19 April 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Kisah Haru Kelahiran Cucu Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Menggunakan JKN-KIS


Kisah Haru Kelahiran Cucu Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Menggunakan JKN-KIS
Supriyanto (56), Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Samarinda.

 

KLIKSAMARINDA.COM – Manusia hanya dapat berencana, tapi Tuhan yang menetapkan. Begitulah kira-kira pepatah bijak mengatakan.

Sebulan berjalan terasa sangat lama bagi Supriyanto (56), Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Samarinda ini menanti kehadiran cucu ketiganya. Terbayang sudah tangis bayi dan ramainya keluarga berkumpul menyamput kehadiran sang jabang bayi yang dinanti-nantikan.

Itu kejadian satu tahun yang lalu. Sebulan sesaat menjelang kelahiran cucunya, Supriyanto mendapat kabar dari anaknya bahwa setelah melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan sang jabang bayi beresiko apabila lahir secara normal. Sehingga, mau tidak mau jatuh pada pilihan operasi sectio cesarea (sc), dimana hal tersebut disebabkan karena bagian leher calon bayi terlilit tali pusar.

Kondisi bayi terlilit tali pusar biasa bisa terjadi sekitar 20-30% dari kelahiran atau sekitar satu dari tiga bayi mengalami terlilit tali pusar. Tidak hanya pada bagian leher, tali pusar juga bisa melilit anggota badan bayi lainnya.

Dalam kandungan, tali pusar yang melilit bayi mungkin tidak menjadi masalah karena tali pusar mengapung dalam cairan katuban.

Namun, saat bayi akan dilahirkan dan tali pusar melilit bayi, ini mungkin bisa menjadi masalah. Tali pusar bisa melilit leher bayi dan tertekan saat bayi dilahirkan. Sehingga, hal ini kemudian bisa mengurangi oksigen dan nutrisi yang diterima bayi.

Supriyanto mengatakan anak ketiganya ini adalah peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dari segmen Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU).

“Saat anak saya hamil ia rutin memeriksakan kehamilannya di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), mulai masih janin sampai diketahui ada masalah,” ujarnya saat ditemui pada Rabu, 06 Maret 2019.

“Saat diketahui ada masalah dengan kehamilan anak saya, dokter dari FKTP merujuk ke rumah sakit Samarinda Citra Medika (SMC) untuk ditangani lebih lanjut, saat itu usia kehamilannya sudah menginjak delapan bulan,” ujar Kakek tiga cucu ini.

“Awalnya proses kelahirannya direncanakan normal, tetapi saat mengejan nafas janinnya hilang, sehingga diputuskan untuk dioperasi seksio,” imbuhnya sedih.

Beberapa jam menjalani operasi akhirnya cucu yang dinantikan lahir, namun selesai operasi kondisi sang bayi bukan tanpa masalah. Adik bayi itu harus dirawat diruangan terpisah karena memang berat badannya masih dibawah normal akibat premature sehingga perlu penagangan yang lebih intensif.

Sang ibu pun turut menjalani proses perawatan dalam beberapa hari, dan selama sang bayi menjalani perawatan di inkubator, Supriyanto terus memantau perkembangan cucunya. Menurutnya pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit sudah sangat baik.

“Saya berterimakasih sekali pada seluruh dokter dan perawat atas pelayanannya yang luar biasa dalam membantu menyelamatkan anak dan cucu saya”, ucap Supriyanto

“Semua pelayanan sejak masuk, operasi dan perawatan anak dan cucu saya semuanya gratis tidak sedikitpun mengeluarkan biaya. Selain orang tua bayinya juga didaftarkan menjadi peserta JKN-KIS, sekarangkan lebih mudah kalau sudah brojol langsung bisa jadi peserta,” ujar pria kelahiran Grobogan Jawa Tengah ini lagi.

Setelah seminggu menjalani perawatan khusus dan dokter menyatakan sehat, maka sang bayi diperkenankan untuk pulang dan menjalani rawat jalan, rasa syukur dan kebahagiaan yang tak terkira dirasakan oleh Supriyanto dan keluarga besarnya.

“Saya sendiri yang menjemput dan menyetir mobilnya mengantarnya pulang,” ceritanya bersemangat.

“Seluruh proses administrasi dilalui dengan mudah tanpa berbelit-belit, dan tidak sekalipun saya minta dilayani lebih meskipun saya kenal dengan teman-teman BPJS Kesehatan, karena kalau saya amati intinya adalah kelengkapan administrasi. Jadi kalau mau pelayanan lancar, pastikan semua adminstrasi lengkap mulai dari taat membayar iuran dan menggunakan rujukan berjenjeng,” tutupnya.(Adv)

Reporter : Humas EJ    Editor : NR Syaian



Comments

comments


Komentar: 0