Antara Jas Merah dan Nasionalis Agroforestry Ala Suhendri – KLIK SAMARINDA
Sosok

Antara Jas Merah dan Nasionalis Agroforestry Ala Suhendri

Suhendri - Foto: Captured Kompas TV

KLIKSAMARINDA – Suhendri tak tergiur. Ia menampik tawaran Rp10 miliar demi mempertahankan lahan hutan miliknya di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Padahal, Rp10 miliar bukan uang sedikit. Ada angka berderet di sana sebelas digit. Tapi angka bukan segalanya. Hendri memilih berkelit dari incaran para developer gedung dan perumahan yang ingin menyulap hutan miliknya menjadi deretan batang beton.

Godaan itu datang bertahun lalu, ketika hutan milik Hendri mulai berfaedah bagi dirinya dan warga sekitar. Pria sepuh itu kukuh mempertahankan lahan miliknya sebagai hutan penghasil oksigen bagi lingkungan sekitarnya. Ia namai hutan miliknya itu Nasionalis Agroforestry.

Itulah sekelumit kisah Hendri dalam upaya menjaga hutan buatan miliknya. Ia tinggal dalam sebuah rumah kayu bersama istrinya, Junarsa. Kehidupan mereka berdua dikelilingi landskap yang apik dari bunga dan potongan kayu yang tersusun rapi.

Junarsa

Berbagai kalimat inspiratif tampak di bagian dalam rumahnya. Jas Merah, misalnya, karya Bung Karno, tertulis di sandaran kursi milik Hendri. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, demikianlah kira-kira, kepanjangannya. Plus, foto pahlawan revolusi itu tergantung menjadi saksi kegigihan Hendri melestarikan Nasionalis Agroforestry.

Zaman dulu, hutan buatan Mbah Hendri, sapaan akrabnya itu, terletak di atas lahan seluas 1,3 hektare. Ia membelinya dengan mencicil seharga Rp100 ribu di tahun 1970-an akhir. Warga Jalan Pesut, Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, ini menanami ratusan pohon khas hutan Kalimantan di lahan itu. Dampaknya, Nasionalis Agroforestry mulai dikenal publik sejak tahun 1980-an. Mahasiswa dan dosen kehutanan kerap berdatangan. Pun, peneliti dari berbagai Negara datang untuk melakukan observasi di lahan milik Hendri.

Membuat hutan kota ini tak mudah bagi Hendri. Dengan modal Rp100 ribu, bapak dua anak ini kemudian mengubah lahan gersang bekas perkebunan kayu menjadi kawasan hutan kota yang rimbun dan asri. Tampak dari guratan wajah pria kelahiran tahun 1942 ini, keteguhan hati dalam merintis, membangun, dan mempertahankan kawasan Nasionalis Agroforestry dari godaan rupiah.

Nasionalis Agroforestry

Hendri dulu adalah buruh di perusahaan perkayuan di Kaltim. Pria asal Sukabumi, Jawa Barat ini mengaku, akibat kontrak kerjanya berakhir, ia sadar untuk mengembalikan kelestarian lingkungan yang telah rusak. Kemudian mulai mencoba menanam tanaman produktif dan sayuran di atas lahan yang sudah tidak produktif dan ditinggal oleh pengusaha. Ia menanam jagung, cabai, cempedak, kopi, teh, dan semacamnya. Selain karena berdurasi pendek dalam memanen, sayuran itu pun tergolong dapat dijual dan menjadi tambahan pendapatan keluarga. Dengan menggunakan sistem penanaman tumpang sari, usahanya menghijaukan kawasan yang sudah gundul menjadi kawasan hijau berbuah hasil.

Perlahan, Mbah Hendri menanam pohon kayu keras. Ia datangkan bibit berkualitas, seperti bibit damar, gaharu, meranti, pinus, ulin, mahoni, dan sengon. Tak kurang dari lima puluh bibit ia tanam. Kini, flora kesayangannya itu telah bertumbuh dan menjadi tempat berteduh dengan luasan mencapai 3 hektare.

Meski telah menginjak usia sepuh, Hendri masih bersetia dengan tanamannya itu. Langkah kakinya gesit layaknya anak muda ketika memelihara tanamannya. Hendri tetap kuat dan bersemangat setiap hari dengan berjalan mengelilingi Nasionalis Agroforestry. Berkat perjuangan Hendri itu, Nasionalis Agroforestry menjadi salah satu kawasan yang memperoleh penghargaan dari FCPF-CF Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) Carbon Fund Kaltim.

Mbah Hendri mengaku, penghargaan yang diterimanya bukanlah tujuan untuk mempertahankan kawasan hutan. Ia berharap agroforestry ini berkontribusi untuk ilmu pengetahuan, khususnya tentang hutan. Ikhtiar Hendri membuktikan jika di zaman kekinian, masih ada masyarakat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan di atas lahan yang pernah mengalami degradasi.

”Walaupun saya sudah mati, tetap hutannya masih ada dan bermanfaat untuk ibadahnya,” ujar pria yang menginjak usia 78 tahun ini. (Jie)