Ragam

Ketika Bulu Enggang Menari di Antara Derasnya Arus Industri

Kutai Kartanegara, Kliksamarinda.com – Di sela jemari lentik para penari, kepingan bulu burung enggang bergerak mengembang dan menguncup dengan anggun, membelah keheningan sore di Desa Budaya Sungai Bawang, Muara Badak, Kutai Kartanegara.

Suara hentakan kaki berpadu gemerincing perak beresonansi di dalam Lamin, menghidupkan melodi sape’ yang menghanyutkan. Di luar dinding kayu rumah adat itu, derasnya arus industri pesisir kian mengepung, namun di bawah atap sirap ini, waktu seolah melambat untuk memberi ruang bagi tradisi yang menolak punah.

Desa Sungai Bawang bukan sekadar titik koordinat di peta Kalimantan Timur. Bagi masyarakat Dayak Kenyah yang menetap di sana, desa ini adalah benteng pertahanan budaya terakhir mereka di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi yang kian agresif.

Selaras dengan Zaman tanpa Kehilangan Identitas

Bagi masyarakat Dayak Kenyah Sungai Bawang, globalisasi bukanlah musuh yang harus ditakuti, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan bijaksana.

Martinus, Kepala Desa yang juga tokoh adat Dayak Kenyah Desa Sungai Bawang, selalu menekankan pentingnya adaptasi yang berkarakter.

“Menjadi modern dan melek teknologi itu keharusan, tetapi bukan berarti kita harus membuang apa yang sudah diwariskan oleh leluhur. Gadget dan tradisi bisa berjalan beriringan jika kita tahu cara menempatkannya,” ujar Martinus mantap.

Prinsip ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak muda Desa Sungai Bawang mahir mengoperasikan ponsel pintar, aktif di media sosial, dan menempuh pendidikan tinggi di kota.

Namun, ketika panggilan adat tiba seperti festival panen Mecaq Undat atau ritual penyambutan tamu mereka akan meletakkan gawai mereka, mengenakan pakaian adat sa’at, dan mengambil posisi dalam barisan tarian Kancet Papatai.

Teknologi bahkan dimanfaatkan sebagai alat dokumentasi. Jika dahulu tetua adat menurunkan cerita rakyat (kesah) dan hukum adat secara lisan, kini generasi muda Sungai Bawang mulai mendokumentasikannya dalam bentuk video dan tulisan digital agar tidak hilang ditelan zaman.

Jejak Panjang dari Apau Kayan

Keteguhan ini lahir dari sejarah panjang. Migrasi suku Dayak Kenyah hingga sampai ke Desa Budaya Sungai Bawang merupakan perjalanan transmigrasi swadaya yang berat demi mencari kehidupan yang lebih baik. Sungai Bawang sendiri di masa lalu lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Karang Mumus.

Nenek moyang mereka awalnya berasal dari dataran tinggi Usun Apau di wilayah Baram dan Belaga, Sarawak. Mereka bergerak melintasi batas alam di sepanjang aliran Sungai Aw’an untuk masuk ke kawasan dataran tinggi Apau Kayan, yang kini berada di wilayah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Di Apau Kayan inilah mereka menetap lama dan membentuk berbagai sub-suku seperti Lepo’ Tau, Lepo’ Tukung, Bakung, dan Umaq Jalan.

Kepala Adat Desa Budaya Sungai Bawang, Amos Usat, menceritakan kembali getirnya perjalanan masa lalu saat gelombang eksodus besar-besaran mulai terjadi sejak era 1960-an hingga 1980-an menuju ke arah hilir Kalimantan Timur.

“Kala itu hidup di pedalaman sangat terisolasi oleh hutan dan jeram. Kami susah mengakses garam, minyak, obat-obatan, dan sekolah. Ditambah lagi situasi politik Konfrontasi Ganyang Malaysia di perbatasan yang tidak menentu, serta ladang yang kian menyempit. Kami terpaksa berjalan kaki menembus hutan rimba dan bertahun-tahun menyusuri jalur sungai besar demi masa depan anak-cucu,” kenang Amos dengan tatapan menerawang.

Sebagian kelompok akhirnya tiba di wilayah perbatasan antara Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda. Sebagian menetap di Pampang, sementara kelompok lainnya memilih membuka wilayah baru di sebelahnya yang kini dinamakan Desa Budaya Sungai Bawang.

Di lahan baru ini, mereka mendirikan Lamin, melanjutkan tradisi bertani, dan hidup berdampingan secara harmonis dengan sub-suku Dayak lainnya, hingga resmi diakui pemerintah sebagai Desa Budaya pada tahun 2021.

Panggilan Jiwa Carolina di Panggung Tradisi

Pusat dari seluruh kekuatan tradisi ini bertumpu pada dua simbol utama, Rumah Lamin dan Alat Musik Sape’. Rumah Lamin dengan ukiran ornamen khas Dayak bermotif sulur dan hewan mitologi merupakan ruang kelas terbuka tempat nilai gotong royong diajarkan. Sementara alunan dawai sape’ yang dahulu dimainkan untuk ritual penyembuhan, kini telah bermutasi menjadi identitas global yang dipentaskan anak-anak muda di panggung internasional.

Namun, pertahanan budaya ini bukan tanpa celah. Globalisasi membawa serta industri modern dan pergeseran ekonomi yang menuntut kepraktisan. Hutan yang dahulu menjadi supermarket alami kian menyusut. Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga agar ritual adat tidak bergeser maknanya sekadar menjadi komoditas pertunjukan wisata akhir pekan.

Di sinilah peran generasi Z seperti Carolina Nampa menjadi krusial. Bagi remaja putri Sungai Bawang yang kini menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Samarinda ini, akhir pekan adalah waktu yang paling ditunggu. Selain menjadi momen berkumpul bersama keluarga di rumah, akhir pekan adalah waktu di mana jiwanya pulang kembali ke akar budayanya.

Lamin Adat yang berdiri megah dengan arsitektur ikonik khasnya selalu menyambut langkah kaki Carolina layaknya seorang ibu. Di sanalah detak jantung budaya Dayak Kenyah berdenyut paling kencang, dan di sanalah Carolina merasa paling hidup. Setiap akhir pekan, suasana Lamin selalu riuh oleh kedatangan puluhan hingga ratusan warga serta wisatawan yang antusias menyaksikan pagelaran adat.

Dari dalam tas sekolah yang biasa diisinya dengan buku-buku pelajaran kota, Carolina mengeluarkan mahkota burung enggang (Ta’ah) dan baju adat manik-manik hitam-kuning yang berat. Meski berbobot, pakaian itu terasa begitu hangat dan akrab di kulitnya. Setiap untaian maniknya dijahit dengan segenap untaian doa oleh mendiang neneknya.

Sembari bersiap, ingatannya kerap melayang ke masa kecil. Dulu, ia hanyalah bocah kecil yang duduk manis di sudut Lamin dengan mata berbinar-binar. Ia ingat betul bagaimana jemari ibunya meliuk lembut dan kaki neneknya menghentak anggun seirama dengan petikan sape’ yang magis. Mereka menari tulus untuk menghibur warga dan tamu desa.

“Saya senang ketika melihat ibu dan nenek menari menghibur para warga yang datang ke kampung kami. Hal inilah yang terus memotivasi saya dan teman-teman untuk terus menjaga dan melestarikan budaya adat kami,” kisah Carolina dengan senyum mengembang.

Keteguhannya berbuah manis. Tidak hanya menari di Lamin desa, Carolina kini sering mendapatkan undangan resmi untuk unjuk bakat di tingkat kabupaten maupun provinsi setiap kali perhelatan pariwisata daerah digelar. Ia menjadi bukti nyata bahwa di tengah riuhnya kepungan dunia digital, denyut nadi leluhur Dayak Kenyah Sungai Bawang akan tetap berdetak kuat, mengalir di darah generasi mudanya yang menolak lupa pada asal-usulnya.

Lamin, Sape’, dan Sinergi Energi PHM

Pusat dari seluruh kekuatan tradisi ini bertumpu pada dua simbol utama, Rumah Lamin dan Alat Musik Sape’. Rumah Lamin dengan ukiran ornamen khas Dayak bermotif sulur dan hewan mitologi merupakan ruang kelas terbuka tempat nilai gotong royong diajarkan.

Sementara alunan dawai sape’ yang dahulu dimainkan untuk ritual penyembuhan, kini telah bermutasi menjadi identitas global yang dipentaskan anak-anak muda di panggung internasional.

Namun, pertahanan budaya ini bukan tanpa celah. Globalisasi membawa serta industri modern dan pergeseran ekonomi yang menuntut kepraktisan. Hutan yang dahulu menjadi supermarket alami kian menyusut. Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga agar ritual adat tidak bergeser maknanya sekadar menjadi komoditas pertunjukan wisata akhir pekan.

Di titik kritis inilah, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) hadir menjadi bagian dari solusi penyeimbang. Melalui payung program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada pengembangan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat, PHM ikut menyuntikkan energi keberlanjutan di Sungai Bawang.

Achmad Krisna Hadiyanto, Head of Communication Relations & CID PHM, menegaskan komitmen kuat perusahaan dalam menjaga kekayaan kultural ini agar jati diri bangsa tidak tercerabut dari akarnya.

“Di Desa Sungai Bawang ini terdapat harmoni yang indah antara dua suku Dayak, yakni Suku Dayak Kenyah dan Suku Dayak Bahau. Saat tarian sakral seperti Hudoq dari Dayak Bahau atau tradisi Kenyah dibawakan, kami di PHM berkomitmen penuh memberikan dukungan nyata untuk pelestariannya. Menjaga warisan budaya ini adalah tanggung jawab bersama agar identitas bernilai tinggi ini tetap hidup di tengah kemajuan zaman,” tegas Achmad Krisna penuh dukungan.

Yang paling mengagumkan dari Desa Sungai Bawang adalah api tradisi ini tidak dibiarkan padam begitu saja. Di selasar Lamin Adat, proses transfer ilmu bergerak secara alami dan intim.

PHM tidak hanya mendukung aspek seremonial lewat penguatan gelaran festival tahunan Mecaq Undat dan turnamen olahraga tradisional Ngeleput (menyumpit), tetapi juga menyentuh akar kemandirian ekonomi.

Melalui pelatihan manajemen kelompok dan pendampingan ekonomi kreatif untuk para perajin baju adat, manik-manik, serta ukiran, PHM membantu memastikan kearifan lokal ini memiliki nilai ekonomi tinggi yang mampu menyejahterakan warganya.

Kolaborasi promosi wisata berkelanjutan ini membuka mata dunia bahwa tradisi Dayak Kenyah di Sungai Bawang tetap tegak berdiri sebagai jalan hidup (way of life).

Warisan untuk Masa Depan

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat Sungai Bawang, alunan sape’ perlahan berhenti. Anak-anak yang tadi menari kini berkumpul di pelataran Lamin, tertawa bersama sambil sesekali melihat layar ponsel mereka.

Di desa ini, masa lalu dan masa depan tidak saling bertarung. Mereka hidup berdampingan, saling melengkapi.

Minyak dan gas bumi di perut Delta Mahakam suatu saat bisa habis dieksplorasi, namun energi kepedulian yang ditanam bersama masyarakat Dayak Kenyah Sungai Bawang akan terus mengalir dan abadi melintasi generasi. (*)

Penulis: Suriyatman

Tinggalkan Balasan