Arsip Kategori: Opini

Opini dari masyarakat yang berisi pandangan pribadi dan analisis terkait kondisi publik

Sehat bagi Seluruh Rakyat Indonesia!

Opini oleh Winda Wulandari (Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman)

Sejak tahun 1950, tanggal 7 April diperingati sebagai “World Health Day” atau “Hari Kesehatan Dunia”. Hal ini ditujukan untuk menciptakan kesadaran terkait permasalahan kesehatan, disesuaikan dengan tema berbeda di tiap tahunnya sesuai dengan bidang prioritas yang sedang menjadi perhatian World Health Organization (WHO).

Dilansir dari laman resmi who.intl, tema dari World Health Day tahun 2021 adalah “Building a Fairer, Healthier World”. Tema “Building a Fairer, Healthier World” atau “ membangun dunia yang lebih adil, dan lebih sehat” menjadi bentuk kampanye dari permasalahan kesehatan saat ini.

Pandemi Covid-19 telah menjadi permasalahan hampir seluruh negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Dampak dari pandemi Covid-19 tak hanya memengaruhi permasalahan kesehatan namun juga sosial, pendidikan, bahkan ekonomi.

Hal ini pun sangat berdampak pada masyarakat dengan pendapatan yang kurang, memliki kondisi perumahan yang tidak layak, serta pendidikan yang rendah, yang memengaruhi akses lingkungan yang aman, air, udara yang bersih, serta kurangnya ketersediaan pangan yang dimiliki, ditambah dengan kurangnya akses untuk pelayanan kesehatan.

Kondisi itu menjadikan mereka yang sebelumnya rentan terpapar penyakit menjadi lebih rentan lagi. Oleh sebab itu, WHO berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap orang, di mana pun, dapat mewujudkan hak atas kesehatan yang baik.

Di Indonesia sendiri, hak untuk hidup sejahtera lahir batin dan hak mendapatkan pelayanan kesehatan merupakan hak warga yang termaktub dalam konstitusi Negara Republik Indonesia. Kewajiban Negara untuk memberikan perlindungan dan pelayanan kesehatan diatur secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Nasional dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Pada tahun 2014, sebagai bentuk komitmen untuk memberikan perlindungan hak kesehatan, pemerintah meluncurkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tercapainya Jaminan Kesehatan semesta atau Universal health Coverage (UHC) tahun 2019 merupakan target pemerintah.

Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan olah PRAKARSA, cakupan kepesertaan JKN berdasarkan data per Desember 2019 , baru 224,1 juta atau 83 persen dari total populasi penduduk Indonesia, yang berarti target yang dicanangkan pemerintah gagal untuk dicapai.

Terlambatnya capaian kepesertaan JKN, tentu berhubungan dengan defisit BPJS kesehatan yang selalu menjadi permasalahan di tiap tahunnya. Mengutip data Litbang Kompas, Defisit BPJS pada tahun 2014 tercatat sebesar Rp 1,94 T, lalu ditahun 2015 defisit Rp 4,42 T, tahun 2016 turun menjadi Rp 150 M, kemudian membengkak kembali menjadi Rp 13,8 T di tahun 2017, Rp 19,4 Triliun di tahun 2018, dan Rp 13 T ditahun 2019.

Namun pada tahun 2020, BPJS Kesehatan mencatatkan surplus arus kas Rp 18,7 Triliun. Hal ini tentu hal yang baik. Namun perlu diperhatikan apakah bersifat permanen atau hanya sementara.

Pasalnya menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), di tengah Covid-19, kunjungan peserta JKN-KIS ke fasilitas kesehatan berkurang hingga 40%.

Tentu antisipasi perlu dilakukan oleh pihak BPJS Kesehatan untuk mencegah terjadinya defisit kembali pada keuangan BPJS kesehatan. Jika sekiranya setelah keadan normal maka peserta JKN-KIS yang kembali berobat membludak.

Selain itu, tidak meratanya cakupan pelayan kesehatan juga menjadi penyebab dari tidak tercapainya target UHC 2019. Seperti penelitian yang dilakukan oleh PRAKARSA menemukan bahwa provinsi di Jawa dan bagian barat Indonesia memiliki cakupan layanan kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan provinsi di luar jawa terutama bagian Timur Indonesia.

Untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC), pemerataan cakupan pelayanan kesehatan tentu harus diterapkan. Tidak hanya di pulau Jawa saja, namun juga di luar Jawa, terkhusus bagian Timur Indonesia.

Kesenjangan dan ketidaksetaraan alokasi sumber daya daerah, kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional, penerapan akses perawatan bagi pengguna JKN yang kurang berkualitas di beberapa daerah, serta kemiskinan yang berhubungan erat dengan munculnya masalah kesehatan, menjadi hal yang harus segera diatasi oleh pemerintah.

Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Kesehatan Indonesia!

 

Efektivitas Masker Kain Cegah Virus Corona

Opini oleh: Nova Rahmawati (Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta)

Penggunaan masker saat bepergian kini sudah menjadi suatu kewajiban di tengah pandemi virus covid-19, yang hingga kini belum juga menunjukkan tanda-tanda penurunan. Sayangnya, masker telah menjadi barang langka di tengah situasi pandemi saat ini.

Bahkan, petugas medis yang sangat membutuhkannya pun juga sulit mendapatkannya. Kabar baiknya, kita bisa membuat sendiri masker untuk mencegah infeksi virus dengan bahan kain yang ada di sekitar kita.

Melansir laman Business Insider, masker buatan sendiri memang kurang efektif untuk mencegah infeksi virus jika dibandingkan dengan masker bedah atau masker N95. Namun, masker berbahan kain ini adalah hal terbaik daripada kita tidak memakai alat pelindung.

Efektivitas masker berbahan kain ini pernah diteliti dalam riset 2013 yang meneliti efektivitas masker berbahan katun untuk mencegah penyebaran influenza. Dalam riset tersebut, peneliti membuktikan bahwa masker berbahan kain katun dapat mencegah penularan influenza secara signifikan. Efektivitas masker bebahan katun tersebut bahkan mencapai sepertiga dari efektivitas masker bedah.

“Saat ini, petugas medis yang merawat pasien Covid-19 lebih membuuthkan masker N95,” ucap Joyce Fulton, perawat medis dari California.

Riset dari Cambridge University juga membuktikan hal serupa. Dalam riset tersebut, peneliti meletakan bakteri Bacillus atrophaeus dan virus Bacteriophage MS pada berbagai bahan rumah tangga. Peneliti juga mengukur persentase efektivitas berbagai bahan rumah tangga dan membandingkannya dengan masker bedah. Dari hasil riset, terbukti bahwa masker bedah memiliki efektivitas sebesar 97 persen dalam menangkap bakteri berukuran 1 mikron.

Bahan kain sejenis lap yang digunakan sebagai masker, mempunyai efektivitas hingga 83 persen bila digunakan 1 lapis. Sedangkan bila digunakan dua lapis, maka efektivitasnya hampir sama dengan masker bedah yaitu 93 persen. Sementara masker yang terbuat dari bahan kain katun bila digunakan satu lapis memiliki efektivitas hingga 69 persen dan bila digunakan dua lapis maka efektivitasnya menjadi 71 persen.

Bahan masker yang berasal dari kain bahan baju diharapkan mempermudah masyarakat untuk menperolehnya atau membuat sendiri di rumah sehingga masyarakat mendapatkan alternatif memakai masker daripada tidak memakai masker sama sekali ketika keluar rumah atau saat berinteraksi dengan orang lain.

Kunci utama untuk membuat masker yang efektif adalah layering. Hal ini penting agar masker yang kita buat sesuai dengan bentuk mulut dan hidung kita sehingga partikel dari udara tidak bisa masuk.

Kita bisa membuat masker dengan 3 layer. Lapisan luar bisa menggunakan bahan yang halus. Sementara untuk lapisan tengah kita bisa menggunakan bahan yang ditenun rapat seperti nilon. Untuk bagian dalam, kita bisa menggunakan katun alami agar pemakaian terasa nyaman. Hindari membuat masker dari bahan wol atau jenis kain lain yang bisa menyebabkan alergi atau iritasi.

Masker kain memang tidak sepenuhnya efektif melindungi diri dari Virus Corona. Namun, mengenakan masker kain bila tidak tersedia masker sekali pakai setidaknya dapat menurunkan risiko tertular Virus Corona. Agar penggunaan masker berbahan kain dapat berfungsi seoptimal mungkin untuk menangkal virus Corona, maka terdapat beberapa tips seperti berikut:

* Pilih masker yang sesuai dengan ukuran wajah dan dapat menutup mulut, hidung, dan dagu.
• Cuci tangan sebelum mengenakan masker, lalu kenakan masker pada wajah dan selipkan talinya di belakang telinga atau ikat tali masker di belakang kepala dengan erat agar masker tidak longgar.
•Hindari menyentuh masker kain saat sedang dipakai. Jika ingin memperbaiki posisi masker kain yang berubah atau longgar, cuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh masker.
• Setelah selesai digunakan, lepaskan masker kain dengan hanya menyentuh tali pengait atau pengikatnya, lalu segera cuci masker kain dengan air bersih dan deterjen atau rebus masker di air mendidih dengan suhu minimal 1300 Celsius.
• Segera ganti masker kain apabila sudah robek atau rusak.
Menggunakan masker untuk Virus Corona efektif untuk mencegah penularan. Apapun jenis maskernya, termasuk masker kain. Selain itu, cuci tangan juga sama pentingnya dengan memakai masker. Pastikan selalu mencuci tangan setiap usai melakukan atau menyentuh sesuatu, terutama di tempat umum. Jangan lupa juga untuk selalu menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter terutama di tempat-tempat umum.

Di samping itu semua, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh juga tidak kalah pentingnya. Saat mengalami gejala batuk, pilek, demam, dan sesak napas segera menghubungi dokter atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat. (*)

Pembelajaran Daring Saat Pandemi, Efektifkah?

Opini oleh: Nova Rahmawati Nurjannah

Covid-19 hingga saat ini masih mewabah di berbagai negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Selain itu, virus Corona bisa menyerang siapa saja, seperti lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak, dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular sangat cepat dan telah menyebar hampir ke semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Sehingga WHO pada tanggal 11 Maret 2020 menetapkan wabah ini sebagai pandemi global.

Hal tersebut membuat beberapa negara menetapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini. Karena Indonesia sedang melakukan PSBB, maka semua kegiatan yang dilakukan di luar rumah harus dihentikan tak terkecuali kegiatan pembelajaran di sekolah.

Semua pemerintah daerah memutuskan menerapkan kebijakan untuk meliburkan siswa dan mulai menerapkan metode belajar dengan sistem daring (dalam jaringan) atau online. Kebijakan pemerintah ini mulai efektif diberlakukan di beberapa wilayah provinsi di Indonesia pada hari Senin, 16 Maret 2020 yang terus berlanjut hingga saat ini.

Tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi beberapa sekolah di tiap-tiap daerah. Sekolah-sekolah tersebut tidak siap dengan sistem pembelajaran daring, dimana membutuhkan media pembelajaran seperti handphone, laptop, atau komputer yang belum tentu dapat dijangkau oleh semua anak di Indonesia.

Sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet. Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Guru dapat melakukan pembelajaran bersama diwaktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran.

Sistem pembelajaran yang baru ini tentu memiliki kendala dalam pelaksanaanya. Salah satunya adalah siswa atau orangtua siswa yang tidak memiliki handphone untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring ini terkendala dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal tersebut mengharuskan pihak sekolah ikut mencari solusi untuk mengantisipasi hal tersebut.

Tidak berhenti di situ, kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi bagi siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring juga menjadi salah satu kendala. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak diantara orangtua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.

Pun, pembelajaran daring tidak bisa lepas dari jaringan internet. Koneksi jaringan internet menjadi salah satu kendala yang dihadapi siswa yang tempat tinggalnya sulit untuk mengakses internet, apalagi siswa tersebut tempat tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil, karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Hal ini juga menjadi permasalahan yang banyak terjadi pada siswa yang mengikuti pembelajaran daring sehingga kurang optimal pelaksanaannya.

Ketidaksiapan guru dan siswa terhadap pembelajaran daring juga menjadi masalah. Perpindahan sistem belajar konvensional ke sistem daring amat mendadak, tanpa persiapan yang matang. Tetapi semua ini harus tetap dilaksanakan agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan siswa aktif mengikuti walaupun dalam kondisi pandemi Covid-19.

Komponen-komponen yang sangat penting dari proses pembelajaran daring (online) juga perlu ditingkatkan dan diperbaiki. Pertama dan terpenting adalah jaringan internet yang stabil, kemudian gawai atau komputer yang mumpuni,aplikasi dengan platform yang user friendly, san sosialisasi daring yang bersifat efisien, efektif, kontinyu, dan integratif kepada seluruh stekholder pendidikan.

Solusi atas permasalahan ini adalah pemerintah harus memberikan kebijakan dengan membuka gratis layanan aplikasi daring bekerjasama dengan provider internet dan aplikasi untuk membantu proses pembelajaran daring ini. Pemerintah juga harus mempersiapkan kurikulum dan silabus permbelajaran berbasis daring. Bagi sekolah-sekolah perlu untuk melakukan bimbingan teknik (bimtek) online proses pelaksanaan daring dan melakukan sosialisasi kepada orangtua dan siswa melalui media cetak dan media sosial tentang tata cara pelaksanaan pembelajaran daring, kaitannya dengan peran dan tugasnya.

Ada sebuah pelajaran yang dipetik dari dunia pendidikan di tengah pandemi Covid-19, yakni kegiatan belajar tatap muka dengan guru terbukti lebih efektif ketimbang secara daring (online). Beberapa guru di sekolah mengaku, jika pembelajaran daring ini tidak seefektif kegiatan pembelajaran konvensional (tatap muka langsung), karena beberapa materi harus dijelaskan secara langsung dan lebih lengkap. Selain itu materi yang disampaikan secara daring belum tentu bisa dipahami semua siswa. Berdasarkan pengalaman mengajar secara daring, sistem ini hanya efektif untuk memberi penugasan.

Mengamati pengalaman dari beberapa guru tersebut, maka guru juga harus siap menggunakan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Guru harus mampu membuat model dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa di sekolahnya. Penggunaan beberapa aplikasi pada pembelajaran daring sangat membantu guru dalam proses pembelajaran ini. Dengan demikian guru dituntut mampu merancang dan mendesain pembelajaran daring yang ringan dan efektif, dengan memanfaatkan perangkat atau media daring yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan.

Hal yang paling sederhana dapat dilakukan oleh guru bisa dengan memanfaatkan WhatsApp Group. Aplikasi WhatsApp cocok digunakan bagi pelajar daring pemula. Sedangkan bagi pengajar online yang mempunyai semangat yang lebih, bisa menngkatkan kemampuannya dengan menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran daring.
Namun sekali lagi, pilihlah aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa itu sendiri.

Tidak semua aplikasi pembelajaran daring bisa dipakai begitu saja. Namun harus dipertimbangkan sesuai kebutuhan guru dan siswa, kesesuaian terhadap materi, keterbatasan infrastrukur perangkat seperti jaringan.

Keberhasilan guru dalam melakukan pembelajaran daring pada situasi pandemi ini adalah kemampuan guru dalam berinovasi merancang, dan meramu materi, metode pembelajaran, dan aplikasi apa yang sesuai dengan materi dan metode. Kreativitas merupakan kunci sukses dari seorang guru untuk dapat memotivasi siswanya tetap semangat dalam belajar secara daring (online) dan tidak menjadi beban psikis.

Di samping itu, kesuksesan pembelajaran daring selama masa pandemi ini tergantung pada kedisiplinan semua pihak. Oleh karena itu, pihak sekolah di sini perlu membuat skema dengan menyusun manajemen yang baik dalam mengatur sistem pembelajaran daring. Hal ini dilakukan dengan membuat jadwal yang sistematis, terstruktur dan simpel untuk memudahkan komunikasi orangtua dengan sekolah agar putra-putrinya yang belajar di rumah dapat terpantau secara efektif.

Dengan demikian, pembelajaran daring sebagai solusi yang efektif dalam pembelajaran di rumah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, physical distancing (menjaga jarak aman) juga menjadi pertimbangan dipilihnya pembelajaran tersebut. Kerjasama yang baik antara guru, siswa, orangtua siswa dan pihak sekolah/madrasah menjadi faktor penentu agar pembelajaran daring lebih efektif. (_)

Terpuruknya Perekonomian Indonesia Akibat Covid-19

Opini oleh: Adelia Iriana Putri (Mahasiswa Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta)

Di awal tahun 2020 ini, dunia dikagetkan dengan kejadian infeksi berat dengan penyebab yang belum diketahui. Kasus ini berawal dari laporan dari Cina kepada World Health Organization (WHO) terdapatnya 44 pasien pneumonia yang berat di suatu wilayah yaitu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, tepatnya di hari terakhir tahun 2019 Cina.

Dugaan awal, hal ini terkait dengan pasar basah yang menjual ikan, hewan laut, dan berbagai hewan lain. Pada 10 Januari 2020 penyebabnya mulai teridentifikasi dan didapatkan kode genetiknya yaitu virus corona baru. (Diah Handayani,2020).

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa Coronaviruses (Cov) adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi virus ini disebut COVID19. Virus Corona menyebabkan penyakit flu biasa sampai penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-CoV).

Virus Corona adalah zoonotic yang artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Berdasarkan penjelasan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus COVID-19 di Wuhan berawal pada tanggal 30 Desember 2019 dimana Wuhan Municipal Health Committee mengeluarkan pernyataan “urgent notice on the treatment of pneumonia of unknown cause”. Penyebaran virus Corona ini sangat cepat bahkan sampai ke lintas negara. Sampai saat ini terdapat 188 negara yang mengkorfirmasi terkena virus Corona. (Silpa Hanoatubun, 2020).

Di Indonesia, penyebaran virus ini dimulai sejak tanggal 02 Maret 2020. Penyebaran diduga berawal dari warga negara Indonesia yang melakukan kontak langsung dengan warga negara asing yang berasal dari Jepang. Hal tersebut telah diumumkan oleh Presiden Jokowi. Seiring dengan berjalannya waktu, penyebaran Covid-19 telah mengalami peningkatan yang signifikan.

Diketahui dari data berikut, sejumlah dua kasus dari data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 kasus kematian. Tingkat mortalitas Covid-19 di Indonesia sebesar 8,9%. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Data 31 Maret 2020 menunjukkan kasus yang terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 kasus kematian. Tingkat mortalitas COVID-19 di Indonesia sebesar 8,9%, angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.(Adityo Susilo, 2020).

Merespon pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), pemerintah Indonesia mulai menerapkan pembatasan dengan kebijakan social distancing (jaga jarak sosial, menghindari kerumunan), lalu physical distancing (jaga jarak antar orang minimal 1,8 meter) sejak awal Maret 2020. Kebijakan itu telah menurunkan secara drastis aktivitas dan pergerakan orang di Jabodetabek dan kota-kota besar. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya jumlah penumpang pada berbagai sarana transportasi mulai pesawat terbang, kereta api komuter, bus dan busway, angkot, taksi, taksi online, bajaj, hingga ojek dan ojek online (ojol).(Wibowo Hadiwardoyo, 2020). Tentunya hal tersebut berdampak pada sektor ekonomi, baik dari sisi perdagangan, investasi dan pariwisata.

Penerimaan pajak sektor perdagangan juga mengalami penurunan. Padahal perdagangan memiliki kontribusi kedua terbesar terhadap penerimaan pajak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor migas dan non-migas mengalami penurunan yang disebabkan karena China merupakan importir minyak mentah terbesar.

Selain itu, penyebaran virus Corona juga mengakibatkan penurunan produksi di China. Padahal China menjadi pusat produksi barang dunia. Indonesia juga sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur.

Virus Corona juga berdampak pada investasi karena masyarakat akan lebih berhati-hati saat membeli barang maupun berinvestasi. Virus Corona memengaruhi proyeksi pasar. Investor bisa menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari China menenpati urutan kedua setelah Singapura. Terdapat investasi di Sulawesi berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi tertunda karena pegawai dari China yang terhambat datang ke Indonesia.

Indonesia adalah salah satu negara yang memberlakukan larangan perjalanan ke luar negeri untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Larangan ini menyebabkan sejumlah maskapai membatalkan penerbangannya dan beberapa maskapai terpaksa tetap beroperasi meskipun mayoritas bangku pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang.

Para konsumen banyak yang menunda pemesanan tiket liburannya karena semakin meluasnya penyebaran virus Corona. Keadaan ini menyebabkan pemerintah bertindak dengan memberikan kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Virus Corona juga sangat berdampak pada sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa wisatawan asal China mencapai 2.07 juta orang pada tahun 2019 yang mencakup 12.8 persen dari total wisatawan asing sepanjang 2019. Penyebaran virus Corona menyebabkan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia akan berkurang.

Sektor-sektor penunjang pariwisata seperti hotel, restoran maupun pengusaha retail pun juga akan terpengaruh dengan adanya virus Corona. Okupansi hotel mengalami penurunan sampai 40 persen yang berdampak pada kelangsungan bisnis hotel.

Sepinya wisatawan juga berdampak pada restoran atau rumah makan yang sebagian besar konsumennya adalah para wisatawan. Melemahnya pariwisata juga berdampak pada industri retail. Adapun daerah yang sektor retailnya paling terdampak adalah Manado, Bali, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Medan dan Jakarta.

Penyebaran virus Corona juga berdampak pada sektor investasi, perdagangan, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan juga karena para wisatawan yang datang ke suatu destinasi biasanya akan membeli oleh-oleh. Jika wisatawan yang berkunjung berkurang, maka omset UMKM juga akan menurun. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada tahun 2016 sektor UMKM mendominasi unit bisnis di Indonesia dan jenis usaha mikro banyak menyerap tenaga kerja. (Silpa Hanoatubun, 2020).

Indonesia telah melakukan beberapa langkah dalam mengurangi efek ekonomi dari pandemi COVID-19 diantaranya adalah melakukan penurunan atas BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 BPS menjadi 4.75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4.00% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5.50%.

Langkah ini diterapkan guna menstimulus pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global akibat pandemi COVID-19. Selain itu untuk menjaga agar inflasi dan stabilitas eksternal tetap terkendali serta untuk memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia harus dapat mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik (Wibowo & Handika, 2017).

Oleh karena itu kita, bersama pemerintah, harus sebaik-baiknya melindungi perekonomian dari dampak Covid-19 tersebut. Indonesia bisa melakukannya karena mempunyai sistem perlindungan sosial yang relatif maju dibandingkan negara-negara berkembang lainnya.

Mari bergandengan tanggan bersama-sama untuk memelihara perekonomian kita jangan egois karena sekrang ini dibutuhkan kerjasama sehingga masalah yang dialami oleh bngsa kita dapat diselesaikan dengan baik dan bersama-sama mematuhi peraturan dari pemerintah sehingga Covid-19 dapat berakhir pada waktunya karena ketika kita tidak patuh maka pandemik akan terus berlangsung karena kurangya kesadaran untuk menaati peraturan pemerintah. (_)

Dilema Anak Negeri Pecinta Seni

Opini oleh: Gusmi Adinar Anggian Dana (Mahasiswi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta)

Indonesia merupakan salah satu Negara di belahan dunia ini yang memiliki seni dan budaya yang beragam. Dari Sabang sampai Merauke terhampar keindahan perbedaan budaya serta corak-corak seni lainya.

Saat ini jarang sekali kita temui anak muda yang mencintai seni dan budaya di Negeri sendiri. Faktanya, anak muda sekarang lebih menyukai budaya luar, mulai dari tarian ataupun fashion. Padahal di Negeri ini juga mempunyai seni sejenis itu yang lebih keren apabila dikembangan dan diperdalam lebih jauh lagi.

Diantara banyaknya anak muda yang mencintai budaya luar, sebenarnya banyak juga anak muda Negri ini yang sangat mencintai seni dan budaya dalam Negeri ini. Anak muda inilah yang sebenarnya mempunyai potensi untuk mengembangkan dan memajukan seni di Indonesia ini mendunia.

Tetapi, ada beberapa faktor yang membuat mereka mundur untuk berkarya atau tidak melanjutkan studi tentang apa yang mereka suka. Salah satu hal ini adalah persepsi orang tua.

Ya, orang tua bisa menjadi salah satu faktornya. Kenapa? Ko bisa? Banyak sekali orang tua yang sampai saat ini masih memiliki persepsi lama tentang pendidikan atau segala sesuatu dalam bidang seni yang ingin digeluti oleh anaknya. Padahal seharusnya orang tua menjadi seseorang yang slalu mendukung bakat dan minat anaknya.

Banyak orang tua yang berkata dan berfikir “Kamu mau sekolah seni? Mau jadi apa kamu?”. Di sinilah kesalahan itu, banyak orang tua yang belum mengetahui tentang prospek kerja di bidang ini.

Sebab pada tahun 90-an (dilansir dari ruangguru) orang yang berkuliah di jurusan seni masih belum terkenal. Lalu pekerja di bidang seni di cap sebagai pengangguran, dan praktik pekerjan ini masih sering dianggap bisa secara otodidak.

Lalu adanya pemikiran orag tua bahwa sekolah atau kuliah di bidang seni itu hanya sebagai formalitas, jadi banyak orang tua yang berfikir juga bahwa lebih baik kuliah dibidang dengan jurusan-jurusan seperti Dokter, Guru atau yang lainnya selain jurusan seni.

Hal ini lah yang membuat hati anak-anak Negri menjadi gelisah dengan apa yang mereka minati, bisa menjadi salah satu faktor yang membuat mereka berhenti berkarya. Padahal faktanya, seorang calon pekerja seni akan dibekali ilmu berbisnis agar dapat membuka usaha sendiri untuk menjual hasil karya nya.

Dengan demikian semoga bisa membuka pandangan orang tua untuk mengizinkan anaknya untuk sekolah lebih tinggi atau sekolah lebih lanjut terutama di bidang minat dan bakat yang mereka sukai. (*)

Pulihkan Ekonomi Indonesia Melalui Pariwisata

Opini oleh: Alfina Afifatur Rahma Safitri (Mahasiswa Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta)

Di saat ini, Covid-19 sangat membuat resah masyarakat Indonesia karena banyak yang terjangkit virus tersebut. Beberapa sektor yang dibuka dan aktivitas yang melibatkan kumpulan orang dalam jumlah banyak dilarang. Sekolah tatap muka diganti dengan school from home. Pekerja sebagian besar melakukan work from home. Penerbangan dan juga kereta api ditutup.

Pandemi Covid-19 juga sangat memengaruhi pariwisata Indonesia. Sebab pemerintah menutup pariwisata demi mencegah turis yang akan datang ke Indonesia membawa virus Covid-19.

Dengan adanya penutupan tempat-tempat wisata dan akses transportasi jarak jauh menimbukan turunnya ekonomi Indonesia. Padahal, pariwisata telah menjadi sumber ekonomi terbanyak bagi Indonesia. Banyaknya turis yang berlibur ke Indonesia dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Indonesia sendiri mengalami kontraksi ekonomi sebesar 5,32% pada kuartal II-2020. Ini merupakan catatan terburuk sejak 1999. Terakhir kali Indonesia mengalami kontraksi ekonomi adalah pada kuartal I tahun 1999 sebesar 6,13%. Inilah yang menjadikan sektor transportasi mengalami kontraksi hingga 3,57%.

Selain itu, para pedagang yang ada di tempat wisata pun ikut resah. Yang dulunya ramai masyarakat yang berlibur dan membeli oleh-oleh, sekarang sepi pembeli. Sehingga menurunkan ekonomi mereka.

Padahal sumber ekonomi mereka dari berjualan tersebut dan uang hasil penjualan untuk makan setiap harinya. Hal ini tidak hanya berdampak pada penjual oleh-oleh saja. Namun juga berpengaruh pada industri lainnya yang juga dapat menimbulkan PHK besar-besaran.

Pada akhirnya banyak penjual yang beralih ke penjualan online. Namun tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut. Sebab masih banyak orang yang belum paham akan gawai dan masih sangat lekat dengan budaya daerah mereka.

Di daerah Bali, daerah yang terkenal akan budaya dan wilayahnya yang sangat indah dan sangat dikagumi oleh para turis domestik maupun manca negara menjadi daerah titik ekonomi pariwisata Indonesia terjadi karena tempat yang sangat strategis.
Di saat pandemi banyak memengaruhi taksu budaya Bali.

Sebab budaya Bali adalah budaya yang adiluhung, bermutu tinggi, dan ,memiliki nilai luhur yang secara langsung memengaruhi masyarakatnya. Sehingga walaupun kondisi ekonomi Bali terpuruk namun tidak memengaruhi keberlangsungan budaya Bali.

Hanya saja upacara pementasan kesenian dibatasi. Mengapa hal itu dilakukan? Sebab jika budaya Bali terkikis hal tersebut akan memengaruhi besar pada ekonomi Bali. Karena sumber ekonomi di Bali tergantung pada budayanya hingga pariwisata di sana sangat lekat akan budaya yang ada di Bali

Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menargetkan Bali dapat memulihkan kembali sektor pariwisata Indonesia sebab Bali memberikan dampak yang sangat luas. Sebab jumlah wisata asing di Indonesia pada 2019 lebih dari 40% selalu datang ke Bali dengan penerbangan langsung.

Untuk itu sangat penting untuk bisa mengimplementasikan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. Maskapai Garuda Indonesia juga melihat kemajuan positif untuk penerbangan ke Bali dan akan memaksimalkan dengan catatan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Semoga saja dengan dibuka kembali pariwisata, akan membawa dampak positif bagi Indonesia dan sekitarnya. (*)

Opini: Dilema Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh : Nabilah Jihan Khumaira (Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, warga Samarinda)

Berdasarkan data perkembangan kasus virus corona Covid-19 yang dirilis dari Kementerian Kesehatan, mulai dari 1 Maret-1 April 2020, didapati pemetaan karakter epidemiologi dari Covid-19 yang terjadi di Indonesia. Sejak adanya virus corona Covid-19 yang ada di Indonesia membuat masyarakat menjadi takut akan penyebaran virus tersebut.

Pemerintah berpikir keras untuk mengurangi penyebaran virus corona Covid-19 yang sangat darurat pada saat itu. Upaya darurat Pemerintah pada saat itu adalah meliburkan seluruh sekolah, kantor, dan menutup segala tempat perbelanjaan dan hiburan. Sekolah yang awal diliburkan selama 2 minggu untuk darurat covid-19 itu di perpanjang hingga awal bulan Juli 2020 karena merebaknya virus corona Covid-19 ini.

“Artinya Tahun Ajaran Baru tetap dimulai pertengahan Juli, seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya pembelajaran dilaksanakan masih dengan metode PJJ,” ujar Satriwan Salim Wasekjen FSGI dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (28/5/2020).

Hal ini dilakukan karena meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia. PJJ memanglah pilihan terbaik di masa pandemi ini, PJJ bisa melindungi guru dan keluarga siswa dari paparan Covid-19 ini. Namun, memang PJJ tidak bisa optimal dalam proses belajar mengajar seperti yang biasanya tatap muka langsung di dalam kelas. Selain proses belajar yang tidak optimal, turunnya kesehatan mental para siswa yang bisa diakibatkan oleh ketidaksiapan para siswa untuk melakukan PJJ.

Masih banyak para siswa yang ada di pedalaman desa yang susah untuk mencari sinyal demi belajar di masa pandemi ini. Tidak sedikit para orang tua siswa yang mengeluhkan pembelajaran daring sebagai pengganti belajar tatap muka di dalam kelas. Tidak semua siswa yang memiliki fasilitas yang memadai seperti laptop, smartphone, dan kuota.
Minimnya bantuan pemerintah di pelosok-pelosok daerah untuk membantu para siswa yang ada didaerah tersebut membuat para siswa datang ke dusun atau fasilitas Negara untuk meminjam Wifi. Mahalnya kuota di daerah pelosok juga membuat mereka berjalan jauh ke tempat-tempat yang memiliki Wifi gratis .

Pada tanggal 7 Agustus 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memberikan pernyataan saat siaran pers terkait pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah. Banyaknya pemintaan dari masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman yang masuk zona kuning untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah masing-masing, membuat Nadiem menyatakan pendapatnya di siaran pers tersebut.

Kebijakan ini juga tentunya sudah direncanakan dengan matang agar dapat mensejahterkan pendidikan Indonesia lagi, tetapi tentu kebijakan ini juga memiliki aspek negative dan aspek positif yang dilihat dari berbagai kalangan.

“Karena seperti itu, bu. Kita kurang efektif tidak seperti di sekolah. Di sekolah kita dipantau langsung sama guru. Guru itu kan digugu dan ditiru. Dan ada wacana saya lihat di berita, saya gak tahu ini benar apa enggak, bahwa PJJ ini akan dilaksanakan dengan permanen. Sedangkan kalau kita belajar cuma mau pintar, Google juga lebih pintar daripada sekolah, benar menurut saya,” tutur seorang siswa kritik pembelajaran online pada video yang beredar di sosmed.

Memang, pembelajaran dari rumah tidak maksimal untuk mendidik siswa. Guru yang biasa mengajar langsung menggunakan papantulis dan berbicara langsung kepada siswa yang biasanya bisa membuat siswa dan guru menjadi akrab dan bisa spontan memberi pertanyaan kini tidak lah mudah untuk spontan memberi pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan, karena jaringan yang kadang tidak stabil di tiap-tiap daerah.

Namun, pembelajaran dari rumah juga memberi kesadaran kepada orangtua bahwa mendidik anak itu ternyata tidak mudah. Diperlukan ilmu dan kesabaran yang sangat besar. Sehingga dengan kejadian ini orangtua harus menyadari dan mengetahui bagaimana cara membimbing anak-anak mereka dalam belajar. Setelah mendapat pengalaman ini diharapkan para orangtua mau belajar bagaimana cara mendidik anak-anak mereka di rumah.

Dengan demikian, pembelajaran secara daring ini merupakan salah satu cara yang efektif untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di samping tetap bisa belajar dari rumah. Kita harus tetap bersama-sama mendukung kebijakan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini. (*)

Membuat Jera Youtuber Nakal Dengan Hukum

Opini oleh: Elwindhi Febrian,S.Sn.,SH (Peneliti Pusat Kajian Hak Asasi Manusia dan Pelayanan Publik Aksa Bumi, Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia)

Siapa yang tidak mengenal youtube di jaman milenial ini? Youtube adalah salah satu Website yang paling popular saat ini di seluruh dunia, popularitasnya bisa dikatakan sudah menggeser acara-acara di Televisi. Mayoritas masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi lebih menyukai Youtube untuk mengikuti perkembangan atau berita yang ada di sekitarnya, bahkan melalui Youtube masyarakat dapat mengakses informasi di luar negeri.

Munculnya youtuber-youtuber sukses memicu masyarakat untuk mengikuti jejak mereka untuk meraih keuntungan dan popularitas dari Youtube, konten-konten kreatif dari para youtuber baru bermunculan sangat banyak baik konten kreator yang mengangkat travelling, kuliner, musik, sinematografi, animasi, video tutorial dan banyak varian konten lainnya.

Banyak hal positif yang muncul dari keberadaan Youtube, salah satunya menggugah gairah masyarakat untuk membuat dan meningkatkan kreativitas. Youtube disambut gembira oleh masyarakat yang membutuhkan media untuk memperlihatkan bakat-bakat mereka ditambah mereka dapat menghasilkan uang dari konten-konten yang diunggah di Youtube. Youtube dapat diibaratkan adalah panggung, tempat pameran, bioskop, dan sarana media konvensional lainnya untuk memperlihatkan suatu karya tetapi dalam bentuk digital.

Kemudahan Youtube sebagai sosial media yang sedang digandrungi kaum milenial banyak dimanfaatkan oleh youtuber-youtuber nakal, kebanyakan dari mereka memakai karya dan/atau konten orang lain untuk mendompleng channel Youtube mereka. Siapa yang dirugikan dari youtuber-youtuber nakal ini? Jelas pemilik karya atau konten yang sangat dirugikan, mereka memerlukan waktu, proses berfikir, modal, keterampilan, imajinasi, inspirasi, kecekatan, dan keahlian untuk membuat suatu karya atau konten.

Para Youtuber nakal ini dengan gampangnya mengambil karya orang lain untuk menguntungkan dirinya sendiri yang jelas-jelas bukan haknya untuk mamanfaatkan karya tersebut dengan bebas. Timbul pertanyaan, bagaimana hukum di Indonesia mengatur masalah ini.

UU Nomor 28/2014 tentang Hak Cipta (UUHC) menjelaskan, suatu karya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, seni, dan sastra diatur dan dilindungi dalam UU ini. Ada syarat yang harus dipenuhi untuk memanfaatkan karya atau konten orang lain, yakni harus ada ijin dari pemilik karya dengan kesepakatan yang harus dipenuhi, karena nantinya akan ada hak dan kewajiban bagi pemilik hak cipta dengan pemakai hak cipta.

Selain dilindungi oleh UUHC, hak cipta juga dilindungi oleh UU Nomor 19/2016 tetang perubahan atas UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau sering disingkat dengan UUITE. Suatu karya yang ditranformasikan dalam bentuk elekronik misal video, film, mp3, animasi dan bentuk dokumen elektronik lainnya dapat dilindungi oleh UUITE. Penggunaan karya hak cipta milik orang lain yang tidak sesuai dengan aturan peraturan perundang-undangan merupakan kejahatan elektronik, misal dalam hal ini adalah mengunggah kembali film milik orang lain tanpa ijin di situs web Youtube.

Pencipta atau pemegang hak cipta memiliki hak eksklusif yang meliputi hak moral dan ekonomi. Hak moral berdasarkan UUHC adalah hak yang melekat secara abadi pada diri pencipta untuk tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian ciptaannya untuk umum, menggunakan nama aliasnya atau samaran, mengubah ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat, mengubah judul dan anak judul ciptaan, dan mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi ciptaan, mutilasi ciptaan, modifikasi ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya. Sedangkan hak ekonomis adalah hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaannya, hak ekonomis pemegang hak cipta dalam hal ini untuk melakukan penerbitan ciptaan, penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya, penerjemahan ciptaan, pendistribusian ciptaan atau salinannya, pertunjukan ciptaan, pengumuman ciptaan, dan penyewaan ciptaan.

Maka setiap orang yang melakukan unggahan di Youtube dengan menggunakan hak ekonomi seseorang pencipta atau pemegang hak cipta harus mendapatkan ijin dari pemegang hak cipta atau kepada Lembaga Menejemen Kolektif terlebih dahulu. Namun dalam prakteknya youtuber-youtuber nakal sering kali melanggar ketentuan-ketentuan hukum yang di atur di UUHC tersebut, mungkin dengan alasan lebih praktis mereka tinggal mengunggah video karya orang lain tanpa dipusingkan dengan ijin dan persyaratan yang lainnya atau kemungkinan mereka tidak mengetahui aturan yang benar dalam menggunakan ciptaan orang lain.
Upaya Hukum

Berhadapan dengan hukum adalah Konsekuensi nyata yang dapat dialami oleh youtuber apabila tidak melaksanakan aturan-aturan yang berlaku di Indonesia. Melindungi hak cipta terdapat empat instrumen penegakan hukum, pertama menggunakan hukum pidana dengan menggunakan sistem peradilan pidana yang ujungnya pelanggar hak cipta dapat di pidana penjara dan/atau pidana denda, kedua penegakan hukum secara perdata hal tersebut dilakukan oleh pemegang sah hak cipta mengajukan gugatan di Pengadilan Niaga atas pelanggaran terhadap ciptaannya, ketiga penegakan hukum secara admistrasi, misal menahan barang-barang bajakan oleh bea cukai, keempat penegakan hukum melalui sarana teknologi, misal menghapus atau mematikan suara unggahan youtube yang melanggar peraturan yang berlaku melalui sistem yang disediakan oleh Youtube.

Apa bila pencipta atau pemegang hak cipta merasa terganggu dengan youtuber yang melakukan pelanggaran atas ciptaannya dapat membuat aduan kepada pihak Kepolisian, jika perbuatan tersebut termasuk tindak pidana yang diatur dalam ketentuan pidana dalam UUHC pihak kepolisian dapat memprosesnya dan pelanggar hak cipta harus mempertanggungjawabkan perbuatannya berdasarkan putusan pengadilan. Ketentuan pidana di dalam UUHC tidak main-main, sanksi yang diterapkan tergolong berat yaitu memberikan sanksi pidana penjara maksimal 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda maksimal Rp.4.000.000.000,- (empat milyar rupiah). Belum lagi youtuber nakal dapat dikenakan ketentuan pidana dalam UUITE dengan pidana penjara maksimal 8 (delapan) tahun dan/atau pidana denda Rp.2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) yang diatur dalam Pasal 48 ayat (1) UUITE.

Tidak berhenti di proses pidana, pencipta atau pemegang hak cipta juga dapat menuntut ganti rugi dengan mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Niaga. Besaran ganti rugi yang dapat dituntut adalah kerugian yang bersifat materiil maupun immateriil dan jumlahnya bisa sangat banyak. Pelanggar hak cipta harus membayar uang ganti rugi kepada pencipta atau pemegang hak cipta tersebut berdasarkan putusan Pengadilan Niaga. Selain melalui Pengadilan Niaga perkara hak cipta juga dapat diselesaikan melalui Arbitrase.

Pencipta atau pemegang hak cipta harus memiliki kesadaran hukum yang kuat untuk melindungi ciptaannya, sehingga iklim aktivitas ekonomi kreatif di Indonesia khususnya di website Youtube menjadi lebih sehat dan memberikan unsur jera kepada para youtuber nakal. Maka diharapkan youtuber-youtuber terus meningkatkan kreatifitasnya dalam membuat konten. Pentingnya youtuber untuk mempelajari mengenai perlindungan hukum terhadap ciptaanya sangat dibutuhkan untuk mengetahui langkah-langkah apa yang harus ditempuh apabila hak ciptanya telah dilanggar sehingga penegakan hukum terhadap pelanggaran hak cipta di website youtube dapat berjalan dengan baik dan pelanggaran bisa diminimalisir.

Masyarakat Indonesia khususnya para youtuber harus memiliki budaya saling menghormati ciptaan atau karya dari hasil kerja intelektual milik orang lain, para pencipta atau pemegang hak cipta sepantasnya diberikan penghargaan atas ciptaannya dengan tidak mencuri ciptaan, mengambil tanpa ijin, merusak ciptaan, mengambil keuntungan dari karya atau ciptaan tanpa ijin, mempertunjukan tanpa ijin dan perbuatan lainnya yang dapat melanggar hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta. Jadilah youtuber yang cerdas dan kreatif dengan kesadaran hukum yang baik khusunya dibidang hak cipta dan kejahatan elektronik. Pasalnya, ciptaan tersebut merupakan harta kekayaan milik pemegang hak cipta secara alamiah sehingga hak untuk pemanfaatannya dipegang penuh oleh pemegang hak cipta. Sudah sepantasnya kita sebagai manusia mengakui dan menghargai hasil kerja intelektual orang lain. (*)