Warta

Dua Startup Internasional Terpilih dalam Global Ocean Innovation Challenge untuk Perkuat Konservasi Laut Indonesia

Kliksamarinda.com – Dua startup internasional, Havoc dari Amerika Serikat dan blueOASIS dari Portugal, terpilih untuk mengembangkan dan mengujicobakan inovasi teknologi dalam upaya pelestarian laut dan pesisir di Indonesia. Keduanya, merupakan bagian dari tiga startup terpilih dalam Global Ocean Innovation Challenge, sebuah inisiatif yang digagas oleh organisasi konservasi The Nature Conservancy (TNC) bersama Newlab, sebuah platform kolaborasi startup dan industri berskala global.

Havoc startup internasional terpilih berkat inovasinya dalam mengembangkan armada kapal permukaan tanpa awak (autonomous surface vessel) yang dapat digunakan secara terus-menerus untuk memantau kawasan konservasi laut. Teknologi ini memungkinkan perluasan jangkauan pemantauan sekaligus mengurangi beban pada patroli konvensional yang membutuhkan biaya besar serta berisiko bagi petugas di lapangan.

Sementara itu, blueOASIS menghadirkan stasiun pemantauan suara bawah air bertenaga surya yang dilengkapi kecerdasan buatan (artificial intelligence) guna mendeteksi mamalia laut seperti paus dan hiu, serta aktivitas laut lainnya secara langsung (real time). Teknologi ini dinilai efektif untuk meningkatkan pengawasan di kawasan terpencil dan wilayah laut yang selama ini sulit dipantau secara rutin.

Teknologi Pemantauan Jarak Jauh untuk Kawasan Konservasi dan Mamalia Laut

Global Ocean Innovation Challenge memilih Indonesia sebagai wilayah uji coba pertama penerapan teknologi ini, dengan fokus pada Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur. Selain merupakan bagian dari kawasan Segitiga Karang Dunia (Coral Triangle), wilayah perairan tersebut dikenal sebagai jalur migrasi penting bagi mamalia laut, sehingga membutuhkan sistem pemantauan yang andal dan berkelanjutan.

Pemanfaatan teknologi jarak jauh diharapkan dapat membantu mengatasi keterbatasan anggaran pengelolaan kawasan konservasi, sekaligus meningkatkan pemantauan migrasi dan spesies laut kunci yang selama ini belum optimal. Segitiga Karang Dunia merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, mencakup sekitar 76 persen dari seluruh spesies terumbu karang global dan menjadi habitat bagi lebih dari 3.000 spesies ikan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Miftahul Huda menyampaikan, Havoc dan blueOASIS terpilih karena dinilai mampu memberikan solusi atas tantangan yang dihadapi Indonesia. “Wilayah laut kita sangat luas dan bahkan banyak yang terpencil. Kita membutuhkan inovasi teknologi untuk mengatasi hal tersebut, sekaligus membantu mencapai target komitmen nasional KKP melindungi 97,5 juta hektare kawasan perairan pada tahun 2045,” ujar Huda.

Untuk memastikan kesiapan implementasi teknologi di Indonesia, rangkaian seleksi ini diikuti dengan konsultasi teknis lintas pemangku kepentingan yang berlangsung pada 29 April 2026 di Jakarta. Pertemuan tersebut melibatkan KKP, instansi keamanan, kementerian dan lembaga terkait, serta mitra pembangunan seperti Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Konsultasi ini menjadi langkah penting guna memastikan kesiapan lintas sektor dan keselarasan kebijakan dalam penerapan inovasi teknologi konservasi laut di Indonesia.

Sejak diluncurkan pada Januari 2026, Global Ocean Innovation Challenge menerima lebih dari 60 proposal dari pengembang teknologi dan startup dari 24 negara. Seluruh proposal diseleksi melalui proses ketat berdasarkan kelayakan teknis serta kesesuaian ide dengan kebutuhan konservasi di lapangan.

Program ini dirancang dalam tiga fase. Fase pertama, yang berlangsung hingga pertengahan 2026, difokuskan pada identifikasi tantangan utama, pemilihan teknologi, serta pelaksanaan proyek percontohan. Fase kedua akan berlangsung pada akhir 2026 dengan mereplikasi pembelajaran dari Indonesia ke sejumlah lokasi lain di kawasan Asia Pasifik, dengan fokus pada peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dan perikanan industri berkelanjutan.

Selanjutnya, fase ketiga diarahkan untuk pengembangan solusi berskala global sekaligus membuka peluang komersialisasi teknologi terpilih. “Pemanfaatan teknologi pemantauan yang andal sangat penting untuk memastikan pengelolaan ruang laut dan kawasan konservasi berjalan sesuai rencana. Data yang lebih akurat dan real time akan membantu proses perencanaan, pengawasan, dan pengambilan kebijakan yang lebih tepat dan responsif,” tambah Huda.

Kolaborasi Uji Coba Teknologi dan Penguatan Kapasitas Lokal

Kedua startup dijadwalkan memulai uji coba teknologi mereka pada Juni 2026. Sejak tahap pengembangan hingga pelaksanaan uji coba, kedua perusahaan bekerja erat dengan lembaga pemerintah, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), serta berbagai mitra lainnya, termasuk masyarakat lokal, guna memastikan teknologi yang dikembangkan benar-benar menjawab tantangan di lapangan.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menyatakan antusiasmenya menanti kehadiran teknologi dari kedua startup tersebut. Menurutnya, bagi negara dengan wilayah laut yang luas dan terpencil seperti Indonesia, teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan pokok.

“Kami berharap teknologi ini dapat menjembatani kesenjangan yang selama ini ada dalam hal pemantauan dan ketersediaan data, sekaligus memperkuat kapasitas lokal untuk pengelolaan kawasan konservasi laut dan perikanan secara lebih efektif,” tutup Ilman.

Melalui Global Ocean Innovation Challenge, ketiga startup terpilih akan menerima dukungan dana hibah sebesar total US$200.000. Selain pendanaan, para startup juga akan mendapatkan dukungan teknis, keahlian di bidang konservasi, serta akses ke jaringan investor dan berbagai sumber daya untuk mendukung pengembangan prototipe teknologi mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *