Ekbis

Informasi seputar ekonomi dan bisnis tingkat lokal regional nasional

[Samarinda]

[Kalimantan Timur]

[Nasional]

  • Nasib Petani Jagung di Tengah Pasar yang Lesu Jelang Tahun Baru

    KLIKSAMARINDA – Kesibukan terlihat jelas di sebuah warung milik Sutar, petani sekaligus pedagang jagung musiman, di Desa Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim). Sejak pagi hari, Rabu 31 Desember 2025, pria paruh baya itu bolak-balik menuju kebun jagung manisnya untuk memanen hasil tanaman yang selalu menjadi primadona setiap perayaan malam tahun baru.

    Sutar baru saja usai memetik satu per satu jagung manis yang sudah siap panen jelang Tahun Baru 2026 di bawah terik matahari. Jagung-jagung itu nantinya akan dijual langsung kepada warga yang datang membeli untuk dibakar bersama keluarga saat pergantian tahun. Bagi Sutar, momen akhir tahun menjadi harapan tambahan rezeki, meski kondisi pasar tahun ini terasa berbeda.

    Dilihat dari warung sederhana miliknya, Sutar merasa penjualan jagung manis menjelang tahun baru 2025 ke 2026 masih tergolong lesu jika dibandingkan tahun sebelumnya. Biasanya, sejak tanggal 29 Desember, pesanan jagung sudah membludak. Namun kali ini, pembeli datang secara bertahap dan dalam jumlah kecil.

    “Sedikit saja yang panen, karena kemarin ada yang gagal panen. Yang sebelah sana itu busuk di tanah karena cuaca, jadi bijinya tidak bisa tumbuh. Kalau tahun ini belum ramai, tapi ada orang beli sedikit-sedikit. Tidak seperti biasa, tanggal 29 sudah banyak yang pesan,” ujar Sutar saat ditemui Rabu, 31 Desember 2025.

    Cuaca yang tidak menentu dan serangan hama menjadi tantangan tersendiri bagi petani jagung di wilayah Palaran. Meski demikian, Sutar tetap bersyukur karena masih bisa memanen sebagian kebunnya dan menyediakan jagung manis bagi warga. Baginya, hasil panen tahun ini mungkin tidak maksimal, tetapi cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

    Di sisi lain, antusiasme warga untuk menyambut malam pergantian tahun tak luntur. Tradisi membakar jagung bersama keluarga dan kerabat masih menjadi pilihan sederhana untuk merayakan tahun baru. Hal inilah yang membuat jagung manis tetap diburu, meskipun harga mengalami sedikit kenaikan.

    Rohman, salah satu warga yang membeli jagung, mengaku tetap menyediakan jagung bakar di rumahnya. “Jagung biasa untuk tahun baruan. Beli Rp50 ribu dapat 15 biji. Iya, buat di rumah,” katanya singkat.

    Menjelang malam pergantian tahun, permintaan jagung manis di sejumlah pasar tradisional dan lapak pinggir jalan di Kota Samarinda mulai meningkat. Setelah sempat dihantui gagal panen akibat cuaca, para petani dan pedagang kini mulai merasakan hasil penjualan, meski daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih.

    Bagi petani seperti Sutar, malam tahun baru bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang bertahan di tengah ketidakpastian cuaca dan pasar, sembari tetap berharap jagung manisnya membawa kehangatan di setiap keluarga yang merayakan pergantian tahun. (*)

    Penulis: Suriyatman
    Editor: –

  • SPBE NPSO Baru Mulai Beroperasi di Samarinda Kaltim

    KLIKSAMARINDA – Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) non-PSO (NPSO) di Desa Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) mulai beroperasi Selasa 10 Desember 2025.

    Peresmian operasional perdana SPBE NPSO ini dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan. Peresmian SPBE yang dikelola PT Berkat Nur Rahmat di Samarinda juga bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-68 Pertamina.

    Momentum ini menjadi bagian dari syukur dan komitmen bersama untuk menjaga ketahanan suplai energi, khususnya LPG non-subsidi, bagi masyarakat dan pelaku usaha di wilayah Kalimantan Timur.

    SPBE NPSO PT Berkat Nur Rahmat hadir dengan kapasitas tangki 50 MT dan siap melayani seluruh agen LPG NPSO di berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

    Pengoperasian fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan kelancaran distribusi, memperkuat ketersediaan pasokan, serta memberikan pelayanan energi yang semakin andal dan dekat dengan masyarakat.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terbangun antara Pertamina Patra Niaga dan PT Berkat Nur Rahmat sebagai mitra strategis dalam rantai distribusi energi.

    “Peresmian SPBE NPSO ini menjadi simbol komitmen kami untuk terus memperkuat ketahanan energi di Kalimantan Timur. Dengan bertambahnya infrastruktur pengisian LPG Non PSO, distribusi LPG kepada masyarakat dan pelaku usaha dapat berjalan semakin lancar, cepat, dan aman. Ini merupakan bagian dari semangat Pertamina untuk terus melayani sepenuh hati sekaligus menghadirkan energi terbaik bagi negeri,” ujar Edi, Rabu 10 Desember 2025.

    Edi juga menegaskan bahwa pengoperasian SPBE NPSO ini melengkapi upaya Pertamina dalam menjaga keandalan suplai energi, khususnya menjelang momen akhir tahun ketika kebutuhan masyarakat cenderung meningkat.

    “Kehadiran SPBE baru ini memberikan tambahan kekuatan baru yang memperkuat kesiapan kami dalam memastikan pasokan energi tetap terjaga dan terkendali,” tambahnya.

    Acara peresmian ini sekaligus menjadi momen wujud keberkahan peringatan HUT ke-68 Pertamina, yang tahun ini mengusung semangat “Energizing Indonesia, Melayani Sepenuh Hati.”

    Dengan beroperasinya SPBE NPSO Berkat Nur Rahmat di Samarinda, masyarakat Kalimantan Timur diharapkan dapat merasakan pelayanan LPG Non PSO yang semakin optimal serta terjamin penyaluran dan pasokannya. Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan akan terus memperkuat kolaborasi dengan mitra NPSO untuk memastikan energi tetap mengalir hingga ke berbagai pelosok negeri. (*)

  • UNUSIA Dorong Kemajuan Ekonomi Pesantren

    KLIKSAMARINDA – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) menegaskan komitmennya mendorong akselerasi ekonomi pesantren di Indonesia melalui riset, advokasi kebijakan, dan pendampingan langsung ke basis santri. Sikap ini ditegaskan Ekonom UNUSIA, Muhammad Aras Prabowo, dalam Halaqah Kebangsaan bertema “Sinergi Negara, Pesantren, UMKM dan Koperasi: Pilar Ekonomi Ummat di Era Digital” yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Gondrong Nurul Iman Al Barkah, Tangerang.

    Aras menilai ekonomi pesantren tidak bisa lagi dipahami sebatas kantin, koperasi kecil, atau warung santri. Ekonomi pesantren harus dilihat sebagai ekosistem utuh yang menghubungkan unit usaha internal pesantren, UMKM santri dan alumni, lembaga keuangan mikro syariah (BMT, BWM, koperasi syariah), serta instrumen sosial-keagamaan seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF).

    “Kalau negara serius menjadikan pesantren pilar ekonomi umat, maka kita wajib menggeser paradigma dari ‘usaha kecil di halaman pesantren’ menuju ekosistem digital berbasis syariah yang terhubung dengan rantai nilai halal nasional,” tegasnya.

    Menurutnya, selama ini banyak program negara yang datang ke pesantren bersifat seremonial: pelatihan singkat, bantuan alat, atau modal kecil yang tidak terintegrasi ke dalam desain besar kemandirian pesantren.

    Dr. Aras menyoroti sedikitnya tiga masalah struktural yang perlu dijawab secara kritis. Pertama, fragmentasi kebijakan: program OPOP, BWM, koperasi, dan UMKM sering berjalan sendiri-sendiri tanpa desain ekosistem yang jelas.

    Kedua, literasi manajerial dan digital pengelola pesantren masih rendah, sehingga sulit memenuhi standar akuntabilitas, pelaporan, dan akses pembiayaan formal.

    Ketiga, minimnya data dan pemetaan ekonomi pesantren membuat kebijakan pemerintah cenderung spekulatif dan tidak tepat sasaran.

    Karena itu, ia mendorong pendekatan baru yang lebih strategis.

    “Negara harus berhenti memposisikan pesantren sebagai ‘objek bantuan’. Pesantren adalah mitra setara yang punya modal sosial, jaringan, dan legitimasi keagamaan. Tugas negara adalah memastikan ada kebijakan fiskal, regulasi, dan infrastruktur digital yang benar-benar memihak pada ekosistem pesantren,” ujarnya.

    Di sisi lain, pesantren juga wajib berbenah dengan memperkuat tata kelola koperasi, mengintegrasikan kurikulum kewirausahaan dan literasi keuangan, serta membuka diri pada kolaborasi dengan kampus dan pelaku industri halal.

    UNUSIA sendiri menyiapkan beberapa langkah konkret: pengembangan riset dan policy brief tentang ekonomi pesantren; desain model bisnis koperasi dan UMKM pesantren yang adaptif terhadap ekonomi digital; serta program pendampingan akuntansi, manajemen, dan pemasaran digital bagi santri dan pengelola unit usaha.

    Dr. Aras menegaskan, “Target kami sederhana tapi tegas: dalam beberapa tahun ke depan, pesantren tidak lagi sekadar penerima bantuan, tetapi menjadi aktor utama dalam ekonomi halal, keuangan mikro syariah, dan inovasi sosial berbasis ZISWAF.”

    UNUSIA memandang penguatan ekonomi pesantren bukan agenda pinggiran, melainkan strategi inti untuk memastikan kedaulatan ekonomi umat di tengah ketimpangan dan tekanan ekonomi global. Pesantren yang mandiri, terkoneksi digital, dan dikelola profesional diyakini akan menjadi garda depan ekonomi Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan berkeadilan sosial. (*)