Listrik Samarinda Kerap Mati Bikin Es Krim Pedagang UMKM Jadi Bubur
Kliksamarinda.com – Ini bukan lelucon tentang listrik PLN dalam kehidupan warga Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim). Di tengah dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum usai, warga Kota Tepian kini berurusan pemadaman listrik.
Pemadaman listrik PLN yang datang berulang kali bikin aktivitas warga berantakan. Warga dipaksa akrab dengan gelap. Bahkan, es krim pun ikut menyerah. Niatnya dijual beku dan dingin-dingin, malah berubah jadi bubur.
Nasib apes itu dialami Gissel, seorang pelaku UMKM penjual es krim di Samarinda. Lewat akun Instagram @nyonyah_gissel, ia mencurahkan kekesalannya setelah listrik padam dan membuat dagangannya mencair.
Video curhatannya viral pada Senin 2 November 2026. Dalam rekaman tersebut, Gissel memperlihatkan es krim yang sudah tidak berbentuk. Stok dagangan yang mestinya menghasilkan cuan justru berubah menjadi kerugian.
“Ternyata mati lampu. Bagaimana ini, kasihannya es krimku? Hancur semua ini, jadi bubur lagi ini,” keluhnya dikutip dari unggahan video Gissel.
Gissel mengaku pemadaman listrik bisa terjadi sampai dua kali sehari. Buat pedagang kecil alias UMKM, kondisi ini jelas bukan perkara sepele. Apalagi, es krim butuh pendingin agar tidak berubah nasib menjadi kolak.
“Kenapa lampu ini harus dua kali sehari mati? Kamu enggak kasihan sama kita penjual ini, pelaku usaha UMKM? Ini es krimku jadi bubur, jadi kolak,” katanya.
Mau beli genset juga bukan perkara gampang. Keuntungan jualan yang cuma seribu-dua ribu rupiah tidak cukup untuk menutup biaya membeli perangkat listrik cadangan.
“Enggak mungkin, untung seribu dua ribu mau beli genset. Kamu bikin rugi kita sebagai penjual, tahu,” ujarnya.
Saking kesalnya, Gissel berencana mendatangi Kantor PLN Samarinda pada Selasa, 3 November 2026. Ia bahkan melontarkan ancaman satire dengan membawa es krim yang sudah mencair.
Ia menyinggung aksi peternak ayam di Palangka Raya yang mengirimkan bangkai ayam ke kantor PLN pada 30 Oktober 2026.
“Di Palangka Raya, PLN, orang lempar bangkai ayam. Enggak lama di Samarinda, aku yang lempar pakai es krim. Ini mubazir. Ku kasih makan ini es krim,” ucapnya.
Keluhan Gissel bukan narasi yang berdiri sendiri. Pemadaman bergilir di Kalimantan sudah berlangsung berbulan-bulan. Sejak Juni 2026, sistem interkoneksi kelistrikan Kalimantan mengalami defisit daya akibat gangguan sejumlah pembangkit.
Beberapa pembangkit yang mengalami gangguan di antaranya PLTGU Bangkanai, PLTU Asam-Asam, PLTGU Senipah, dan Graha Power Kaltim.
PLN menerapkan pemadaman bergilir untuk mencegah terjadinya blackout atau mati listrik total. Namun, bagi warga Samarinda, pemadaman berulang selama sekitar empat bulan jelas menguras kesabaran.
Manager PLN UP3 Samarinda, Adrian Sitompul, sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf. Ia mengakui gangguan listrik berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar dan usaha perdagangan.
PLN, kata Adrian, sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat penanganan gangguan pembangkit. Penambahan kapasitas pembangkit juga sedang diupayakan.
“Kami mohon maaf kepada pelanggan, kepada masyarakat atas pemadaman yang terjadi,” kata Adrian saat menghadapi para pendemo dari HMI Samarinda, 29 Oktober 2026.
Di hari itu, mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda juga mendatangi Kantor PLN UP3 di Jalan Gajah Mada.
Mereka menyampaikan keresahan masyarakat terkait pemadaman listrik.
Kini, protes datang dari berbagai kalangan. Mahasiswa turun ke kantor PLN, peternak mengirim bangkai ayam, sementara pedagang es krim bersiap membawa dagangan yang sudah berubah jadi bubur.
Kalau listrik PLN di Samarinda dan wilayah lain terus begini, bukan cuma aktivitas warga yang terganggu. Modal usaha pun bisa ikut meleleh. Bedanya, es krim bisa dibekukan lagi, tetapi kepercayaan pelanggan yang telanjur mencair tentu lebih sulit dipulihkan. Paham? (*)



