Ragam

Ajang Perdana Mister Teen & Miss Teenager Kids Kaltim, Bukan Sekadar Berebut Mahkota

Kliksamarinda.com – Mahkota dan selempang bukan menjadi tujuan utama bagi 36 anak yang mengikuti ajang perdana Mister Teen dan Miss Teenager Kids Kalimantan Timur (Kaltim) 2026. Di balik panggung dan busana yang dikenakan, penyelenggara justru ingin membangun kepercayaan diri, kemampuan berbicara, hingga personal branding anak sejak usia dini.

Ajang yang digelar secara berjenjang ini menjadi bagian dari pengembangan Mister Teen dan Miss Teenager Kaltim yang sebelumnya telah berjalan hampir lima tahun. Memasuki tahun kelima, penyelenggara mulai membuka kategori anak-anak sebagai wadah bagi mereka yang ingin mengenal dunia pageant sekaligus mengembangkan potensi diri.

Berbeda dari kompetisi pageant pada umumnya, kemampuan catwalk tidak menjadi ukuran utama dalam penilaian. Peserta justru diarahkan untuk mampu mengenali dirinya, membangun karakter, berbicara di depan umum, serta memahami bagaimana membawa identitas yang mereka bangun.

Pembina Mister Teen dan Miss Teenager Kaltim, Reni Lestari, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat agar ajang ini tidak berhenti pada persoalan menang atau kalah.

“Yang lebih penting adalah kepribadiannya, bagaimana dia membangun personal branding, bagaimana public speaking-nya, dan bagaimana dia mengaplikasikan pembekalan yang diberikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya pada Sabtu, 4 Oktober 2026 lalu.

Para peserta berasal dari sejumlah sekolah dan dibagi ke dalam tiga kategori usia. Peserta terbanyak berasal dari kawasan Sungai Pinang, di antaranya dari TK Islam Bunga Bangsa, Citra Kasih, dan SDN 005.

Karena menjadi penyelenggaraan perdana, peserta dari luar wilayah tersebut juga masih diperbolehkan bergabung. Antusiasme peserta bahkan disebut meningkat setelah pendaftaran berlangsung sekitar dua pekan.

Ajang ini menjadi tahap awal dari perjalanan yang dirancang berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan, Kota Samarinda, Provinsi Kaltim, hingga tingkat nasional dan internasional.

Ada hal menarik dalam pembinaan peserta. Penyelenggara tidak hanya mengajarkan bagaimana seorang anak tampil diatas panggung, tetapi juga bagaimana membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Pembekalan dilakukan secara daring, termasuk public speaking dan pengembangan personal branding. Para peserta juga diarahkan membuat aktivitas harian sehingga mereka mulai belajar mengatur waktu secara mandiri.

Bahkan, perkembangan mereka dipantau melalui aktivitas yang dibagikan di media sosial Mister Teen Kids.

Harapannya, status sebagai peserta maupun pemegang gelar nantinya tidak hanya menjadi identitas di atas panggung, tetapi juga mendorong perubahan perilaku di rumah dan sekolah.

“Harapannya bukan karena dia menjadi Mister Teen atau Miss Teenager Kids lalu hanya punya mahkota. Tapi bagaimana setelah mengikuti kegiatan ini, yang tadinya susah bangun pagi bisa mulai bangun pagi, yang tadinya kurang disiplin menjadi lebih teratur,” kata Reni.

Menurutnya, perubahan kecil seperti memiliki jadwal harian, lebih percaya diri berbicara, hingga mampu membawa diri dengan baik justru menjadi capaian yang ingin ditanamkan kepada anak-anak.

Selain karakter dan kemampuan komunikasi, ajang perdana ini juga mengangkat tema wastra. Para peserta diperkenalkan dengan pakaian berbasis budaya lokal dalam berbagai gaya, termasuk tampilan kasual.

Konsep tersebut dibuat agar anak-anak tidak memandang wastra sebagai pakaian yang hanya digunakan dalam acara resmi. Sebaliknya, mereka diharapkan terbiasa mengenakannya dengan percaya diri dalam berbagai kesempatan.

“Anak-anak biasanya suka pakaian kasual. Kami ingin mereka juga bangga dengan wastra kita. Jadi wastra bisa dibuat lebih casual, sehingga mereka tetap pede memakainya ke mal atau jalan-jalan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa orang tua pun diharapkan tidak menjadikan kemenangan sebagai target utama ketika mengikutsertakan anak dalam ajang seperti ini.

“Jangan sampai orang tua berpikir anak harus menang. Yang lebih penting bagaimana anak saya yang tadinya sulit melakukan sesuatu menjadi lebih mudah, yang tadinya kurang disiplin menjadi lebih rajin,” tuturnya. (*)

Tinggalkan Balasan