa panen.
Namun, perjuangan tersebut tidak gratis. Tanah di lahan pertanian mulai keras dan pecah-pecah. Kondisi ini menjadi tanda betapa panjangnya kemarau yang mereka hadapi.
Petani harus terus menghidupkan mesin pompa untuk mengalirkan air. Di saat yang sama, harga bahan bakar ikut menambah beban.
BBM jenis solar menjadi salah satu kebutuhan utama untuk menjalankan pompa. Semakin lama proses pengairan berlangsung, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.
Bagi petani hortikultura, situasi ini jelas bukan perkara sederhana. Mereka harus memilih antara mengeluarkan modal tambahan atau membiarkan tanaman kehilangan pasokan air.
Masalah petani Tanah Datar tidak berhenti pada krisis air. Cuaca panas ekstrem juga memicu serangan hama. Tanaman hortikultura menjadi sasaran. Salah satu yang paling terdampak adalah tanaman cabai.
Serangan hama membuat kondisi tanaman memburuk. Sebagian petani bahkan memperkirakan cabai mereka tidak lagi mampu bertahan hingga panen.
Khoirul Munasikin, petani asal Desa Tanah Datar, mengatakan kondisi tersebut membuatnya harus mengubah rencana tanam.
Ia mulai mempertimbangkan tomat sebagai pengganti cabai.
Menurut Khoirul, tanaman cabai yang ada sudah mengalami serangan hama. Padahal, tanaman tersebut seharusnya masih bisa berproduksi lebih lama.
“(Karena) faktor kekeringan, serangan hama meningkat. Cuaca panas, hama langsung menyerang semua. Ekstrem,” ujar Khoirul, Rabu, 12 Agustus 2026.
Penyuluh pertanian di kawasan Tanah Datar, Dewi, mengatakan kondisi kemarau kali ini membuat beban petani semakin berat.
Selain tanaman kekurangan air, sejumlah hama dan penyakit ikut menyerang.
Dewi menyebut sedikitnya ada tiga jenis hama yang ditemukan. Di antaranya kutu kebul, trips, dan tungau.
Serangan tersebut membuat petani harus mengeluarkan modal tambahan untuk pengendalian hama. Mereka juga harus membeli bahan bakar untuk mengoperasikan mesin pompa air.
“Ini cukup berat, ya, untuk petani kita yang ada di wilayah Kukar, termasuk Kecamatan Muara Badak, di Desa Tanah Datar ini,” kata Dewi.
Krisis air dan serangan hama akhirnya memaksa petani mengambil keputusan sulit.
Sebagian petani cabai memilih membongkar tanaman lebih awal. Mereka tidak ingin terus mengeluarkan biaya untuk tanaman yang peluang panennya semakin kecil.
Tanaman cabai kemudian akan diganti dengan komoditas lain yang membutuhkan lebih sedikit air.
Langkah tersebut bukan berarti tanpa risiko. Petani kembali harus mengeluarkan modal untuk menyiapkan lahan dan bibit.
Namun, pilihan itu menjadi cara mereka bertahan.
Di tengah tanah yang mengering dan harga bahan bakar yang membebani petani Tanah Datar, mereka hanya punya satu harapan: hujan segera turun dan lahan kembali mendapat pasokan air. (*)
Reporter: Suriyatman



