News

Trend Peredaran dan Pengguna Berubah, Kaltim Tidak Lagi di Nomor 2 Terpapar Narkoba

KLIKSAMARINDA – Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Kalimantan Timur (Kaltim) merilis jumlah masyarakat yang terpapar narkoba sepanjang tahun 2019. Secara nasional, Kaltim berada pada urutan ke-23.

Tadinya, Kaltim berada pada urutan kedua dari segi warga yang terpapar narkoba. Kepala BNNP Kaltim, Brigjen Pol Raja Haryono menerangkan jika hal itu menjadi prestasi yang luar biasa bagi masyatakat Kaltim.

“Kita kemarin ada di urutan dua dan sekarang ada di urutan 23 dari 34 Provinsi. Ini harus kita pertahankan dan kalau bisa di tahun 2020 kita ada di urutan 34,” ujar Brigjen Pol Raja Haryono di kantornya, Jalan Rapak Indah, Samarinda, Kamis 16 Januari 2020 lalu.

KLIK JUGA:  Kopilot Lion Air Tewas di Hotel, Ini Penjelasan Awal Soal Kesehatannya

Raja mengatakan, berdasarkan hasil survei LIPI, BNN Provinsi Sumatera Utara menempati posisi teratas terpapar narkoba terbanyak sepanjang 2019 lalu dari 34 provinsi di Indonesia.

Setelah Provinsi Sumatera Utara, ada Provinsi Sumatera Selatan di urutan kedua, Provinsi DKI Jakarta di posisi ketiga, serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan provinsi Sulawesi Tengah di urutan keempat dan kelima. Bagi BNNP Kaltim, posisi Kaltim pada urutan 23 terpapar narkoba merupakan sebuah prestasi.

“Di Kaltim, sasaran yang disurvei adalah Samarinda, karena dianggap paling rawan,” kata Raja.

Selanjutnya Kabupaten Kukar responden yang disasar adalah rumah tangga seperti para pekerja menjadi pusat penelitian. Kemudian disusul pelajar, dan kemudian ibu rumah tangga. Tercatat ada 16.963 yang mengaku pernah menggunakan narkoba.

KLIK JUGA:  Innalillahi, Warga Tewas Dengan Tangan Terikat Tali Rapia di Dalam Sumur

Menurut Raja, tingginya tingkat warga yang terpapar narkoba karena banyak pemakai pasif. Namun, akibat banyaknya sosialisasi dan penindakan yang dilakukan oleh BNN maupun instansi terkait lainnya membuat masyarakat menjadi tahu dan khususnya pemakai pasif tentunya tidak mau mencoba.

“Banyaknya operasi membuat para pemakai pasif menjadi takut untuk menggunakan akhirnya mereka memilih tidak menggunakan,” kata Raja.

Sepanjang 2019 lalu, Kaltim sering jadi sasaran tujuan pengiriman dalam jumlah besar, dari Malaysia, melalui jalur Kalimantan Utara. Tetapi itu tidak serta merta menunjukkan Kaltim memiliki banyak pengguna narkoba. Sebab, tidak sedikit pengiriman sabu ke Kaltim itu, justru akan disebar ke daerah lain bahkan di luar Kaltim.

KLIK JUGA:  Organ Bayi Yang Hilang di Samarinda Belum Ditemukan

Prestasi ini, menurut Brigjen Pol Raja Haryono, merupakan kerja sama pelbagai pihak mulai BNNP Kaltim, pemerintah, kepolisian serta ormas penggiat anti narkoba dan warga.

“Kita sudah berkerja keras menurunkan ini dan kita harus hati-hati dan prestasi ini harus dipertahankan,” lanjutnya.

Namun, Raja Haryono menerangkan tidak menutup kemungkinan, Kaltim dari posisi ke-23 ini, kembali naik di posisi teratas. Paling tidak, masyarakat Kaltim saat ini, semakin waspada dan mengantisipasi peredaran dan penggunaan narkoba.

“Setidaknya, dimulai dari lingkungan keluarga bahwa narkoba itu benar-benar berbahaya,” tutupnya. (Jie)