Kaltim Hadapi Tantangan, Permintaan Batubara dari Tiongkok Diprediksi Turun 1,49 Persen

KLIKSAMARINDA – Ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) diprediksi tumbuh lebih tinggi dibanding 2025. Meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan global. Seperti terbatasnya permintaan dunia. Serta tingginya ketidakpastian ekonomi internasional.
Deputi Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, mengatakan terdapat potensi peningkatan kinerja ekonomi dari sektor industri pengolahan dan konstruksi. Pada sektor industri pengolahan, peningkatan didorong oleh penambahan kapasitas kilang (refinery).
Sementara sektor konstruksi diperkirakan tetap kuat. Ini seiring berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Khususnya pengembangan ekosistem legislatif dan yudikatif. Hal tersebut disampaikannya saat Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) Tahun 2025 dan Focus Group Discussion (FGD) Perekonomian Kaltim di Ruang Derawan, Kantor BI Kaltim, Rabu (28/1/2026) kemarin.
“Pembangunan ekosistem legislatif dan yudikatif di IKN pada 2026 diprakirakan membutuhkan anggaran sekitar 6 persen (year on year) lebih tinggi dibandingkan anggaran 2025,” ujarnya, seperti dikutip KLIKSAMARINDA dari unggahan resmi @beritapemprovkaltim di Instagram.
Dari sektor pertanian, Bayuadi Hardiyanto menyatakan, pada 2026 target Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Corporate Social Responsibility (CSR) di Kaltim meningkat. Hal ini sejalan dengan tertundanya sejumlah program oplah pada 2025 akibat keterbatasan anggaran. Ke depan, target oplah ditetapkan mencapai 3.000 hektare.
Meski demikian, Kaltim juga menghadapi tantangan dari sektor pertambangan dan pertanian. Permintaan batubara dari Tiongkok diprediksi menurun sebesar 1,49 persen (yoy), seiring berkurangnya permintaan dari negara mitra dagang lainnya akibat berlanjutnya transisi energi menuju sumber energi terbarukan.
“Di sektor pertanian, prakiraan fenomena La Nina atau cuaca basah pada 2026, serta peningkatan luas replanting TBS (Tandan Buah Segar, Red.) di akhir 2025, berpotensi menurunkan produksi TBS,” ujar Bayuadi Hardiyanto. (*)




