Tiga Kelompok Perempuan Raja Ampat Berbagi Kisah Soal Kepemimpinan dan Konservasi di Bali
Bali – Tiga kelompok perempuan dari Misool, Kabupaten Raja Ampat, berbagi pengalaman kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dalam sebuah pertemuan yang berlangsung selama tiga hari di Gianyar, Bali 9–11 April 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bersama, sekaligus menegaskan peran penting perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan mereka dan juga melestarikan alam.
Ketiga kelompok yang terlibat adalah Waifuna dari Kampung Kapatcol, Joom Jak dari Kampung Aduwei, dan Zakan Day dari Kampung Salafen yang keseluruhannya berjumlah 20 perempuan, terdiri dari mama-mama serta perempuan muda.
Mereka membahas praktik kepemimpinan perempuan berbasis kearifan lokal, khususnya pengelolaan perikanan melalui sistem adat sasi.
“Praktik sasi yang dipimpin oleh kelompok perempuan di kampung kami sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Hasilnya tidak hanya menjaga alam tetap lestari, tetapi juga perlahan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kami,” ujar Mama Almina Kacili, Ketua Kelompok Sasi Perempuan Waifuna dari Kampung Kapatcol.
Ia menceritakan bahwa praktik sasi telah lama diterapkan secara turun-temurun, namun sebelumnya selalu dipimpin oleh laki-laki. Budaya patriarki yang kuat membuat peran perempuan kerap terpinggirkan.
“Pada 2008, kami melihat bagaimana laki-laki mengelola sasi. Kami ingin bisa melakukan hal yang sama. Dari situlah kelompok Waifuna terbentuk dan kami diizinkan mengelola area sasi seluas 32 hektare,” tuturnya.
Ketelatenan dan konsistensi Waifuna dalam mengelola sasi membuahkan kepercayaan dari perangkat kampung, pihak adat dan gereja. Manfaat yang dirasakan masyarakat secara luas, sehingga pada 2019 wilayah kelola mereka diperluas menjadi 213 hektare.
Keberhasilan itu juga yang kemudian menginsipirasi kampung lain untuk menjalankan sistem yang sama yaitu di Aduwei dan Salafen. Pada tahun 2022, kedua kampung ini membentuk kelompok perempuan pengelola sasi.
Mama Ribka, Ketua Kelompok Jom Jak Sasi dari Kampung Aduwei menjelaskan, dengan adanya sasi mereka bisa punya tabungan yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan baik untuk sesama anggota kelompok dan juga bagi masyarakat secara umum.
“Biasanya sebelum buka sasi, kami berdiskusi hasil sasi akan digunakan untuk apa. Bisa untuk keperluan gereja, sampai untuk kebutuhan pendidikan maupun kesehatan masyarakat,” sebut Mama Ribka.
Sasi: Kearifan Lokal yang Mendorong Perubahan Sosial
Sasi merupakan sistem adat yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam dengan membuka dan menutup akses suatu area pada periode tertentu, dan umum dijumpai di Indonesia Timur.
Menurut Manajer Program Kelautan YKAN, Hilda Lionata, penerapan sasi di tiga kampung ini membawa dampak sosial yang signifikan, terutama bagi posisi perempuan dalam pengambilan keputusan.
“Mereka tidak lagi malu atau takut menyampaikan pendapat maupun terlibat dalam pengambilan keputusan di kampung. Mereka yang sebelumnya jarang diundang ke pertemuan masyarakat dan tidak vokal dalam pengambilan keputusan, kini selalu diundang ke rapat kampung karena telah terdaftar sebagai salah satu kelompok resmi di kampung,” papar Hilda.
Ia menambahkan, YKAN telah mendampingi kelompok sasi perempuan Waifuna sejak tahun 2008. Pendampingan mencakup pelatihan dasar pemahaman siklus hidup hewan yang disasi (teripang, lola, lobster) yang mendasari aturan tangkap dan ukuran tangkap hingga pelatihan teknis sepertipemantauan biota laut, pelatihan selam bebas yang aman, serta pengoperasian perahu.
Pertemuan di Bali diharapkan dapat memperkuat jejaring dan kolaborasi antar kelompok perempuan praktisi sasi serta menginspirasi wilayah lain untuk mengintegrasikan keadilan gender dalam upaya konservasi laut.
Pengalaman perempuan Misool menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dan kearifan lokal dapat berjalan seiring dalam menjaga alam dan masa depan komunitas.
“Pengalaman Waifuna, Joom Jak, dan Zakan Day menegaskan bahwa keadilan gender dan konservasi laut saling menguatkan. Ketika perempuan diberi ruang dan pengakuan, praktik panen berkelanjutan menjadi lebih efektif dan manfaatnya dirasakan lebih adil,” pungkas Hilda.
Di hari terakhir para peserta juga mendapat pembekalan terkait pengelolaan ekowisata yang di kelola kelompok perempuan, melalui kunjungan langsung ke salah satu lokasi ekowisata di Bali. (*)




