Tantangan Vaksinasi dan Faktor yang Memengaruhi Perilaku Masyarakat dalam Perspektif Psikologi Komunikasi

Penulis: Putri Anju Aini

CORONAVIRUS Disease 2019 atau COVID-19 masih mewabah di Indonesia. Meningkat sejak Maret 2020 lalu hingga saat ini, beberapa wilayah padat penduduk di Indonesia sempat menjadi episentrum penyebaran, baik di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa. Pulau Kalimantan bahkan pernah mencatat kasus infeksi tertinggi, seperti dilansir laman covid19.go.id.

Pemerintah berupaya menangani penyebaran virus itu. Penanggulangan nyata adalah  dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi adalah solusi konkret yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menghadapi COVID-19. Vaksin diberikan pada masyarakat yang sehat. Tujuannya, tentu agar mencegah penyakit tertentu masuk ke dalam tubuh penerima vaksin. Fungsinya sendiri mendorong pembentukan kekebalan tubuh.

PERKEMBANGAN VAKSIN

Perencanaan vaksinasi di Indonesia dipahami sebagai puncak dari rangkaian penanganan Covid-19. Pemerintah menargetkan 181.554.465 penduduk yang berusia di atas 18 tahun dapat selesai divaksin secara bertahap sebelum akhir 2021. Data yang dirilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, vaksinasi kepada masyarakat telah mencapai angka 107 juta dosis.

Menurut World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) terjadi penurunan penerimaan vaksin pada  2020 hingga awal 2021 lalu. Fenomena ini diduga terjadi karena adanya misinformasi terkait vaksin COVID-19 di masyarakat Indonesia.

PARTISIPASI MASYARAKAT

Awalnya, vaksinasi menuai kontroversi di masyarakat. Muncul pro-kontra. Ada yang mendukung, ada pula yang meragukan. Banyak informasi yang diterima tidak utuh. Hal ini membuat sebagian masyarakat enggan melakukan vaksinasi. Mulai dari kekhawatiran zat-zat berbahaya yang masuk ke tubuh, hingga efek pasca vaksin yang menimbulkan kematian.

Pemberitaan media yang berimbang dan akurat mengenai vaksinasi, sebenarnya menjadi kunci meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi. Kurangnya edukasi dan sosialisasi, menimbulkan fenomena panic buying dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksinasi. Faktor ini tentu menjadi penghambat terbesar program vaksinasi COVID-19 yang sedang dilakukan Pemerintah.

Lantas, faktor apa saja yang memengaruhi perilaku masyarakat terhadap vaksinasi jika ditinjau dalam perspektif psikologi personal dan situsional?

Manusia merupakan makhluk sosial, dimana proses sosial memengaruhi perilaku. Baik dari personal diri maupun pengaruh situasi –lingkungan. Masyarakat mudah percaya dengan informasi yang diterima. Kemudian terbentuklah sebuah perspektif; sikap, insting, motif, dan kepribadian. Kepercayaan dalam diri masyarakat membentuk perilaku itu.

Salahsatu hasilnya, masyarakat memiliki pengetahuan yang tidak lengkap mengenai sebuah informasi. Hal itu dapat memengaruhi pola pikir, menimbulkan kepercayaan, serta kemauan dalam bertindak. Selain itu, terdapat faktor pengaruh situasi dalam menentukan perilaku masyarakat.

Penelitian Frederiscen Pricedan Bouffard (1972) menyebut, kendala situasi memberikan rentangan dalam berperilaku. Daya pendorong dan motivasi juga menentukan sikap seseoran;g harus mendukung atau menolak sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan, dinginkan, menyampingkan apa yang tidak diinginkan, dan apa yang dihindari (Sherif dan Sherif 1956:14).

Pro -kontra masyarakat terhadap informasi vaksin COVID-19 terjadi karena pengaruh sistem lingkungan sosial, pengetahuan, serta kebijakan dalam melihat situasi. Hal inilah yang menjadi faktor paling berpengaruh terhadap persepsi masyarakat.

Walaupun masyarakat –secara personal– ingin menunjukkan kebebasan individual, namun tekanan dari luar juga memengaruhi dalam menentukan sikap, emosi, serta kemauan dalam bertindak mencapai tujuan tertentu.

Kebanyakan masyarakat memang tidak ingin melakukan vaksinasi. Namun kebijakan strategis Pemerintah “memaksa” masyarakat untuk divaksinasi. Contoh dari situasi ini bias ditilik dari beberapa  kebijakan birokrasi yang mengharuskan masyarakat untuk vaksinasi.

Faktor-faktor diataslah yang dapat membawa perilaku terhadap objek. Namun perilaku masyarakat dapat berbeda-beda pula terhadap kehadiran vaksinasi, tergantung bagaimana masyarakat memaknai situasi secara kompleks dengan meningkatkan cakupan intelektualitas diri, emosional, dan kemauan mencari tahu. Sehingga, hasil yang akan diperoleh dapat dipercaya.

Pemerintah juga berperan untuk fokus pada meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin COVID-19 melalui pesan media massa dan sosialisasi oleh tenaga kesehatan. Tujuannya, tentu agar masyarakat mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam menilai situasi saat ini.

 

REFERENSI

Jalaluddin, Rakhmat. 2015. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian CoronavirusDesease (COVID-19). Jakarta: Kemenkes RI ; 2020.

Kemenkes RI. Data Sebaran COVID-19 di Indonesia 2020. Jakarta: (Internet). 2021 (cited 9 September 2021). Availablefrom: covid19.go.id

Vaksinasi COVID-19 dan Kebijakan Negara, Perspektif Ekonomi Politik Idil Akbar Universitas Padjadajaran, Bandung, Indonesia Email: idil.akbar@unpad.ac.id

https://www.kompas.com/sains/read/2020/12/23/160000023/keraguan-pada-vaksin-covid-19-bagaimana-masyarakat-harus-bersikap