Opini

OPINI: “Satanisme” di Samarinda

Oleh:
Faisal Rahman

Aroma dupa dan kemenyan di atas prapen menjalar sempurna. Seorang pemuda dengan tampilan corpse paint berdiri tegak. Dia kemudian mengigit leher seekor kelinci hidup-hidup.

“Cprattt!” Leher mamalia itu robek dari leher hingga ke dada. Cipratan darahnya menyebar ke mana-mana. Dalam kondisi setengah hidup, hewan itu kemudian dilempar ke depan.

Crowd di bawah panggung seketika menggila. Asap dupa dan kemenyan menyatu sempurna. Dengan aroma alkohol di mulut serta keringat di badan. Menciptakan bau tengik yang mungkin tak pernah dicium sebelumnya. Siapapun orang awam yang berada di sana, bisa muntah dalam sekejap.

Kedua tangan mereka ke atas bersama-sama, dengan jari membentuk simbol Sign of the Horns. High scream lalu terdengar dari mulut pemuda yang mengigit kelinci tadi. Gemericing cymbal kemudian berbunyi. Distorsi gitar dari stompbox meraung berat. Saat musik dimainkan, meledaklah suasana di gigs itu.

Para pemuda dengan rambut panjang, black t-shirt, jeans belel, dan kets, saling membenturkan badan satu dengan yang lain –pogo. Dalam “kekacauan” itu, tak ada baku pukul di antara mereka. Semua tak sekadar bersorak. Mereka juga mengumpat karena kegirangan.

Salah satu band black metal Samarinda saat tampil di gig “Samarinda Bergerak”, 31 Desember 2003, di Auditorium Unmul. (FOTO: Dok. Pribadi/Mad Distro)

Bayangan itu terekam jelas diingatan saya saat masih duduk di kelas III SMP. Saya menyaksikannya di GOR Untag, Samarinda. Puluhan band underground lokal tampil di sana. Termasuk band punk.

Jauh hari momen itu, untuk pertama kali, saya mengenal subgenre musik ekstrem ini saat membolos sekolah untuk nonton Mahakam Metal Fest. Digelar di depan Gedung Behempas, GOR Segiri, Samarinda, event itu –jika tidak salah– berlangsung selama dua hari. Sabtu dan Minggu. Dari pagi hingga nyaris tengah malam.

Di era 2000-an, kehadiran musisi black metal bisa ditemukan di pelbagai tempat di Samarinda: gigs, parade, hingga festival musik resmi bersponsor sekalipun. Saat itu, subgenre musik ekstrim memang menggejala. Bahkan hingga tahun-tahun berikutnya sebelum 2010.

Nyaris setiap sudut Kota Tepian, rasanya selalu ada band-band amatir dengan genre musik ekstrem berdiri. Mereka eksis di panggung berskala besar dan kecil. Era keemaan ini juga ditandai dengan hadirnya buku “The Satanic Bible” yang dibuat oleh Anton Zsandor LaVey dan dijual bebas di Gramedia saat itu.

Riset saya mengenai black metal memang selalu menemui jalan buntu. Meski seluruh materinya telah saya kumpulkan sejak 2020 lalu. Persoalannya terletak pada informasi yang tak bisa dibuktikan secara sahih mengenai muasal subgenre musik ektrem ini hadir di Benua Etam. Nama-nama para pembesar di skena ini punya versi cerita masing-masing dan tidak terhubung. Meski pada satu titik, cerita mereka berkelindan satu sama lain.

Namun yang pasti, pengaruhnya datang dari banyak hal. Misalnya dari dirilisnya Metalik Klinik 1 pada 1997. Album musik ektrem produksi Rotorcorp ini dianggap paling bersejarah dan menjadi titik penting perkembangan musik underground di Indonesia. Khususnya di Kaltim.

Faktor lainnya yang juga sering disebut adalah karena segelintir pemuda Kaltim yang kuliah di Pulau Jawa. Kedatangan mereka kembali ke kampung halaman ternyata tak hanya membawa ijazah setelah menyelesaikan studi. Tapi juga membawa seabrek informasi mengenai musik ektrem: kaset, VCD, stiker, dan lain-lain. Meski dianggap sebagai anak orang kaya dan borjuis, peran mereka dalam menyebarkan black metal tak bisa dibantahkan.

Selain itu, faktor berikutnya adalah urbanisasi. Kehadiran pendatang dari Pulau Jawa ke Kaltim, juga disebut-sebut sebagai titik penting pengaruh black metal hadir.

Di balik itu, nama yang sering mencuat dalam riset yang saya lakukan adalah Tantra Ritual. Band ini diklaim sebagai salah satu tonggak penting lahirnya subgenre musik ekstrim black metal di Samarinda pada era 90-an. Sekali waktu, saya pernah melihat dokumentasi mereka. Bukan dalam bentuk terbaik. Melainkan fotokopi hitam putih. Dokumentasi itu disimpan oleh Edy, drummer Barasatan –grup band black metal yang berbasis di Jalan Cendana, Gang 16.

Perkembangan skena black metal di Samarinda pada era 2000 merupakan salah satu periode paling menarik, dinamis, sekaligus penuh tantangan dalam sejarah musik ekstrem di Kaltim. Pengaruh gelombang band black metal dari Pulau Jawa seperti Santet, berpadu dengan pengaruh band black metal mancanegara seperti Mayhem, Dimmu Borgir, dan Cradle of Filth.

Di Samarinda, pasca Tantra Ritual, band-band berikutnya tentu lebih visioner. Barasatan dan Satanic Mantra, adalah dua nama yang mewakili wajah subgenre ini di era keemasannya di Samarinda. Mereka juga berhasil meninggalkan jejak di sejumlah album kompilasi secara nasional. Sesuatu yang sangat sukar dicapai saat itu oleh abnd lokal dengan subgenre musik ektrem black metal.

Berbeda dengan pendahulunya, Barasatan dan Satanic Mantra justru banyak mengeksplorasi melodi lokal. Bagian menariknya, lirik-lirik yang mereka buat justru mengutuk habis-habisan satanisme. Sesuatu yang barangkali tak diketahui mereka yang menyaksikan dua band ini karena suara vokalnya yang high scream.

Ya. Masa di mana medsos dan internet belum eksis seperti saat ini, Barasatan dan Satanic Mantra telah melakukan lompatan dalam skena underground lokal. Meski pola produksi dan distribusi dilakukan secara independen.

Bagi mereka yang hadir di era keemasan itu, dua band black metal ini tentu saja tak sekadar mewakili kiblat subgenre musik ektrim black metal di Samarinda. Barasatan dan Satanic Mantra juga mewakili kawasan yang bertahun-tahun dianggap “Texas” pada masanya: Jalan Cendana dan Kelurahan Kampung Jawa. (*)

Note: Penulis merupakan wartawan dan aktif di skena punk. Pernah merilis zine “Harram Jaddah”. Kini sedang menulis buku berjudul “United Freedom: Komunitas Punk Pertama Samarinda” dan masih melakukan riset mendalam mengenai subgenre musik ekstrim black metal di Samarinda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda@gmail.com