Warta

Doktor Akuntansi Budaya dari Unusia, Muhammad Aras Prabowo Angkat Tradisi Ekonomi Bugis Bone

Serang – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) kembali menorehkan kebanggaan akademik dalam momentum Wisuda Gelombang II Tahun 2026 Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang berlangsung di Auditorium Kampus Sindangsari Untirta, 23 Mei 2026. Salah satu dosen terbaiknya, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak, resmi dikukuhkan sebagai Doktor Bidang Ilmu Akuntansi setelah berhasil mempertahankan disertasinya tentang akuntansi budaya berbasis kearifan lokal Bugis.

Prosesi wisuda doktor tersebut berlangsung khidmat dan penuh haru. Dengan toga doktor yang dikenakan, Aras Prabowo hadir didampingi sang isteri, Sutanti Idris, S.E., CMC, serta kedua anaknya, Khayra Nur Adila Ardani dan Kanezka Adzril Pabeangi. Momen pengukuhan doktor itu menjadi simbol perjalanan panjang akademik seorang intelektual muda Nahdlatul Ulama yang meniti pendidikan dari S1 Akuntansi Universitas Muslim Indonesia, S2 Magister Akuntansi Universitas Mercu Buana, hingga S3 Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Dr. Muhammad Aras Prabowo menegaskan bahwa capaian doktor tersebut bukan sekadar gelar akademik, melainkan bagian dari ikhtiar menghadirkan ilmu akuntansi yang berpijak pada budaya bangsa dan tradisi pesantren.

“Wisuda doktor ini bukan akhir perjalanan, tetapi awal pengabdian intelektual yang lebih besar. Saya ingin membangun paradigma akuntansi yang tidak tercerabut dari akar budaya, spiritualitas, dan nilai sosial masyarakat Indonesia,” ujar Aras Prabowo.

Disertasi Aras berjudul “Nilai-Nilai Teseng dalam Konstruksi Akuntabilitas di Sektor Pertanian” mengangkat sistem bagi hasil tradisional masyarakat Bugis Bone sebagai model akuntabilitas berbasis budaya lokal. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana nilai teseng membangun praktik kepercayaan, kesetaraan, dan tanggung jawab kolektif yang lebih humanis dibanding pendekatan administratif modern yang cenderung formalistik.

Sidang promosi doktor Aras juga menjadi perhatian nasional karena menghadirkan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, sebagai penguji eksternal. Dalam sidang terbuka tersebut, Menteri Agama memberikan apresiasi tinggi terhadap gagasan akuntansi budaya yang dikembangkan Aras Prabowo.

“Temuan ini tidak hanya memperkaya akuntansi, tetapi juga menjadi refleksi spiritualitas dan tanggung jawab sosial dalam tata kelola publik. Teseng bisa menjadi jembatan antara disiplin ekonomi, akuntansi, dan sosiologi,” ujar Nasaruddin Umar dalam sidang promosi doktor tersebut.

Menurut Aras, penelitian tersebut memiliki irisan kuat dengan tradisi Nahdlatul Ulama yang sejak lama membangun kehidupan sosial berbasis budaya, kolektivitas, dan etika pesantren.

“Dalam kaidah pesantren dikenal prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Kaidah ini sesungguhnya merupakan fondasi transformasi budaya yang sangat modern. Disertasi saya mencoba membangun jembatan antara ilmu akuntansi modern dengan nilai budaya Bugis dan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama,” jelas Aras.

Sebagai Kaprodi Akuntansi Unusia, Aras dikenal aktif mendorong pengembangan akuntansi multiparadigma dan akuntansi budaya di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ia menilai kampus NU harus mampu melahirkan ilmuwan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki sensitivitas budaya dan keberpihakan sosial.

Sementara itu, Sutanti Idris mengaku bangga atas perjuangan panjang suaminya dalam menyelesaikan studi doktoral tersebut.

“Hari wisuda ini sangat emosional bagi keluarga kami. Kami menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan panjang itu dijalani dengan penuh kesabaran. Mas Aras selalu percaya bahwa ilmu harus memberi manfaat sosial dan menjaga nilai budaya bangsa,” ujar Sutanti Idris.

Keberhasilan Dr. Muhammad Aras Prabowo meraih gelar doktor sekaligus menjadi penegasan bahwa Unusia mampu mencetak akademisi Nahdlatul Ulama yang mengintegrasikan ilmu modern dengan tradisi pesantren dan kearifan lokal Nusantara. Di tengah arus modernitas global, capaian tersebut menjadi simbol bahwa budaya, tradisi, dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dalam membangun peradaban Indonesia masa depan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *