Warta

Pertanyaan Riset Paling Mendesak tentang Gambut Global dari Ilmuwan Dunia

Jakarta – Tim peneliti internasional berhasil mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan riset paling mendesak yang hingga kini masih belum terjawab terkait ekosistem gambut dunia. Temuan ini menjadi peta jalan global yang diharapkan dapat memandu arah ilmu pengetahuan dan kebijakan bagi salah satu ekosistem paling penting sekaligus paling terancam di planet ini.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment (Nature Portfolio) pada 28 April 2026 ini melibatkan 467 partisipan dari 54 negara, termasuk peneliti, praktisi, dan pakar kebijakan. Di Indonesia, penelitian ini dilaksanakan dengan melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Universitas Tanjungpura, Universitas Atmajaya, termasuk dua lembaga nirlaba lingkungan yaitu Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Center for International Forestry Research (CIFOR).

Indonesia menjadi salah satu wilayah penting dalam penelitian ini karena memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia. Melalui survei dan analisis pendapat para ahli gambut dunia, penelitian ini menyoroti kesenjangan pengetahuan kritis serta area riset yang berpotensi memberikan dampak terbesar bagi mitigasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan pengelolaan lahan berkelanjutan.

Gambut: Ekosistem Penting untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Lahan gambut di dunia hanya mencakup sekitar tiga persen permukaan daratan Bumi atau sekitar 400 juta hektar, namun menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan seluruh hutan dunia. Dalam kondisi sehat dan jenuh air, gambut mampu menyimpan karbon selama ribuan tahun. Namun ketika mengalami drainase, kebakaran, penambangan, atau alih fungsi lahan, karbon dalam gambut cepat melapuk, dan berubah menjadi emisi gas rumah kaca yang sangat besar.

“Meski perannya sangat penting, hingga kini dunia masih kekurangan pengetahuan mendasar mengenai bagaimana ekosistem gambut merespons perubahan iklim, bagaimana memulihkannya secara efektif, serta bagaimana melindunginya tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang bergantung pada ekosistem ini,” ujar pakar gambut tropis dari Universitas Tanjungpura, Prof. Gusti Z. Anshari yang terlibat dalam penelitian internasional ini.

Ia menjelaskan bahwa untuk menjawab tantangan tersebut, para peneliti melakukan survei global yang melibatkan ilmuwan, praktisi, dan pembuat kebijakan dari berbagai belahan dunia. Mereka diminta mengidentifikasi pertanyaan riset paling mendesak yang belum terjawab, mulai dari aspek ekologi, hidrologi, dan biogeokimia hingga ilmu iklim dan ilmu sosial. “Pertanyaan-pertanyaan terpilih mencerminkan beragam kondisi gambut, mulai dari gambut boreal, temperate, hingga tropis, termasuk hutan rawa gambut Asia Tenggara dan tundra Arktik,” sebutnya.

Sejumlah isu utama yang diangkat dalam penelitian ini antara lain: seberapa luas dan bagaimana distribusi gambut global, terutama di wilayah yang masih minim pemetaan; di mana titik balik ekologis yang menyebabkan gambut berubah dari penyerap menjadi pelepas karbon; serta bagaimana pengetahuan ekologi tradisional dan peran masyarakat adat dapat diintegrasikan secara efektif dalam pengelolaan dan restorasi gambut.

Studi ini juga menyoroti potensi pemanfaatan teknologi mutakhir, seperti penginderaan jauh dan kecerdasan buatan, untuk memperkuat sistem pemantauan gambut, serta menekankan pentingnya inisiatif global yang mampu mendorong pengelolaan gambut secara adil, inklusif, dan memberdayakan masyarakat lokal.

Memperkuat Sains Gambut melalui Sistem MRV

Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim YKAN, yang juga peneliti gambut yang terlibat dalam penelitian ini Dr. Nisa Novita menyebutkan, salah satu pertanyaan besar yang muncul dari studi ini adalah bagaimana Indonesia dapat memperkuat dan menjaga keberlanjutan sistem pemantauan gambut. Tantangan ini menjadi krusial mengingat gambut Indonesia sangat rentan terhadap alih fungsi lahan dan kebakaran, terutama pada musim kemarau.

Dalam menjawab tantangan tersebut menurut Nisa, YKAN terus berupaya meningkatkan sistem Pengukuran (Measurement), Pelaporan (Reporting), dan Verifikasi (Verification) atau biasa disingkat MRV untuk stok karbon dan emisi gas rumah kaca di lahan gambut. Upaya ini dilakukan melalui pemantauan emisi jangka panjang dan survei karbon intensif, khususnya di Kalimantan Barat.

“Kegiatan kami mencakup penggunaan metode closed chamber, pemasangan alat pemantauan fluks gas karbon dengan metode Eddy Covariance, serta restorasi gambut melalui pembangunan sekat kanal, pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis masyarakat, dan penanaman kembali,” jelas Nisa.

Ia menegaskan bahwa penguatan MRV menjadi fondasi penting bagi kebijakan terkait gambut yang berbasis sains. “Data yang kuat dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar restorasi gambut benar-benar berdampak pada penurunan emisi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *