Deretan Teror terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Usai Kritik Program MBG

KLIKSAMARINDA – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, membeberkan secara terbuka rangkaian intimidasi dan teror yang dialaminya setelah menyampaikan kritik terhadap kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Tiyo menegaskan deretan intimidasi dan teror itu dalam konferensi pers daring yang digelar oleh Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi KIKA, Selasa 17 Februari 2026, kemarin, pukul 16.00 WIB, via Zoom Meeting, yang bisa diakses kembali di kanal Youtube KIKA.
Konferensi pers ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Tiyo Ardianto (Ketua BEM UGM), Masduki (KIKA/UII), Dhia Al Uyun (KIKA/Universitas Brawijaya), Muhammad Ridha (KIKA/UIN Alauddin), Rosnida Sari (KIKA/Universitas Jember), serta Herdiansyah Hamzah (KIKA/Universitas Mulawarman).
Kritik terhadap Pemerintahan Prabowo–Gibran
Dalam pemaparannya, Tiyo kembali menegaskan kritiknya terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya terkait program MBG yang dinilai tidak menyentuh akar persoalan pendidikan nasional.
Tiyo menilai arah kebijakan negara keliru ketika persoalan utama bangsa—yakni rendahnya akses dan kualitas pendidikan—justru direduksi menjadi persoalan gizi semata. Ia juga menyoroti besarnya anggaran MBG yang disebut mencapai sekitar Rp1,2 triliun per hari atau Rp335 triliun per tahun, di tengah pemangkasan anggaran pendidikan.
“BEM UGM mengkritisi itu pada puncak dan momentumnya ketika ironi luar biasa seorang anak di Ngada NTT yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku yang seharga Rp10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG Rp1,2 triliun setiap hari atau Rp335 triliun setiap tahun dengan sambil merampas anggaran pendidikan Rp223 triliun dan di saat bersamaan juga menyumbang untuk Board of Peace (BoP) yang kontroversial dan rasanya kita tidak mungkin percaya bahwa itu akan memerdekakan Palestina Rp16,7 triliun. BEM UGM membaca ada semacam gejala luar biasa yang terjadi di tubuh seorang presiden,” ujar Tiyo.
Ia menegaskan, kritik BEM UGM bukan bersifat personal, melainkan kritik terhadap infrastruktur kekuasaan yang dinilai tidak menghargai ilmu pengetahuan dan kerap memanipulasi data publik. “Kita fokus pada ada infrastruktur kekuasaan yang inkompeten, infrastruktur kekuasaan yang tidak menghargai ilmu pengetahuan,” katanya.
Teror Dimulai Sejak 9 Februari 2026
Tiyo menduga, usai melontarkan kritik-kritik tersebut, teror dan intimidasi mulai bermunculan. Ia mengungkapkan, sejak 9 Februari 2026 dirinya mulai menerima teror beruntun dari nomor tidak dikenal dengan kode internasional +44 (Inggris Raya), bukan dari Indonesia (+62). Isi pesan bernada ancaman, termasuk tuduhan sebagai agen asing dan ancaman penculikan.
“Rasanya kritik-kritik inilah yang kemudian mengantarkan kepada kami mulai tanggal 9 Februari 2026 ada teror yang beruntun dari nomor-nomor yang tidak dikenal dengan kontak Inggris Raya. Jadi bukan plus 62 tapi + 44. nadanya sejak awal adalah ancaman dan tuduhan bahwa kami adalah agen asing. Mereka juga mengancam penculikan,” katanya.
Selain ancaman langsung, ia juga menjadi sasaran pembunuhan karakter di media sosial. Berbagai konten fitnah beredar, mulai dari tuduhan afiliasi LGBT, manipulasi keuangan, hingga gambar hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang merusak reputasinya.
Semua itu disebarkan secara masif di Facebook, X, Instagram, sampai TikTok. Tujuannya jelas, menghancurkan karakter.
“Di media-media juga muncul konten-konten sekaligus narasi yang luar biasa menghancurkan karakter. Yang pertama tadi soal LGBT yang bagi saya ini sangat menjijikkan. Yang kedua tidak hanya berhenti di situ, bahkan ada konten pembunuhan karakter yang foto saya itu di-generate by artificial intelligence dengan tulisan bahwa Tio ini adalah langganan Tio ini suka menyewa LC karaoke,” kata Tiyo.
Ia juga diisukan memiliki kedekatan dengan tokoh Anies Baswedan dengan julukan Anak Abah. Tiyo membantahnya. Ia juga membantah tuduhan penggelapan dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang diarahkan kepadanya. Menurutnya, BEM UGM tidak memiliki kewenangan apa pun dalam proses rekomendasi atau distribusi KIP.
Dugaan Penguntitan hingga Ancaman terhadap Keluarga
Teror tidak berhenti di ruang digital. Tiyo mengaku sempat mengalami dugaan penguntitan saat berada di sebuah kedai. Dua orang tak dikenal disebut memotretnya dari kejauhan sebelum menghilang.
Ancaman juga datang melalui jalur yang lebih kompleks. Tiyo mengungkap adanya pesan dari akun anonim yang mengaku sebagai dosen Universitas Padjadjaran (Unpad), yang menyebut telah mendapat bocoran dari Badan Intelijen Nasional (BIN) terkait rencana pembunuhan terhadap dirinya. Informasi tersebut, meski tidak terkonfirmasi, menimbulkan tekanan psikologis mendalam. Meskipun muncul indikasi kuat jika teror itu hanyamencatut namaintitusi pendidikan tinggi.
“Jadi ada ada orang akun yang mengaku dosen UNPAD. Dia menghubungi suatu platform pergerakan yang terhubung dengan saya. Orang yang mengaku dosen UNPAD ini menceritakan bahwa dia mendapatkan bocoran dari satu lembaga negara. Saya sebutkan di sini Badan Intelijen Nasional. Nah, orang yang mengaku dosen UNPAD ini menyampaikan bahwa BIN sudah menyiapkan operasi pembunuhan untuk ketua BEM UGM,” ungkap Tiyo.
Yang paling mengkhawatirkan, teror turut menyasar keluarganya. Ibu Tiyo, seorang perempuan sederhana dari desa, menerima pesan ancaman dan fitnah pada tengah malam. Pesan tersebut menuduh Tiyo melakukan penggelapan dana dan menyebut orang tua Ketua BEM UGM kecewa terhadap anaknya.
“Pesannya yang pertama adalah bahwa anakmu Tiyo Ardianto itu sebagai ketua BEM dia nilap uang. Itu yang tadi. Yang kedua adalah bahwa ada berita orang tua ketua BEM UGM kecewa karena anaknya nilep uang gitu. Dua pesan itu yang sampai ke ibu saya dan ibu saya secara verbal tanpa saya tanya mengatakan bahwa ibu cukup takut. Ibu takut,” ujarnya.
Tak hanya keluarga, sekitar 20–30 pengurus BEM UGM juga menerima pesan teror dengan narasi serupa. Bahkan setelah Tiyo mengungkap teror ini ke publik, ancaman justru semakin meningkat.
Negara Dinilai Tidak Hadir
Tiyo menilai rangkaian teror ini sebagai bentuk “kepengecutan rezim” karena hingga kini tidak ada pernyataan resmi negara yang menjamin perlindungan kebebasan akademik dan keselamatan mahasiswa.
“Rangkaian teror yang kami terima ini bagi kami adalah bentuk dari kepengeucutan rezim hari ini. Karena baga sampai hari ini rezim tidak menyampaikan pesan publik apapun yang mengatakan bahwa kebebasan akademik Anda dijamin, perlindungan dan keselamatan Anda akan difasilitasi oleh negara. Enggak ada,” katanya.
Ia juga menanggapi pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai yang menyebut pemerintah bukan pelaku teror. Menurut Tiyo, persoalan utamanya bukan siapa pelaku, melainkan absennya negara dalam memberikan rasa aman.
“Yang dibutuhkan oleh publik adalah jaminan bahwa ketika menghadapi teror, negara itu hadir di sana. Negara tidak boleh hadir sebagai teror sendiri. Tidak boleh sebagai orang yang mengklarifikasi bahwa mereka tidak melakukan teror,” tegasnya.
Meski demikian, Tiyo menegaskan bahwa BEM UGM tidak akan gentar. “Pada prinsipnya saya menyampaikan ke publik bahwa BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti melihat persoalan publik ini sebagai persoalan yang harus selalu untuk dikawal. Sehingga ke depan tidak akan ada yang berbeda dari BEM UGM siapapun ketuanya nanti. Bahwa kemudian ada solidaritas yang lebih dan kewaspadaan yang lebih, itu adalah cara kami belajar,” ungkap Tiyo.
Ia memastikan kritik terhadap kebijakan publik akan terus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab moral mahasiswa.
“Tapi jangan bayangkan gara-gara teror ini kami kemudian berhenti. Terima kasih KIKA, terima kasih untuk seluruh media yang mengawal demokrasi. Mari kita lawan kebodohan rezim hari ini,” pungkasnya. (*)




