Arsip Tag: orangutan kaltim

Warga Kutim Serahkan Bayi Orangutan Ke BKSDA Kaltim

KLIKSAMARINDA – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) menerima penyerahan satu individu bayi orangutan berjenis kelamin jantan dari warga Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Kepala BKSDA Kaltim, Sunandar menyatakan, bayi orang tersebut selanjutnya akan direhabilitasi untuk kemudian dilepasliarkan kehabitatnya setelah kondisinya memungkinkan.

Penyerahan bayi orangutan ini terjadi atas laporan dari seorang warga di sekitar Desa Miau Baru pada 2 Juni 2020 melalui call center BKSDA Kalimantan Timur (08211-333-8181). Dalam laporannya, warga menyebutkan ada warga yang telah memelihara bayi orangutan selama beberapa waktu.

Bayi orangutan tersebut hendak diserahkan ke pihak yang berwenang secara sukarela karena masyarakat sadar dan memahami bahwa jenis Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio) tersebut merupakan jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia.

“Setelah menerima laporan, saya menugaskan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) yang terdekat, yaitu dari tim WRU Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau yang berposisi di Tanjung Redeb, untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut,” ungkap Sunandar, Senin 8 Juni 2020.

Tim WRU BKSDA Kalimantan Timur bekerjasama dengan tim medis satwa dari pusat rehabilitasi orangutan (PRO) Center for Orangutan Protection (COP) di Labanan, Berau dan dipandu oleh penunjuk jalan sekaligus penghubung dengan warga yang merupakan personil dari PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), yang kebetulan kawasannya berdekatan dengan lokasi yang dilaporkan, segera bergerak menuju lokasi keberadaan orangutan tersebut.

Ketua Tim Penyelamatan dari Polisi Kehutanan SKW I Berau, Edwin, menyatakan bayi orangutan yang diberi nama Loli tersebut telah diselamatkan dan dipelihara selama 4 (empat) bulan oleh warga masyarakat desa Miau Baru.

“Secara umum, kondisinya tampak cukup sehat, tetapi masih memerlukan observasi lebih lanjut dari tim medis satwa,” ujar Edwin.

Orangutan tersebut dievakuasi pada siang hari sekitar pukul 13.00 WITA dan langsung dilakukan pemeriksaan kesehatan awal. Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa bayi orangutan tersebut cukup sehat dan diketahui berusia kurang lebih 1 tahun.

Dari pengakuan warga, bayi orangutan ini ditemukan masyarakat di kebun masyarakat di sekitar desa dalam kondisi terpisah dari induknya. Selama dalam pemeliharaan warga, bayi orangutan tersebut diletakkan pada kandang kayu yang terletak di belakang rumah.

Hasil koordinasi lebih lanjut, antara tim WRU BKSDA Kalimantan Timur di lapangan, Kepala BKSDA Kalimantan Timur dan Kepala SKW I Berau, maka diputuskan bahwa bayi orangutan tersebut akan menjalani proses pemulihan dan rehabilitasi terlebih dahulu di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP yang berlokasi di KHDTK Hutan Litbang Badan Litbang dan Inovasi KLHK, Labanan, Berau.

Sebelum menjalani proses rehabilitasi, bayi orangutan tersebut akan ditempatkan dalam kandang karantina selama kurang lebih 1 – 3 bulan, dan menjalani beberapa pemeriksaan kesehatan lanjutan.

“Sampai saat ini satu-satunya kawasan hutan untuk pelepasliaran berada di Kalimantan Timur adalah kawasan hutan Kehje Sewen yang kapasitasnya juga semakin terbatas. Kami berharap dapat memperoleh kawasan hutan yang baru untuk pelepasliaran orangutan Kalimantan di masa yang akan datang,” ujar Sunandar.

Sunandar menyatakan pihaknya memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga Desa Miau Baru yang telah menyelamatkan bayi orangutan tersebut untuk kemudian dengan sukarela dan kesadarannya menyerahkannya kepada petugas berwenang.

“Harapan kami, bayi orangutan ini dapat tumbuh dan menjalani proses rehabilitasinya dengan baik, sebelum akhirnya akan kami lepasliarkan kembali ke habitatnya di hutan yang lebih aman,” ujar Sunandar. (*)

Kronologi Evakuasi Orangutan Oleh BKSDA Kalimantan Timur di Bontang Dengan Protokol Covid-19

KLIKSAMARINDA – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) menyelamatkan 1 individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus morio) liar berjenis kelamin jantan, dari kebun masyarakat di Kelurahan Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), Jumat 29 Mei 2020.

Awalnya, penyelamatan orangutan ini berasal dari laporan warga melalui Call Center Balai Taman Nasional (TN) Kutai, Kamis 28 Mei 2020. Laporan ini kemudian diteruskan ke Call Center BKSDA Kalimantan Timur untuk ditindaklanjuti karena lokasinya berada di luar kawasan TN Kutai.

Kepala BKSDA Kaltim, Sunandar, melalui rilis menyatakan, pihaknya kemudian menugaskan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan komunikasi awal kepada masyarakat pelapor untuk mendapatkan gambaran lokasi dan informasi-informasi tambahan lainnya sebagai dasar untuk mempersiapkan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan dalam menggelar operasi penyelamatan satwa liar.

Tim WRU BKSDA Kalimantan Timur yang terdiri dari 3 orang personil teknis dan 1 dokter hewan pun berangkat dari Samarinda menuju lokasi keberadaan orangutan tersebut pada 29 Mei 2020. Dalam proses penyelamatan, tim dibantu masyarakat dengan menjadi penunjuk jalan ke lokasi bersarangnya orangutan dan persiapan perlengkapan-perlengkapan penyelamatan.

Lebih lanjut, Kepala Resort KSDA Kutai Timur dan Bontang, Witono, sebagai ketua tim penyelamatan dari lokasi memberikan informasi seputar orangutan yang sudah beberapa hari berada di lokasi tersebut. Menurut Witono, orangutan telah berada di kebun masyarakat kurang lebih seminggu.

Selama itu, setiap hari orangutan tersebut memakan buah nangka yang ada di kebun masyarakat dan mulai memakan umbut pohon kelapa dan kelapa sawit yang ditanam masyarakat sehingga beberapa pohon rusak dan mulai mati.

Kemudian pada sore hari akan kembali ke hutan di batas kebun untuk bersarang dan istirahat. Hal tersebut yang cukup meresahkan dan merugikan masyarakat. Akan tetapi, masyarakat juga telah sadar bahwa orangutan merupakan jenis satwa yang dilindungi Undang Undang.

“Masyarakat berinisiatif hanya melakukan upaya penghalauan mandiri terlebih dahulu dan kemudian melaporkannya untuk dilakukan penanganan dan penyelamatan lebih lanjut oleh petugas yang berwenang,” ujar Witono.

Anggota tim WRU BKSDA Kalimantan Timur, Rido mengungkapkan proses penyelamatan orangutan ini berjalan cukup lancar dan tidak menemukan kendala yang serius. Menurut Rido, kesulitan teknis lebih banyak terjadi pada faktor upaya pembiusan orangutan yang bersembunyi di cabang-cabang pohon yang tertutup daun-daun yang cukup lebat dengan ketinggian kurang lebih 10 (sepuluh) meter.

“Upaya pembiusan menggunakan senapan bius dilakukan secara hati-hati dan sesuai prosedur. Akhirnya setelah 2 (dua) kali upaya penembakan bius, orangutan tersebut dapat terbius kurang lebih pada jam 16.00 dan segera diturunkan dari pohon,” ujar Rido.

Orangutan tersebut dapat dievakuasi sepenuhnya pada sore hari sekitar pukul 18.00 WITA dan langsung dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum dimasukkan dalam kandang transfer. Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa orangutan tersebut merupakan orangutan dewasa liar dalam kondisi sehat, berkelamin jantan, usia kurang lebih 15 tahun, perkiraan berat badan 70-80 kg.

Berdasarkan laporan penilaian kesehatan satwa, antara Tim WRU BKSDA Kalimantan Timur di lapangan, Kepala BKSDA Kalimantan Timur dengan Kepala Balai TN Kutai, diputuskan bahwa orangutan tersebut akan langsung dipindahkan untuk dilepasliarkan ke dalam kawasan Taman Nasional Kutai sebagai lokasi terdekat yang habitatnya sesuai untuk orangutan tersebut.

Tim WRU BKSDA Kalimantan Timur langsung melanjutkan pemindahan dan mempersiapkan proses pelepasliaran orangutan di wilayah Resort Sangkima dalam kawasan TN Kutai bersama dengan tim WRU Balai TN Kutai.

Pemantauan lebih lanjut pasca pelepasliaran menunjukkan bahwa meskipun pelepasliaran dilakukan pada malam hari, orangutan tersebut tetap membuat sarang baru sementara. Orangutan terpantau telah bergerak masuk ke dalam hutan pada keesokan harinya.

“Kami bersyukur, upaya penanganan konflik satwa liar melalui penyelamatan sampai pelepasliaran orangutan ini dapat dilaksanakan dengan lancar, terutama dengan kesadaran dan dukungan masyarakat,” ujar Sunandar.

Hal ini juga tidak terlepas dari kerjasama yang baik antar unit pelaksana teknis lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Sunandar juga menyampaikan, proses penyelamatan dan pelepasliaran orangutan ini dilaksanakan dengan protokol kesehatan Covid-19.

“Semoga semua upaya tersebut akan semakin memperkuat upaya-upaya konservasi keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur,” ujar Sunandar. (*)

BKSDA Kaltim Evakuasi Orangutan di Bontang

KLIKSAMARINDA – Tim dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim mengevakuasi seekor orangutan jantan dewasa dari perkebunan warga di kawasan Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), Jumat 29 Mei 2020.

Orangutan seberat 80 kilogram ini terpaksa dievakuasi sebab kerap bersinggungan dengan kebun milik warga tak jauh dari Kelurahan Bontang Lestari.

Untuk mengevakuasi satwa dilindungi ini, petugas BKSDA membius orang utan untuk memudahkan penyelamatan.

Petugas Pengendalian Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Kaltim, Rido menyatakan, evakuasi berlangsung sekitar pukul 18.00 WITA. Kini, satwa liar itu dikarantina di Taman Nasional Kutai (TNK) Bontang.

“Pukul 18.00 kita baru berhasil evakuasi dan langsung di bawa ke TNK Bontang,” ujar Rido.

Rido menjelaskan penyelamatan orang utan ini harus dilakukan lantaran telah berkonflik dengan warga. Petani mengaku tanaman buah kerap dimasuki oleh satwa ini. Dari laporan tersebut, petugas langsung mengambil tindakan.

Usia orangutan jantan ini sekitar 15 tahun. Ia telah mendiami kawasan ini sejak lama. Namun, seiring perkembangan waktu habitatnya berubah menjadi kawasan perkebunan.

“Ini sudah laporan yang ketiga kali. Kemungkinan yang ini sering muncul di pemukiman warga,” papar Rido. (*)