Pemkab Kutai Kartanegara

  • BUMDes Sumber Sari Kukar Mulai Ekspansi ke Sektor Wisata untuk Dongkrak Pendapatan Asli Desa

    Kutai Kartanegara, KLIKSAMARINDA – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumber Sari di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai ekspansi ke sektor pariwisata setelah sekian lama fokus pada penjualan hasil pertanian.

    Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno, menilai sektor pariwisata di Desa Sumber Sari memiliki banyak potensi.

    Sejak berdiri tahun 2015, BUMDes Sumber Sari telah bergerak ke ranah wisata melalui kerja sama dengan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) setempat.

    Tahun ini, dana desa dialokasikan untuk membangun lahan glamping (glamorous camping) di kawasan puncak desa, lengkap dengan gazebo dan akses jalan setapak.

    “Lantai glamping ini akan kami sewakan, terutama saat akhir pekan. Hasil sewa nantinya dibagi antara Pokdarwis dan BUMDes,” ungkapnya belum lama ini.

    Langkah ini diharapkan menambah Pendapatan Asli Desa (PAD) baru dan memberikan alternatif penghasilan bagi warga.

    Puncak desa yang sejuk dan pemandangan lembah sungai Mahakam menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dalam dan luar wilayah.

    Sutarno mengakui bahwa BUMDes belum banyak berperan dalam distribusi beras dan padi yang menjadi andalan di wilayahnya.

    Saat ini, pola petani langsung menjual ke pasar atau via penggilingan milik warga.

    “Petani di desa kami terbiasa menjual sendiri. Jika BUMDes masuk ke rantai itu, harga jual bisa jadi kurang kompetitif,” ungkapnya.

    Meski demikian, kata dia, BUMDes tetap mengambil peluang saat ada permintaan massal.

    Pada satu kesempatan, desa tetangga memesan 2 ton beras, sehingga BUMDes memperoleh margin yang menguntungkan karena harga pesanan di atas rata-rata pasar.

    “Ketika ada pesanan besar, pelanggan bersedia bayar sedikit lebih tinggi. Itulah momen bagi BUMDes untuk mendapatkan keuntungan,” paparnya.

    Namun kondisi tersebut tak selamanya bertahan stabil. Menurut Sutarno, pengembangan BUMDes Sumber Sari ke depan adalah merencanakan penambahan fasilitas seperti titik selfie, area piknik, dan akses tracking ringan.

    Pasalnya, mereka juga akan melatih warga sebagai pemandu wisata serta mengembangkan oleh-oleh khas desa, demi menciptakan ekosistem wisata terpadu.

    “Ini baru rintisan tahun ini. Kami optimis tahun depan sudah bisa melihat kontribusi nyata PAD dari sektor wisata,” tutupnya. (Adv/Diskominfo Kukar)

  • Camat Kembang Janggut Soroti Kebergantungan Ekonomi pada Perkebunan Sawit

    Kutai Kartanegara, KLIKSAMARINDA – Camat Kembang Janggut, Suhartono memetakan potensi ekonomi wilayahnya yang masih sangat bergantung pada perkebunan kelapa sawit.

    Menurut data yang dirilisnya, sekitar 80 persen pendapatan rumah tangga masyarakat asli Kecamatan Kembang Janggut bersumber dari aktivitas kebun sawit.

    Mereka bekerja baik pada perkebunan milik pribadi warga maupun kebun plasma yang dikelola perusahaan besar seperti Raya Kaltim dan Tunas Prima Sejahtera.

    “Sawit memang menjadi andalan ekonomi lokal. Sebagian warga memiliki kebun sendiri di sekitar areal perusahaan, sehingga mereka juga merasakan dampak langsung investasi korporasi,” ujar Suhartono.

    Meski sawit mendominasi, dia mendorong, diversifikasi usaha untuk mengurangi risiko berlebih jika harga CPO (Crude Palm Oil) mengalami fluktuasi.

    Menurut Camat Suhartono, beberapa desa kini mulai mengembangkan usaha baru. Antara lain, hortikultura skala kecil, peternakan ayam kampung, dan usahawan olahan sawit seperti minyak kelapa murni (VCO).

    “Kami sedang fasilitasi pelatihan dan akses modal bagi warga yang ingin membuka usaha turunan sawit atau komoditas lain,” timpalnya.

    Selain itu, potensi pariwisata alam seperti Pulau Layung Seribu turut dibidik sebagai sumber penghasilan alternatif guna meningkatkan ketahanan ekonomi lokal. (Adv/Diskominfo Kukar)

  • Desa Margahayu Genjot Program Gizi dan Posyandu untuk Tekan Stunting

    Kutai Kartanegara, KLIKSAMARINDA – Pemerintah Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar) menegaskan komitmen dalam menurunkan angka stunting balita melalui serangkaian program gizi dan layanan kesehatan terpadu.

    Kepala Desa Margahayu, Rusdi, mengungkapkan bahwa dari data 2025, terdapat 12 balita yang terindikasi stunting.

    Namun tren saat ini menunjukkan penurunan angka berkat upaya kolaboratif.

    “Angka sempat naik turun, tapi kini mulai menurun. Program seperti Pemberian Makanan Tambahan (BMT) sangat membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak,” ujarnya belum lama ini.

    Dia menambahkan, evaluasi rutin di Posyandu oleh kader kesehatan memperlihatkan perbaikan status gizi dan pertumbuhan anak.

    Adapun, Desa Margahayu saat ini mengoperasikan tiga Posyandu aktif. Posyandu ini tidak hanya melayani balita, tetapi juga lansia.

    Operasional Posyandu ini menjadi bagian dari layanan kesehatan desa terpadu.

    Meski begitu, Rusdi menyoroti kendala edukasi masyarakat.

    “Masih banyak keluarga yang belum menyadari pentingnya penimbangan rutin dan pendataan gizi. Ini tugas kader untuk terus memberikan sosialisasi,” tambahnya.

    Pembangunan fisik juga mendapat perhatian. Polindes desa telah direnovasi menggunakan dana Pemkab Kukar, tetapi Pusat Bantuan Kesehatan (Pusban) yang berdiri sejak 1982 masih perlu direhabilitasi.

    Rusdi berharap, Pusban masuk prioritas pembangunan tahun depan guna memperkuat pelayanan.

    “Kami sedang tingkatkan kapasitas kader kesehatan, baik di Polindes maupun Posyandu. Harapannya, layanan semakin maksimal dan stunting bisa ditekan,” pungkasnya. (Adv/Diskominfo Kukar)