BIFF 2026 Bidik Pasar Internasional dengan Wastra Kaltim Disiapkan Tembus Melbourne

Kliksamarinda.com – Borneo International Fashion Festival (BIFF) 2026 tidak ingin sekadar menjadi panggung peragaan busana atau kekayaan wastra Kalimantan Timur (Kaltim). Festival yang digelar 1–4 Oktober 2026 di Pendopo Odah Etam, Kantor Gubernur Kaltim, itu diproyeksikan menjadi pintu masuk produk fashion dan ekonomi kreatif Kaltim menuju pasar internasional.
Creative Director BIFF 2026, Tyas Dani, mengatakan aspek bisnis menjadi salah satu tujuan utama penyelenggaraan festival. Fashion show, menurut dia, merupakan bagian dari showcase untuk memperkenalkan karya, sementara peluang bisnis menjadi keberlanjutan yang harus dibangun setelah acara berlangsung.
“Yang utama bisnisnya. Jadi kita bikin event memang sebagai salah satu showcase-nya, menampilkan karyanya. Tapi bagaimana setelah ini? Bisnisnya yang harusnya kita urus,” ujar Tyas, Kamis 10 September 2026.
BIFF 2026 menargetkan keterlibatan 40 desainer, 40 model, serta sekitar 400 koleksi. Hingga saat ini, persiapan festival telah mencapai sekitar 70 persen dan terus digenjot menjelang pelaksanaan.
Tak hanya menyasar pasar dalam negeri, jejaring yang dibangun BIFF ditargetkan berkembang hingga mancanegara. Melbourne, Australia, menjadi salah satu pasar yang dibidik untuk membuka peluang lebih luas bagi pelaku fashion dan ekonomi kreatif Kaltim.
“Harapan kami dengan adanya event ini, bisnisnya juga tumbuh dan berkembang. Dan utamanya dengan adanya ini, nggak cuma di Kaltim, nggak cuma di Indonesia, tapi bisa sampai ke Melbourne,” kata Tyas.
Konsep tersebut diperkuat dengan kolaborasi Indonesia-Australia yang menjadi bagian dari jejaring internasional BIFF. Festival ini mempertemukan desainer, model, UMKM, pengrajin, komunitas, pemerintah, dunia usaha hingga mitra internasional dalam satu ekosistem kreatif.
Sejumlah booth UMKM, mitra dan stakeholder juga disiapkan untuk memamerkan produk-produk binaan. Namun, tidak semua produk dapat langsung tampil. Panitia akan melakukan seleksi dan kurasi untuk memastikan produk yang dipamerkan memiliki kualitas serta standar yang sesuai.
BIFF juga mendorong desainer dari luar daerah untuk menggunakan wastra Kaltim dalam karya mereka. Dengan demikian, kekayaan lokal tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga memiliki peluang masuk ke pasar fashion nasional dan internasional.
Bagi Tyas, karya kreatif Kaltim tidak boleh berhenti hanya menjadi produk yang dipamerkan. Festival harus mampu menjadi jembatan antara karya dan pasar.
Ketua Harian Dekranasda Kaltim, Heni Purwaningsih, menilai wastra dan kriya tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai peninggalan budaya masa lalu. Keduanya harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan memiliki nilai ekonomi.
“Wastra dan kriya bukan sekadar benda. Ia adalah identitas yang dapat dikenakan, cerita yang dapat dilihat, dan budaya yang dapat dirasakan,” kata Heni.
Kekayaan wastra dan kriya Kaltim menurut Heni perlu diperkenalkan tidak hanya karena keunikannya, tetapi juga melalui kualitas, desain, kreativitas dan nilai ekonominya. Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi penting agar budaya lokal tetap relevan dengan perkembangan industri fashion. (*)
Penulis: Harpiah AM



