News Ragam

IKN di Kaltim, Siapkah Administrator Muda Bersaing?

Perpindahan ibukota negara ke Kalimantan Timur menjadi atensi administrator muda lokal. Siapkah mereka berkompetisi?

DI Coffee & Arts Studio, Dekade –Jalan Keledang, Voorvo– puluhan mahasiswa berdiskusi dengan serius, Sabtu 23 November 2013, sekira pukul 09.00 Wita. Kepastian IKN pindah ke Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, jadi fokus pembahasan mereka.

Kondisi ini cukup membuat mereka ketar-ketir. Musababnya, persaingan antara sumber daya manusia di Kaltim dan luar Kaltim diprediksi akan lebih ketat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Pembahasan kami hari ini adalah tentang persiapan apa saja yang harus dilakukan para administrator muda ketika ibukota dipindah dan potensi apa saja yang sebenarnya yang bisa kami eksplore di Kaltim,” kata Muhammad Gilang Akbar Ramadhan, ketua panitia diskusi akbar dengan tema “Siapkah Para Administrator Muda Kaltim Menghadapi Perpindahan Ibukota Negara.”

Menurut Gilang, diskusi akbar ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (Himanega). Tema yang diangkat merupakan hasil dari kajian Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Himanega.

Hadir sebagai narasumber adalah Mariman Darto, Kepala Pusat Pelatihan dan Pengembangan (Puslatbang) Kajian Desentralisasi dan Otonomi Daerah (KDOD) Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, dan Mohammad Taufik, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Mulawarman (Unmul).

Diskusi akbar ini, lanjut Gilang, dimaksudkan untuk merespon kebijakan pemerintah pusat soal perpindahan IKN. “Dari diskusi akbar ini terungkap fenomena dan tantangan apa saja yang akan kami hadapi sebagai administrator muda. Kami berharap diskusi akbar ini dapat menjadi tempat menumbuhkan gagasan-gagasan baru,” paparnya.

Di lain sisi, ucap Gilang, perpindahan IKN harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia lokal, khususnya para administrator muda. “SDM merupakan salah satu faktor utama pemerataan pembangunan,” bebernya. (*)