Sederhana, Napak Tilas Sejarah Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama di Sanga Sanga Kukar – KLIK SAMARINDA
Ragam

Sederhana, Napak Tilas Sejarah Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama di Sanga Sanga Kukar

Ketua Legion Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sanga Sanga, Paiman

Berkibar Sang Saka Merah Putih pasca 17 Agustus 1945 di tanah air Indonesia merupakan sebuah tanda bukti kemerdekaan. Namun, karena keterbatasan penyampaian informasi kemerdekaan ke beberapa daerah menyebabkan rakyat kala itu belum berani mengibarkan bendera Indonesia. Salah satunya di daerah Sanga Sanga, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Di Kota Juang tersebut, sebutan untuk Kecamatan Sanga Sanga, pengibaran bendera merah putih baru dilaksanakan pada 26 Oktober 1945.

Untuk mengenang peristiwa sejarah tersebut, Komunitas Pemerhati Sejarah Sanga Sanga (Kompas) bersama jajaran pemerintah Kecamatan Sanga Sanga menggelar napak tilas, Sabtu, 26 Oktober 2019. Kegiatan diisi dengan gelaran upacara pengibaran bendera merah-putih bersama dengan warga setempat juga pelajar.

Prosesi upacara pengibaran bendera merah putih 26 Oktober 1945 di Sanga Sanga, Kukar

“Kami mengadakan kegiatan napak tilas sejarah pengibaran bendera merah-putih pertama kali di Sanga Sanga,” ujar Ketua Kompas, Ali Tunang.

Kegiatan pengibaran dilakukan persis di lokasi serupa kala itu. Tepatnya, di samping kantor Badan Penolong Perantau Djawa (BPPD) kala itu. Meski saat ini di lokasi tersebut sudah menjadi pemukiman warga, namun jejak berupa pondasi tiang bendera yang digunakan saat itu masih dapat ditemukan. Pun, di lokasi tersebut telah didirikan tugu peringatan atas terjadinya peristiwa tersebut. Ali menyebutkan, kegiatan ini kali pertama diselenggarakan. Ia berharap ke depannya kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin tahunan serta mendapatkan perhatian dari warga sekitarnya.

“Tujuannya juga, agar sejarah Sanga Sanga ini bisa masuk dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Tujuannya, untuk melestarikan juga melestarikan juga untuk memberikan pengetahuan sejarah daerah,” ungkapnya.

Dalam upacara yang dipimpin oleh Camat Sanga Sanga, Gunawan selaku pembina upacara, peserta upacara serempak mengenakan pakaian ala pejuang kala itu. Juga sebagian diantaranya mengenakan pakaian adat Indonesia. Gunawan berharap wawasan terhadap pelajar dan generasi muda terhadap tanggal 26 Oktober 1945 pernah terjadi sejarah luar biasa di Sanga Sanga.

“Kita laksanakan upacara dengan nuansa yang tidak terkontaminasi dengan hal-hal saat ini. Maksudnya, dilaksankan dengan suasana saat dahulu itu,” kata dia.

Selain itu, situs yang ada saat ini ke depan akan dipugar agar sejarah tetap dapat lestari. Pun, agar ke depannya situs ini dapat menjadi tempat wisata juang.

“Karena, saya juga menyadari, warga di Sanga Sanga juga tak sepenuhnya mengetahui tentang sejarah pengibaran bendera pertama kali ini,” tuturnya.

Selain itu, hadir Ketua Legion Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sanga Sanga, Paiman (93) yang turut mengisahkan peristiwa saat pengibaran. Ia merupakan veteran yang saat itu menjadi saksi hidup perjuangan rakyat Sanga Sanga.

“Dulu, yang kita hormati itu bendera Belanda, bendera Jepang. Dulu kita takut untuk mengibarkan bendera merah-putih. Jangankan mengibarkan, kita buat bendera merah-putih aja kita dibunuh,” cerita Paiman.

Paiman menuturkan, miris dengan sebagian generasi muda yang seolah tak peduli tentang sejarah. Menurut dia, penerus bangsa harus mengerti berapa darah yang sudah tumpah untuk mengibarkan bendera merah-putih.

“Anak zaman sekarang hanya tau merdeka saja, tapi juga harus mengetahui sejarahnya bagaimana,” kata Paiman.

Menurut catatan sejarah, pada 1889 ditemukan cadangan minyak bumi terbesar di Kaltim. Sehingga tahun 1897 Belanda melakukan pengeboran pertama di Sanga-sanga. Sejak saat itu, Belanda di bawah pemerintahan Hindia-Belanda banyak memompa minyak mentah dari sumur Metelda di Balikpapan dan sumur Lapangan Lousie untuk menunjang pembangunan Belanda.

Setelahnya, Jepang mendaratkan pasukannya 24 Januari 1942 di Balikpapan untuk menggempur tentara Belanda. Serangan tersebut mengakibatkan kekalahan Belanda sehingga Balikpapan dan Sanga Sanga menjadi wilayah Jepang. Pada tahun yang sama itu pula Jepang turut mengambil alih kepemilikan sumur-sumur minyak tersebut.

Tak tinggal diam, Belanda saat itu lantas bersekutu dengan Australia tentara mencari celah untuk menguasai kembali daerah Sanga-sanga. Lalu, Jepang menyiapkan pasukannya dengan mengambil pemuda-pemuda untuk Laskar Jepang (umur 17-18 tahun). April 1945 sampai Juni 1945 kedudukan tentara Jepang di Balikpapan mendapat serangan besar-besaran dari tentara sekutu. Kapal-kapal armada perang sekutu serta pesawat tempur memborbardir pasukan Jepang hingga luluh lantak.

Selanjutnya pada 1 juli 1945 sekira 7.200.000 pasukan Australia mendarat di pantai Balikpapan menggunakan kapal. Pada saat itu pasukan Jepang sudah tidak dapat berdaya melawan. Akhirnya Jepang menyerah. Pada puncaknya, 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat setelah bom meledak di Hirosima Nagasaki.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 masyarakat di Jakarta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Lalu, sekutu yang berada di Sanga Sanga, turut melucuti tentara Jepang. Pada 21 Agustus tentara Jepang yang berada di Sanga Sanga mengumumkan untuk menghentikan perang gerilya dan kembali ke negaranya.

Tanggal 11 September 1945 kembali datang bantuan tentara sekutu di Sanga Sanga. Pada saat itu rakyat Sanga Sanga yang senang dengan perginya pasukan Jepang lantas “bersahabat” dengan tentara sekutu terutama anggota BPPD diantaranya Soedirin, Soekamso dan Soegiono.

Pada tanggal 26 Oktober 1945 sekira pukul 08:00 WITA, penduduk meminta izin untuk mengibarkan bendera merah-putih dan disetujui oleh tentara sekutu. Setelahnya, tentara sekutu ditarik mundur karena telah habis masanya di wilayah Indonesia digantikan tentara Belanda, NICA. (NR S yaian)