KLIKSAMARINDA – Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 16 Kota Samarinda periode 2023–2026, Abdul Rozak Fahrudin, menyampaikan pesan reflektif dan sarat makna. Ini disampaikannya sebelum kembali menjalani peran sebagai guru.
Dijumpai usai serah terima jabatan Kepala SMA Negeri 16 Samarinda, dia menegaskan bahwa estafet kepemimpinan bukan sekadar pergantian jabatan. Melainkan kesinambungan visi. Abdul Rozak Fahrudin menitipkan harapan agar program-program strategis yang telah dirancang –mulai dari arah kebijakan hingga susunan anggaran– dapat dilanjutkan oleh kepala SMA Negeri 16 Kota Samarinda yang baru, Sutrisno, bersama seluruh warga sekolah.
“Saya menitipkan pesan kepada Pak Sutrisno agar bisa melanjutkan estafet kepemimpinan dan program-program sekolah yang sudah kami susun bersama,” ujarnya, kepada media ini.
Bagi Abdul Rozak Fahrudin, jabatan kepala sekolah adalah amanah tambahan dari negara. Ketika tugas itu selesai, maka kembali menjadi guru adalah keniscayaan yang harus diterima dengan lapang dada. Dia menyebut dinamika tersebut sebagai bagian dari roda kehidupan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terus berputar.
“Pada prinsipnya kita ini guru. Saya mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, dan sekarang kembali lagi menjadi guru, itu kita nikmati sebagai garis hidup,” ucapnya.
Tak hanya menyampaikan pesan internal sekolah, Abdul Rozak Fahrudin juga menitipkan catatan penting bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim). Khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim. Dia berharap proses mutasi dan penempatan kepala sekolah dilakukan dengan standar yang jelas dan berbasis kompetensi. Menurutnya, banyak pendidik berpotensi yang laik mendapat ruang, namun belum tersentuh kebijakan.
“Saya kan punya Sekretaris MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah, Red.), ibu Ida yang luar biasa berjuang secara bersama-sama. Hampir 3 tahun lamanya. Tetapi ketika ada terjadi mutasi kan enggak tersentuh. Kadang saya secara pribadi juga sedih ya,” terang pria yang juga menjabat sebagai Pembantu Rektor III Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kaltim.
Dalam refleksi kariernya, Abdul Rozak Fahrudin mengingatkan bahwa penempatan figur yang tepat di posisi yang tepat adalah kunci kemajuan pendidikan. Dia menekankan pentingnya integritas, kapasitas, dan rekam jejak prestasi dalam menentukan kepemimpinan sekolah, terlebih di tengah besarnya anggaran dan tantangan pendidikan di Kaltim.
“Yang perlu diingat itu satu, the right man in the right place. Kalau pekerjaan dilakukan oleh ahlinya, hasilnya pasti baik,” pesannya. “Kami berharap penempatan kepala sekolah ke depan benar-benar mempertimbangkan potensi, integritas, dan prestasi,” timpal Abdul Rozak Fahrudin.
Sepanjang kariernya, dia dikenal sebagai sosok berpengalaman. Abdul Rozak Fahrudin pernah memimpin sejumlah sekolah menengah atas di Kota Tepian dan meraih berbagai penghargaan. Termasuk kepala sekolah berprestasi tingkat Kaltim. Pengalamannya juga diperkuat dengan peran panjang di MKKS. Baik di tingkat kota maupun provinsi.
Meski tak lagi menjabat sebagai kepala sekolah, Abdul Rozak Fahrudin menegaskan komitmennya untuk tetap berkontribusi bagi dunia pendidikan. Melalui perannya di Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur, dunia perguruan tinggi, serta berbagai organisasi, ia bertekad memastikan ilmunya tetap memberi manfaat.
“Tidak menjadi kepala sekolah bukan masalah bagi saya, yang penting ilmu yang saya miliki tetap bisa bermanfaat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 16 Kota Samarinda yang baru, Sutrisno, menyikapi dinamika tersebut dengan sikap terbuka. Dia menilai mutasi dan pergantian jabatan adalah bagian dari konsekuensi sebagai aparatur negara. Menurutnya, setiap kebijakan pemerintah harus diterima dengan kesiapan dan keikhlasan.
“Apapun kebijakan pemerintah, sebagai ASN kita harus siap ditempatkan di manapun,” ujarnya.
Sutrisno juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan apa yang telah dirintis pendahulunya. Dia optimistis bahwa kerja dan dedikasi yang diberikan kepada negara akan dinilai secara objektif oleh pemerintah, dan setiap insan pendidikan pada akhirnya akan ditempatkan sesuai kebijakan terbaik.
“Insya Allah apa yang sudah diberikan dan dirintis kepala sekolah sebelumnya akan kami lanjutkan,” tandasnya. (red)