Clicky

Tinjauan Vaksinasi dari Sudut Pandang Psikologi

KEMUNCULAN Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 menghebohkan seluruh dunia. Faktanya, virus ini telah ada sejak 2019, namun baru terasa dampaknya di Indonesia pada Maret 2020. COVID-19 merupakan penyakit menular yang berasal dari Wuhan –Tiongkok.

Pelbagai kebijakan kemudian diberlakukan. Mulai dari aturan menjaga jarak, wajib mencuci tangan, menggunakan masker jika bepergian, dan menghindari kerumunan.

Dalam perkembangannya, ternyata ada jenis baru dari COVID-19. Diantaranya varian Alpha dari Inggris, varian Beta dari Afrika, dan varian Kappa dari India. Maka saat mengatasi pandemi ini, Pemerintah merespon lewat kebijakan khusus; vaksinasi. Meski, secara umum masih ada pelbagai ketimpangan dalam pelaksanaannya.

Laporan dari jurnal Nature Human Behaviour menyebut, terhitung sejak 7 April 2021, 710 juta dosis vaksin telah dilakukan di seluruh dunia. Terutama di 169 negara.

Vaksin yang disuntikkan itu sendiri berasal dari bagian bakteri yang menyerang manusia. Bagian itu dilemahkan lebih dulu, lalu disuntikkan ke tubuh manusia. Harapannya, tubuh yang disuntik vaksin ini membentuk antibodi khusus terhadap paparan bakteri atau virus yang asli –dijelaskan oleh World Health Organization (WHO).

Saat Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB –23 September 2020– Presiden Joko Widodo menyatakan, vaksin yang sedang diproduksi ini menjadi game changer yang digunakan untuk berperang melawan COVID-19 –dikutip dari CNN Indonesia.

Pada 13 Januari 2021, Presiden Jokowi merupakan orang pertama yang menerima vaksin di Indonesia. Adapun jenis vaksin yang telah sampai ke Indonesia yaitu Sinovac, AstraZaneca, Moderna, Pfizer, dan Sinopharm. Sayangnya, dengan beredarnya pelbagai jenis vaksin itu, justru membuat masyarakat semakin ragu dan menolak vaksinasi.

Beragam alasan dilontarkan. Mulai dari kekhawatiran kesehatan, hingga dalih agama. Ada pula yang mengatakan bahwa akan terjadi overload pada sistem imunitas lantaran beragamnya vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh. Hal ini belum termasuk dengan kekhawatiran yang muncul dari pelbagai teori konspirasi, hingga isu genosida seperti yang tercatat di Poland dan Jacobson pada 2001.

Berdasarkan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), kepercayaan masyarakat atas keamanan vaksin tidak begitu meyakinkan saat program vaksinasi akan berjalan.

Pada 2021, presentase tingkat kepercayaan publik terhadap vaksin mencapai 53,1 persen. Sementara 43,3 persn lainnya kurang percaya dan ada yang tidak percaya sama sekali. Berdasarkan kajian itu, diperoleh hasil bahwa persepsi masyarakat terhadap COVID-19 tercipta dari banyaknya informasi yang simpang siur mengenai vaksin.

Seperti, banyaknya media massa yang mewartakan konten vaksin tanpa fakta. Pun, kurangnya respon yang diberikan Pemerintah terhadap isu negatif seputar vaksin COVID-19. Persepsi yang sudah dibentuk dalam pikiran masyarakat nantinya akan dilontarkan berdasarkan perasaan, kemampuan berpikir, dan pengalaman yang pernah dirasakan individu.

Pada attribution theory, kita mengenal istilah konsensus. Kelly (1967) menyatakan, semakin tinggi konsensus suatu kelompok, maka suatu perilaku dapat didistribusikan secara eksternal.

Ini artinya, individu akan merasa mendapat tekanan dari luar (situational attributions) ketika suatu nilai yang
dipercayainya bertentangan dengan nilai mayoritas yang berlaku di lingkungan sosial, dan tidak menutup kemungkinan bahwa individu tersebut kemudian akan menganut nilai yang bertentangan dengan apa yang telah dipercayai sebelumnya.

Psikolog Ivon mengatakan, lingkungan menjadi salahsatu faktor penentu pro dan kontra sikap masyarakat terhadap vaksin COVID-19.

Dengan kehadiran vaksin, sikap, dan perilaku masyarakat, perbedaan profil psikologis mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial. (*)

Referensi

Vaksin dan Pandemi Covid 19

https://www.ugm.ac.id/id/berita/20906-membaca-persepsi-masyarakat-terhadap-vaksin-covid-19

Kiling Indra, Yohannes Dkk. Jurnal Psikologi Social 2021 Vol.19, No.02

Muhammad, Farhan dkk. Pembentukan Persepsi Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi

President University Tentang Vaksinasi Covid 19. Dynamic Media, Communications, And Culture 2021

DMCA.com Protection Status